SRIPOKU.COM- Pemerintah Amerika Serikat mendesak Iran untuk segera menyetujui tuntutan Presiden Donald Trump terkait program nuklir dan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai langkah menuju perdamaian di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa gencatan senjata di kawasan tersebut masih berlangsung meski konflik belum sepenuhnya berakhir.
“Ke depan, agar perdamaian benar-benar tercapai, Iran harus menyetujui tuntutan terkait program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz,” ujar Rubio dalam konferensi pers di Gedung Putih, Selasa (5/5/2026).
Ia menambahkan, AS lebih mengutamakan jalur diplomasi dibandingkan konflik berkepanjangan.
Di sisi lain, ketegangan masih terasa setelah Uni Emirat Arab melaporkan serangan drone dan rudal yang diduga berasal dari Iran selama dua hari berturut-turut.
Rubio juga berharap China dapat memainkan peran penting dalam meredakan situasi, khususnya dalam mendorong Iran membuka kembali Selat Hormuz.
“Ini juga menjadi kepentingan China agar jalur vital tersebut kembali normal,” katanya.
Sementara itu, Presiden Donald Trump menyatakan pihaknya menghentikan sementara upaya pengawalan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz guna memberi ruang bagi proses negosiasi dengan Iran.
Meski demikian, blokade terhadap pelabuhan Iran disebut masih tetap diberlakukan.
Sebelumnya, AS sempat menjalankan operasi untuk memandu kapal-kapal komersial keluar dari jalur perairan yang terdampak konflik. Namun, hingga kini baru sedikit kapal yang berhasil melintas, sementara ratusan lainnya masih tertahan di kawasan Teluk Persia.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran berdampak signifikan terhadap ekonomi global, terutama pada lonjakan harga energi karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia.
Dalam perkembangan lain, dua kapal perusak Angkatan Laut AS dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz meski mendapat serangan dari Iran berupa rudal, drone, dan kapal kecil.
Di tengah situasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa tidak ada solusi militer untuk konflik yang terjadi dan menyerukan penyelesaian melalui jalur politik.
Ketegangan antara kedua negara meningkat sejak serangan yang terjadi pada Februari 2026, yang kemudian memicu balasan dan berdampak pada penutupan Selat Hormuz.
Meski gencatan senjata telah diberlakukan sejak April 2026 melalui mediasi Pakistan, hingga kini belum tercapai kesepakatan damai yang permanen.