Akses Perbankan Menguat, BPS Tana Tidung Soroti Stabilitas Harga dan Peran Koperasi
Junisah May 06, 2026 05:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Stabilitas ekonomi suatu daerah sangat bergantung pada kelancaran akses keuangan dan pengendalian harga di pasar. 

Di Kabupaten Tana Tidung, sinergi antara lembaga perbankan, aktifnya koperasi, serta pemantauan harga barang menjadi indikator utama dalam mengukur kesejahteraan masyarakat di Bumi Upun Taka.

Kepala BPS Tana Tidung, Achmad Sani Setiawan atau yang akrab disapa Iwan, mengungkapkan bahwa sektor keuangan daerah menunjukkan perkembangan yang positif. 

Berdasarkan data yang dihimpun BPS Tana Tidung menunjukkan akses masyarakat terhadap layanan perbankan semakin terbuka luas.

"Layanan perbankan kita terus diperkuat. Hingga tahun 2025, tercatat ada 7 unit bank yang beroperasi di Kabupaten Tana Tidung, yang terdiri dari Bank Pemerintah dan Bank Swasta. Kehadiran kantor cabang dan unit simpan pinjam ini sangat membantu perputaran uang di tingkat lokal," ujar Iwan kepada TribunKaltara.com, Rabu (6/5/2026).

Baca juga: Peran Masyarakat Kunci Sensus Ekonomi 2026, BPS Tana Tidung Sebut Jamin Kerahasiaan Data

Tak hanya perbankan, Iwan juga menyoroti peran koperasi sebagai soko guru ekonomi kerakyatan. 

Data BPS Tana Tidung menunjukkan jumlah koperasi aktif di Kabupaten Tana Tidung kini mencapai 48 unit, koperasi-koperasi ini bergerak di berbagai sektor, mulai dari jasa hingga penyediaan kebutuhan anggota.

"Koperasi kita cukup dinamis. Dari total yang ada, sebagian besar merupakan Koperasi Simpan Pinjam dan Koperasi Serba Usaha. Ini membuktikan bahwa semangat gotong royong dalam ekonomi mandiri masih sangat kuat di masyarakat kita," jelasnya.

Beralih ke persoalan harga, BPS Tana Tidung mencatatkan adanya fluktuasi pada sejumlah komoditas barang kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional Tana Tidung. 

Berdasarkan pemantauan selama tahun 2025, indeks harga konsumen di wilayah ini dipengaruhi oleh biaya logistik pengiriman barang dari luar daerah.

"Untuk harga-harga, kita melihat ada tren kestabilan pada bahan pangan utama seperti beras. Namun, untuk komoditas seperti cabai dan bawang, harganya masih sangat bergantung pada musim dan kelancaran distribusi jalur sungai maupun darat," tuturnya.

Baca juga: Persiapan Sensus Ekonomi 2026 Dimatangkan, BPS Tana Tidung Lakukan Pemutakhiran Data Usaha

Iwan merincikan bahwa rata-rata harga beras di pasaran berkisar di angka Rp 15.000 hingga Rp 17.000 per kilogram tergantung kualitasnya. 

Sementara itu, untuk komoditas protein seperti daging ayam ras berada di kisaran rata-rata Rp 45.000 hingga Rp 50.000 per kilogram.

"Perbandingannya, jika kita lihat dari tahun sebelumnya, memang ada kenaikan tipis pada biaya kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau. Hal ini linear dengan angka inflasi daerah yang kita jaga agar tetap berada di level yang wajar," tambah Iwan.

Iwan menekankan bahwa ketersediaan data perbankan dan koperasi ini sangat penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan stimulus ekonomi. 

Sementara data harga menjadi acuan bagi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga daya beli warga.

"Kami di BPS berharap akses keuangan yang semakin mudah melalui bank dan koperasi dapat mendorong UMKM kita naik kelas. Di sisi lain, stabilitas harga harus tetap menjadi prioritas agar kesejahteraan masyarakat di pelosok Tana Tidung tetap terjaga," pungkasnya.

(*)

Penulis : Rismayanti 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.