TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) Jakarta pada April 2026 mencapai 2,12 persen.
Kenaikan harga paling tinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, mengatakan inflasi terjadi karena kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat.
“Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 11,58 persen,” ucapnya dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (6/5/2026).
Selain itu, kenaikan juga terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,35 persen, pendidikan 2,17 persen, hingga rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,89 persen.
Kelompok transportasi juga mengalami kenaikan sebesar 1,61 persen, disusul kesehatan 1,60 persen dan restoran 1,69 persen.
BPS mencatat sejumlah komoditas memberi andil besar terhadap inflasi Jakarta.
Di antaranya emas perhiasan, daging ayam ras, angkutan udara, beras, minyak goreng, hingga tarif ojek online roda dua.
Selain itu, biaya pendidikan SD dan SMP, daging sapi, ayam goreng, tarif pulsa ponsel, kopi bubuk, parfum, hingga sewa rumah juga ikut menyumbang kenaikan inflasi.
Meski begitu, ada sejumlah komoditas yang justru menahan laju inflasi.
Beberapa di antaranya bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, kentang, tahu mentah, hingga produk kebersihan rumah tangga seperti deterjen cair dan pembersih lantai.
Secara bulanan atau month-to-month (m-to-m), inflasi Jakarta pada April 2026 tercatat sebesar 0,21 persen.
Kenaikan ini terutama dipicu tarif angkutan udara, beras, ayam goreng, minyak goreng, bensin, hingga tarif kereta api.
“Adapun komoditas yang menahan laju inflasi m-to-m antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, cabai rawit, telur ayam ras, cabai merah, bawang merah, serta sejumlah sayuran seperti bayam, kangkung, dan kacang panjang,” kata Kadarmanto.
BPS juga mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Jakarta meningkat dari 107,40 pada April 2025 menjadi 109,68 pada April 2026.
Secara keseluruhan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan di Jakarta dengan kontribusi 0,82 persen.
Disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,45 persen serta transportasi sebesar 0,22 persen.