Peserta dari 12 Negara Ikuti Human Origins Heritage yang diselengarakan UKSW
abduh imanulhaq May 06, 2026 11:11 AM

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Human Origins Heritage (HOH) sebuah program internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) kembali diselenggarakan.

Resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kealumnian Profesor Yafet Yosafet Wilben Rissy, HOH tahun ini diikuti 29 peserta dari 12 negara.

Menyambut dengan penuh sukacita seluruh peserta HOH, Profesor Yafet Rissy mengungkapkan bahwa program ini merupakan program kolaboratif yang menjunjung nilai keberagaman.

Ia berharap program ini tidak hanya memberikan pengalaman akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat, khususnya bagi warga lokal di Sangiran.

“Program ini diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi komunitas lokal,” ungkapnya dalam pembukaan HOH secara resmi awal pekan lalu.

20260506_uksw95934578
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kealumnian Profesor Yafet Yosafet Wilben Rissy saat bercengkerama dengan peserta Human Origins Heritage (HOH) saat acara pembukaan.

Dukungan internasional turut hadir melalui sambutan dari Francois Semah dari Muséum National d’Histoire Naturelle.

Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya pembelajaran lintas budaya dan refleksi kemanusiaan melalui studi masa lalu.

“Melalui program seperti ini, kita belajar memahami siapa kita sebagai manusia dan bagaimana kita dapat membangun masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.

Turut menghadiri pembukaan HOH kemarin adalah Dekan Fakultas Interdisiplin Aldi Herindra Lasso, S.Pd., M.M.Par., Ph.D., dan Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Ir. Ferry F. Karwur, M.Sc., Ph.D.

Berlangsung hingga 16 Mei mendatang, HOH diisi dengan berbagai kegiatan pelestarian kebudayaan yang melibatkan akademisi serta jejaring internasional.

Mengusung pendekatan participatory research, HOH 2026 mendorong peserta untuk tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam penelitian lapangan bersama masyarakat.

Berbagai topik seperti perubahan penggunaan lahan, persepsi publik internasional, inisiatif komunitas, hingga evolusi manusia menjadi fokus kajian dalam program ini.

20260506_uksw0006767888
Foto bersama Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kealumnian Profesor Yafet Yosafet Wilben Rissy dengan peserta Human Origins Heritage tahun ini.

Memasuki tahun ke-9 penyelenggaraannya, HOH secara konsisten melibatkan berbagai lembaga prestisius seperti Muséum National d’Histoire Naturelle (MNHN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia Heritage Agency, Erasmus, serta Sangiran International Youth Forum (SIYF).

Ke-29 peserta yang terdiri dari mahasiswa dari UKSW, Universitas Hasanuddin - Makassar, dan negara lainnya seperti Prancis, Meksiko, Brasil, Maroko, Algeria, Angola, Lituania, Argentina, Myanmar, Gambia, dan Amerika Serikat, akan melakukan serangkaian kegiatan di berbagai tempat.

Selain di Kampus UKSW Salatiga, kegiatan juga akan dilaksanakan di Sangiran Kabupaten Sragen, serta Gedongsongo di Kabupaten Semarang.

Salah satu peserta internasional, Luz Estefani Rivera Villamarín, mengaku sangat antusias mengikuti program ini.

Mahasiswa asal Meksiko tersebut menilai HOH sebagai kesempatan berharga untuk belajar langsung di situs prasejarah sekaligus berinteraksi dengan masyarakat lokal.

“Saya merasa sangat senang dan beruntung bisa berada di sini. Ini pengalaman yang istimewa, bisa belajar sekaligus mengenal budaya dan masyarakat Indonesia secara langsung,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam program ini menjadi hal yang menarik dan memberikan dampak nyata bagi pengembangan penelitian arkeologi.

Antusiasme serupa juga disampaikan oleh peserta dari Indonesia, Yulandari.

Mahasiswa Fakultas Interdisiplin UKSW ini melihat HOH sebagai ruang untuk mengembangkan perspektif, khususnya dalam bidang pariwisata berbasis masyarakat.

“Senang sekali karena bisa mendapatkan ilmu baru dan bertemu teman-teman dari berbagai latar belakang. Saya juga berharap bisa berkontribusi bagi masyarakat di Sangiran,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa program ini memberikan kesempatan untuk menggabungkan teori dengan praktik, terutama dalam memahami bagaimana pariwisata dapat berperan dalam pelestarian budaya secara berkelanjutan.

Melalui rangkaian kegiatan diskusi, presentasi, hingga kerja lapangan, peserta diharapkan mampu membangun pemahaman yang komprehensif mengenai hubungan antara manusia, budaya, dan lingkungan.

Sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), program ini turut mendukung SDGs ke-4 yaitu pendidikan berkualitas, SDGs ke-11 yaitu kota dan pemukiman yang berkelanjutan, serta SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan.

Selain itu, kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen UKSW terhadap program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita ke-4 yaitu penguatan sumber daya manusia, pendidikan, sains, teknologi, dan kesehatan.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 36 Prodi Unggul dan A.

Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah.

Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai "Creative Minority" yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW!(***)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.