BEM UHO Kendari Desak Penanganan Serius Dugaan Pelecehan Seksual Anak Oknum TNI di Konawe Selatan
Desi Triana Aswan May 07, 2026 12:50 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Halu Oleo (BEM UHO) mendesak aparat penegak hukum menangani secara serius dugaan pelecehan seksual anak yang melibatkan oknum aparat di Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Menteri Anti Kekerasan Seksual dan Narkotika BEM UHO, Neyza Agustina Anastasya menyampaikan keprihatinan dan penyesalan mendalam atas dugaan kasus pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh oknum TNI tersebut

Menurut Neyza, peristiwa tersebut tidak hanya melukai korban, tetapi juga mencoreng nilai kemanusiaan dan rasa aman di tengah masyarakat.

“Di tengah upaya kita membangun ruang sosial yang aman dan bermartabat, kembali terjadi sebuah peristiwa yang mencoreng nilai kemanusiaan, yakni dugaan pelecehan seksual yang melibatkan oknum aparat di Ranometo,” kata Neyza, Kamis (7/5/2026).

Ia menyampaikan tindakan pelecehan seksual dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan.

Terlebih jika dilakukan oleh individu yang seharusnya menjadi pelindung dan pengayom masyarakat.

Kasus ini berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi yang memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

Baca juga: 3 Fakta Sertu MB Terduga Pelaku Pelecehan Murid SD di Konawe Selatan, Sosok, Tempat Tugas, Keluarga

“Kami sangat menyayangkan terjadinya kasus ini dan menegaskan bahwa korban harus mendapatkan perlindungan, pendampingan, serta keadilan yang layak,” ujarnya.

BEM UHO juga menilai tidak boleh ada ruang bagi pelaku untuk lolos dari tanggung jawab hukum, apalagi jika dilindungi oleh status maupun jabatan tertentu.

Karena itu, BEM UHO mendesak aparat penegak hukum agar menangani kasus tersebut secara serius, transparan, dan berkeadilan tanpa adanya intervensi.

“Proses hukum harus berjalan tanpa intervensi, serta memastikan bahwa pelaku mendapatkan sanksi yang setimpal sesuai dengan hukum yang berlaku,” tuturnya.

Selain mendesak proses hukum yang tegas, BEM UHO turut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengawal kasus tersebut agar penanganannya tidak berhenti di tengah jalan.

Kata dia, solidaritas dan kepedulian bersama sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang aman, bebas dari kekerasan seksual, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia.

“BEM UHO berkomitmen untuk terus berdiri bersama korban dan memperjuangkan keadilan, serta mendorong upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang,” jelasnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.