TRIBUNJATIM.COM – Kediri tidak hanya dikenal sebagai kota bersejarah, tetapi juga memiliki kekayaan seni tradisional yang terus hidup di tengah masyarakat, salah satunya kesenian Jaranan Kediri.
Kesenian ini menjadi warisan budaya Jawa Timur yang masih bertahan hingga kini, tidak sekadar sebagai hiburan rakyat, tetapi juga sarat nilai sejarah, mitologi, dan unsur spiritual dalam setiap pementasannya.
Lebih dari itu, Jaranan Kediri menghadirkan daya tarik magis serta jejak sejarah yang kompleks, sebagai hasil pertemuan berbagai tradisi, terutama pengaruh kuat dari Ponorogo.
Sejarah Perkembangan Jaranan Kediri
Kesenian Jaranan Kediri merupakan bentuk perkembangan dari tradisi jathilan atau kuda lumping yang mulai berkembang di wilayah Kediri sejak abad ke-19 pada masa Hindia Belanda.
Masuknya kesenian ini tidak terlepas dari pengaruh budaya Ponorogo yang dibawa oleh para warok.
Pada masa itu, banyak remaja dari Kediri dan sekitarnya yang diasuh oleh warok Ponorogo sebagai gemblak.
Hubungan sosial inilah yang kemudian menjadi salah satu akar penyebaran kesenian jathilan di Kediri.
Bahkan, istilah “bopo” yang digunakan untuk menyebut pawang dalam jaranan berasal dari sebutan kepada warok, yang dianggap sebagai sosok ayah.
Perkembangan Jaranan Kediri juga tidak lepas dari peran pujangga Jawa, Ranggawarsita.
Ia dikenal mahir memainkan jathilan dan sempat melakukan pertunjukan keliling (ngamen) di berbagai daerah, termasuk Madiun.
Kehadirannya membuat kesenian ini kembali diminati, terutama oleh para mantan gemblak yang sebelumnya sempat meninggalkan tradisi tersebut.
Seiring waktu, masyarakat Kediri mengembangkan jaranan dengan ciri khas tersendiri hingga menjadi identitas budaya lokal.
Baca juga: Mengenal Tari Terbang Bandung, Kesenian Unik Pasuruan yang Padukan Drama, Tari dan Musik Religi
Kisah Legenda di Balik Jaranan
Jaranan Kediri tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga sarat dengan cerita legenda yang berkembang di masyarakat.
Salah satu kisah yang paling populer adalah legenda Dewi Songgolangit atau Sekartaji, putri dari Kerajaan Kediri, sebagaimana dilansir dari jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id.
Dalam cerita tersebut, Dewi Songgolangit mengadakan sayembara untuk mencari pasangan hidup dengan syarat para pelamar harus mampu menciptakan kesenian yang belum pernah ada di Pulau Jawa.
Sayembara ini diikuti oleh berbagai tokoh sakti, termasuk Klana Sewandono dari Ponorogo dan Singo Barong dari Blitar.
Persaingan para pelamar kemudian berkembang menjadi konflik dan pertempuran yang digambarkan dalam pertunjukan jaranan.
Dikisahkan pula adanya iring-iringan pengantin Dewi Songgolangit menuju Wengker (Ponorogo) yang diwarnai dengan tarian, musik dari bambu dan besi, serta atraksi yang penuh dinamika.
Dalam pementasan jaranan, kisah tersebut divisualisasikan melalui tarian jaranan, lengkap dengan simbol kuda, barongan, hingga hewan liar sebagai representasi rintangan dalam perjalanan.
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Jaranan Tril Blitar, Kesenian Unik dengan Iringan Musik Non Gamelan
Makna dan Filosofi Tarian
Dilansir dari tribunnewswiki.com, Tari Jaranan Kediri menggambarkan pasukan berkuda yang berjuang melawan keangkaramurkaan.
Gerakan tari yang dinamis mencerminkan semangat perjuangan, keberanian, serta kekuatan spiritual.
Selain itu, unsur kesurupan dalam pertunjukan menjadi bagian penting yang menunjukkan hubungan antara manusia dan kekuatan gaib dalam tradisi masyarakat Jawa.
Baca juga: Reog Ponorogo, Kesenian Tradisional Sarat Unsur Magis yang Jadi Identitas Budaya Jawa Timur
Properti dan Peralatan Pertunjukan
Jaranan Kediri memiliki beragam properti dan elemen penting yang membentuk keunikan pertunjukannya.
Mengutip berbagai sumber, perlengkapan yang digunakan tidak hanya berfungsi sebagai pendukung visual, tetapi juga sarat makna simbolik.
Beberapa properti utama dalam pertunjukan ini antara lain kuda lumping yang terbuat dari anyaman bambu sebagai simbol pasukan berkuda, serta celeng atau babi hutan yang melambangkan rintangan yang dihadapi dalam perjalanan.
Selain itu, terdapat topeng barongan yang terdiri dari Singo Barong dan Barongan Kucingan, yang merepresentasikan kekuatan sekaligus unsur magis dalam cerita.
Tak hanya itu, pertunjukan juga dilengkapi dengan karakter pendukung seperti macanan dan kethek’an (monyet) yang menggambarkan hewan liar di hutan, serta sosok Bopo atau pawang yang berperan penting dalam mengendalikan jalannya pertunjukan, termasuk saat penari mengalami kesurupan.
Unsur spiritual juga hadir melalui ubo rampe atau sesajen yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi ini.
Sementara itu, iringan musik dalam Jaranan Kediri terdiri dari kendang, kenong, gong, hingga slompret yang merupakan pengaruh dari kesenian Reog Ponorogo.
Seiring perkembangan zaman, beberapa kelompok juga menambahkan instrumen seperti angklung dan saron untuk memperkaya aransemen musik.
Kombinasi antara properti, karakter, dan musik inilah yang menjadikan Jaranan Kediri tampil sebagai pertunjukan yang tidak hanya atraktif, tetapi juga sarat nilai budaya dan simbolisme.
Baca juga: Mengenal Tari Uling, Kesenian Khas Lumajang yang Terinspirasi dari Satwa Keramat di Sumbermujur
Urutan Pementasan yang Sarat Makna
Pertunjukan Jaranan Kediri memiliki tahapan pementasan yang khas dan sarat makna simbolis.
Setiap bagian tidak hanya berfungsi sebagai alur pertunjukan, tetapi juga mencerminkan unsur spiritual hingga dinamika cerita yang diangkat.
Pementasan diawali dengan buka kalangan, yakni ritual pembukaan yang dilakukan oleh Bopo atau pawang dengan membawa sesajen, membakar kemenyan, serta melecutkan pecut ke tanah sebagai tanda dimulainya pertunjukan.
Tahap ini menjadi bentuk persiapan spiritual sebelum memasuki inti pementasan.
Selanjutnya, pertunjukan berlanjut ke tarian kuda lumping sebagai simbol pasukan berkuda, diikuti tarian celeng yang menggambarkan rintangan.
Setelah itu, tampil barongan kucingan dan barongan singo barong yang memperkuat unsur dramatik sekaligus menghadirkan karakter makhluk simbolik dalam cerita.
Memasuki bagian utama, ditampilkan adegan pertarungan (rampokan) yang menjadi klimaks konflik dalam pertunjukan.
Puncak acara ditandai dengan atraksi kesurupan (ndadi atau trance), di mana penari mengalami kondisi di luar kesadaran dan melakukan aksi-aksi tertentu.
Dalam fase ini, peran pawang sangat penting untuk mengendalikan dan memulihkan penari.
Bahkan, terdapat aturan tidak tertulis bagi penonton, seperti larangan bersiul, karena diyakini dapat mengganggu konsentrasi penari dan memicu reaksi spiritual yang tidak diinginkan.
Keseluruhan tahapan tersebut menunjukkan bahwa Jaranan Kediri bukan sekadar hiburan, melainkan pertunjukan yang memadukan nilai seni, simbolisme, dan unsur spiritual yang kuat.
Baca juga: Kesenian Janger Banyuwangi, Hibrida Budaya Jawa dan Bali Karya Pedagang Sapi yang Tetap Eksis
Ciri Khas dan Perkembangan
Jaranan Kediri memiliki ciri khas yang membedakannya dari kesenian serupa di daerah lain, terutama pada unsur musik dan bentuk barongan.
Dalam perkembangannya, kesenian ini tetap berakar pada tradisi lama, namun terus beradaptasi mengikuti dinamika zaman.
Awalnya, Jaranan Kediri belum menggunakan alat musik slompret sebagai pengiring.
Namun, seiring waktu dan pengaruh dari kesenian Reog Ponorogo, unsur slompret mulai diadopsi secara bertahap untuk memperkaya iringan musik.
Adaptasi ini bahkan mengacu pada pola irama slompret dari grup reog seperti Sardulo Seto, sehingga menghadirkan nuansa pertunjukan yang lebih dinamis.
Selain dari sisi musikalitas, inovasi juga terlihat pada bentuk barongan.
Para seniman Kediri mulai menciptakan desain barongan dengan sentuhan modern, seperti bentuk mulut menyerupai huruf “M” atau simbol hati (love).
Meski mengalami pembaruan visual, unsur tradisional tetap dipertahankan agar tidak kehilangan identitas aslinya.
Dengan berbagai inovasi tersebut, Jaranan Kediri terus berkembang sebagai kesenian yang tidak hanya mencerminkan warisan budaya, tetapi juga kreativitas masyarakat.
Perpaduan antara tradisi dan pembaruan ini menjadikan Jaranan Kediri tetap relevan dan menarik di tengah perubahan zaman.
Baca juga: Mengenal Reog Kendang, Kesenian Khas Tulungagung yang Lahir dari Kisah Gemblak Pencari Jati Diri
Upaya Perlindungan Budaya
Upaya pelestarian Jaranan Kediri tidak lepas dari langkah perlindungan hukum yang pernah diupayakan pemerintah daerah.
Pada tahun 2009, Pemerintah Kabupaten Kediri mengajukan hak cipta atau paten untuk kesenian Jaranan Kediri ke Kementerian Hukum dan HAM.
Namun, permohonan tersebut ditolak pada tahun 2010. Alasannya, jaranan merupakan kesenian tradisional yang bersifat komunal dan memiliki banyak variasi di berbagai daerah, seperti Nganjuk, Blitar, dan Tulungagung.
Selain itu, properti anyaman kuda yang menjadi ciri khas juga telah lebih dahulu dipatenkan dalam kesenian Reog.
Meski tidak berhasil memperoleh hak cipta, langkah tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melindungi dan menjaga warisan budaya daerah agar tetap diakui serta tidak diklaim oleh pihak lain.
Baca juga: Mengenal Kesenian Kuda Lumping, Warisan Budaya Jawa yang Penuh Unsur Magis dan Makna Filosofis
Warisan Budaya yang Tetap Hidup
Hingga kini, Jaranan Kediri tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Tidak hanya sebagai hiburan, kesenian ini juga menjadi sarana pelestarian nilai budaya, sejarah, dan spiritualitas.
Dengan dukungan masyarakat dan seniman lokal, Jaranan Kediri diharapkan terus berkembang dan tetap lestari di tengah arus modernisasi.