TRIBUNJATIM.COM - Inilah sosok bos maskapai yang potong gajinya sendiri untuk cegah PHK karyawan.
Sosok yang dimaksud adalah Haruka Nishimatsu, CEO Japan Airlines (2006-2010).
Kesederhanaan dan kepemimpinan yang rendah hati, terutama selama krisis keuangan perusahaan pada tahun 2000-an dikenang banyak orang.
Saat itu, untuk menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan, ia memotong gajinya sendiri yang bahkan lebih rendah dari gaji beberapa pilot.
Ia juga melepaskan mobil perusahaan, menggunakan bus untuk berangkat kerja, hingga makan bersama karyawan di kantin.
Selama krisis keuangan yang terjadi awal tahun 2000-an, perusahaan Japan Airlines mengalami kerugian besar.
Ketika sebagian besar eksekutif perusahaan mungkin akan melakukan PHK, CEO Japan Airlines saat itu, Haruka Nishimatsu memilih jalan lain.
Dia memotong gajinya sendiri sebesar 60 persen, menjadi hanya 90.000 dollar AS (Rp 1 miliar) untuk pemimpin salah satu maskapai penerbangan terbesar di dunia.
Nishimatsu juga melepaskan fasilitas eksekutif lainnya termasuk berangkat kerja menggunakan bus kota dan mengenakan setelan jas diskon.
Ketika jam makan siang, dia membaur dan makan bersama para stafnya di kantin perusahaan.
Alih-alih mengisolasi diri, Nishimatsu justru melepas pintu kantornya agar tetap dekat dengan karyawannya, menjadi pesan bahwa manajemen harus tetap terlihat dan bertanggung jawab.
“Kita di manajemen harus bekerja untuk orang-orang di garis depan. Merekalah yang bekerja untuk pelanggan,” kata Nishimatsu, dilansir Asian Feed (20/11/2025) via Kompas.com.
Pilihan-pilihan yang ia ambil membantu menyelamatkan lapangan kerja, menghindari PHK massal, dan meningkatkan moral karyawan saat Japan Airlines berupaya menstabilkan operasinya.
Baca juga: Kisruh PHK Massal Karyawan Pabrik Plywood Jombang, Disnaker Bakal Lakukan Supervisi Setiap Bulan
Terlepas dari upayanya tersebut, Japan Airlines mengajukan perlindungan kebangkrutan pada 19 Januari 2010, selama restrukturisasi yang didukung pemerintah.
Sebagai bagian dari perombakan tersebut, Nishimatsu mengundurkan diri.
Namun, apa yang dilakukan menjadi teladan dan simbol kuat integritas dalam budaya perusahaan Jepang.
“Jika Anda seorang pemimpin, Anda harus memberi contoh. Anda tidak bisa hanya memerintah orang lain,” demikian pernyataannya yang terkenal.