DPRD Surabaya Desak Rebranding Pasar Tradisional, ‎Arif Fathoni: Harus Naik Kelas
Cak Sur May 04, 2026 09:32 PM

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan PD Pasar Surya untuk melakukan rebranding total terhadap seluruh pasar tradisional di Kota Pahlawan. Langkah ini, menyusul rencana pengucuran anggaran revitalisasi sebesar Rp 18,9 miliar yang bertujuan menghapus stigma kumuh, dan meningkatkan daya saing ekonomi kerakyatan.

Menurut politisi Partai Golkar tersebut, revitalisasi tidak boleh hanya berhenti pada perbaikan fisik bangunan. Ia menekankan pentingnya transformasi manajemen yang lebih profesional dan modern, agar pasar rakyat mampu bersaing dengan ritel modern maupun platform e-commerce yang kian dominan.

‎DENYUT NADI EKONOMI WARGA - Pedagang dan pembeli dalam sebuah aktivitas pasar tradisional di Surabaya. Tahun ini Pemkot Surabaya melakukan revitalisasi pasar tradisional agar bersih dan berdaya saing.
‎DENYUT NADI EKONOMI WARGA - Pedagang dan pembeli dalam sebuah aktivitas pasar tradisional di Surabaya. Tahun ini Pemkot Surabaya melakukan revitalisasi pasar tradisional agar bersih dan berdaya saing. (istimewa/Dokumen ‎Humas Pemkot Surabaya)

Baca juga: DPRD Surabaya Dorong Revitalisasi Pasar Tunjungan Jadi Destinasi Wisata Ikonik

Injeksi Dana Rp 18,9 Miliar untuk Ekonomi Kerakyatan

Dalam laporannya, Pemkot Surabaya telah mengajukan anggaran signifikan senilai Rp 18,9 miliar untuk membenahi infrastruktur pasar tradisional.

Arif Fathoni, yang akrab disapa Mas Thoni, mengapresiasi langkah ini sebagai bukti nyata keberpihakan pemerintah terhadap pedagang kecil.

"Tak ada lagi nanti pasar kumuh. Harus naik kelas yang berdaya saing untuk menggerakkan denyut nadi ekonomi masyarakat," tegas Mas Thoni saat memberikan keterangan kepada SURYA.co.id, Senin (4/5/2026).

Ia menambahkan, bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk memantau sejauh mana efektivitas anggaran tersebut dalam mengubah wajah pasar.

Adaptasi Digital: Belajar dari Fenomena Tanah Abang

Salah satu poin krusial yang ditekankan pimpinan dewan ini adalah adaptasi teknologi. Ia merujuk pada kesuksesan para pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta, yang mulai bangkit dengan memanfaatkan fitur live streaming di media sosial untuk menjangkau pembeli di luar wilayah.

  • Live Commerce: Pedagang didorong menggunakan platform seperti TikTok dan Instagram.
  • Kolaborasi Konten: PD Pasar Surya diminta menggandeng konten kreator untuk mempromosikan keunikan pasar tradisional.
  • Digital Payment: Penerapan QRIS dan sistem manajemen digital untuk transparansi pengelolaan.

"Pedagang sekarang harus adaptif. Tidak bisa lagi hanya menunggu pembeli datang. Harus aktif jemput bola melalui digitalisasi," imbuh legislator kelahiran Lamongan ini.

Otomasi vs Autopilot: Kritik untuk PD Pasar Surya

Mas Thoni juga melontarkan autokritik tajam kepada PD Pasar Surya. Ia menilai, pengelolaan pasar selama ini terkesan berjalan secara 'autopilot' tanpa inovasi yang berarti. Padahal, potensi pasar tradisional sangat besar, jika dikelola dengan sentuhan modernitas.

Ia membandingkan kondisi pasar resmi dengan fenomena 'pasar krempyeng' (pasar rakyat mandiri) yang justru seringkali lebih ramai dikunjungi warga. Hal ini menjadi bukti, bahwa manajemen kenyamanan dan kemudahan akses adalah kunci utama menarik minat publik.

Peningkatan SDM Pedagang dan Standar Layanan

Selain infrastruktur, aspek edukasi pedagang menjadi fokus utama DPRD. Rebranding total mencakup:

  1. Edukasi Kebersihan: Mengubah pola pikir pedagang agar menjaga lapak tetap higienis.
  2. Manajemen Usaha: Pelatihan pembukuan sederhana dan pengemasan (packaging) produk.
  3. Kualitas Layanan: Standarisasi keramahan pelayanan agar setara dengan minimarket modern.

"Jangan sampai pemkot sudah menunjukkan keberpihakan, tapi tidak ada gayung bersambut dari pengelola. PD Pasar harus proaktif meningkatkan performa pedagang," tutup Mas Thoni.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.