Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit hantavirus yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Yasma, mengatakan hingga saat ini belum terdapat kasus hantavirus yang terkonfirmasi di Bengkulu.
Namun, masyarakat diminta tetap waspada dan menjaga kebersihan lingkungan.
Menurut Yasma, hantavirus umumnya menyebar melalui paparan urine, kotoran, air liur, maupun sarang tikus yang terhirup bersama debu di lingkungan yang kotor dan lembap.
“Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dini terhadap potensi penyebaran hantavirus, terutama di daerah dengan kepadatan tikus tinggi, lingkungan kurang bersih, serta wilayah rawan banjir atau penumpukan sampah,” kata Yasma saat dikonfirmasi TribunBengkulu.com melalui pesan Whatsapp, Rabu (13/5/2026).
Langkah utama pencegahan hantavirus adalah menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus.
Masyarakat diimbau rutin membersihkan rumah, gudang, pasar, kebun, dan tempat penyimpanan makanan. Selain itu, warga juga diminta menghindari penumpukan sampah yang dapat menjadi sarang tikus.
Baca juga: Kasus Campak di Bengkulu Capai 19 Orang, Dinkes Belum Masuk KLB
“Lubang atau celah masuk tikus di rumah harus ditutup, makanan disimpan dalam wadah tertutup rapat, dan bila diperlukan gunakan perangkap tikus secara aman,” ujarnya.
Dinkes Bengkulu juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati saat membersihkan area yang terdapat banyak kotoran tikus.
Warga dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan ketika membersihkan gudang, loteng, maupun area kotor lainnya.
Selain itu, kotoran tikus tidak boleh langsung disapu dalam kondisi kering karena debunya dapat terhirup dan berisiko membawa virus.
“Kotoran tikus sebaiknya dibasahi terlebih dahulu menggunakan cairan disinfektan sebelum dibersihkan,” jelasnya.
Masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti rajin mencuci tangan menggunakan sabun dan menjaga sanitasi rumah maupun lingkungan sekitar.
Masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi, nyeri otot, sesak napas, sakit kepala, atau tubuh lemas setelah kontak dengan lingkungan yang banyak terdapat tikus.
“Segera periksa ke puskesmas atau rumah sakit apabila mengalami gejala demam dan sesak napas setelah kontak dengan lingkungan yang berisiko,” katanya.
Ketenangan masyarakat tetap penting dijaga. Dengan pola hidup bersih, pengendalian tikus, dan deteksi dini gejala penyakit, risiko penularan hantavirus dapat diminimalkan.
“Mari bersama menjaga kebersihan lingkungan dan mewaspadai bahaya hantavirus. Kebersihan lingkungan adalah langkah utama melindungi keluarga kita,” tutupnya.
Untuk diketahui, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan kemungkinan munculnya tambahan kasus hantavirus dalam beberapa pekan ke depan.
Itu terjadi pascaevakuasi penumpang kapal pesiar MV Hondius yang dilaporkan mengalami penyebaran wabah Hantavirus.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan masa inkubasi hantavirus yang cukup panjang membuat potensi penambahan kasus masih terbuka.
"Mengingat masa inkubasi virus yang panjang, ada kemungkinan kita akan melihat lebih banyak kasus dalam beberapa minggu mendatang," kata Tedros dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez di Istana Moncloa, Madrid, Selasa (12/5/2026).
Tedros menjelaskan, hingga saat ini telah tercatat 11 kasus yang berkaitan dengan wabah hantavirus di kapal tersebut.
Dari jumlah itu, tiga orang dilaporkan meninggal dunia.
Sebanyak sembilan kasus telah dikonfirmasi sebagai infeksi virus Andes, salah satu jenis hantavirus yang dikenal berbahaya, sementara dua kasus lainnya masih dikategorikan probable case atau kemungkinan kuat terkait hantavirus.
Meski demikian, WHO menilai risiko kesehatan masyarakat secara global masih berada pada level rendah.
"Penilaian kami tetap bahwa risiko kesehatan masyarakat global masih rendah," katanya, menambahkan bahwa saat ini "tidak ada tanda-tanda" wabah yang lebih besar.
WHO merekomendasikan seluruh penumpang yang dievakuasi dari MV Hondius menjalani pemantauan kesehatan aktif selama 42 hari sejak paparan terakhir.
Masa pemantauan tersebut berlangsung hingga 21 Juni 2026.
Pemantauan dapat dilakukan di fasilitas karantina yang telah ditunjuk maupun secara mandiri di rumah masing-masing.
WHO juga meminta setiap orang yang mulai mengalami gejala segera diisolasi dan mendapatkan penanganan medis.
"Siapa pun yang menunjukkan gejala harus diisolasi dan diobati segera," tambahnya
Satu Pasien Positif Hantavirus di Kalimantan Meninggal Dunia
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melaporkan adanya satu kasus terkonfirmasi hantavirus yang berujung pada kematian pasien.
Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, dr Harisson, mengatakan pasien tersebut sempat menjalani perawatan di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia.
Kasus itu diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen yang dikirim Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat dan telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.
“Iya, ditemukan satu kasus virus Hanta di Kalimantan Barat. Ini berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen yang dikirim oleh Dinkes Provinsi, salah satunya Kalimantan Barat,” ujar Harisson Senin, (11/5/2026), dilansir dari Tribun Pontianak.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga merilis perkembangan kasus hantavirus di Indonesia melalui kanal resmi mereka.
Dalam laporan tersebut tercatat terdapat 23 kasus hantavirus di Indonesia, dengan satu kasus berasal dari Kalimantan Barat.
Harisson menjelaskan, pasien masuk rumah sakit pada 2 Maret 2026 dalam kondisi kesehatan yang sudah sangat buruk dan meninggal dunia sehari kemudian, yakni pada 3 Maret 2026.
“Pasien datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi umum yang sangat buruk,”
“Sudah terjadi ikterik atau tubuh menguning, mengalami anuri atau tidak ada air kemih, serta demam tinggi yang sudah berlangsung selama empat hari sebelum dibawa ke rumah sakit,” jelasnya.
Menurut Harisson, penanganan kasus hantavirus di Kalimantan Barat telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur Kementerian Kesehatan dan tata laksana penyakit zoonosis.
Ia menyebut penanganan hantavirus berfokus pada deteksi dini, isolasi pasien, terapi suportif, hingga pengendalian lingkungan serta tikus sebagai sumber penularan utama.
“Penanganan virus hanta berfokus pada deteksi dini, isolasi, terapi suportif, serta pengendalian lingkungan dan tikus sebagai sumber penularan,” katanya.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, terutama menghindari makanan atau barang yang berpotensi terkontaminasi urine, liur, maupun kotoran tikus.
Harisson menjelaskan gejala umum hantavirus meliputi demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, sesak napas, hingga gangguan ginjal.
Selain itu, riwayat kontak dengan tikus atau lingkungan tercemar juga menjadi faktor penting dalam penelusuran kasus.
1. Rutin Membersihkan Lingkungan
Bersihkan rumah, gudang, pasar, kebun, dan tempat penyimpanan makanan secara rutin agar tidak menjadi sarang tikus.
2. Hindari Penumpukan Sampah
Sampah yang menumpuk dapat menarik tikus datang dan berkembang biak. Karena itu, sampah harus dibuang secara teratur.
3. Tutup Akses Masuk Tikus
Pastikan lubang maupun celah di rumah ditutup agar tikus tidak mudah masuk ke dalam rumah.
4. Simpan Makanan dalam Wadah Tertutup
Makanan yang terbuka dapat mengundang tikus. Gunakan wadah tertutup rapat untuk menyimpan bahan makanan.
5. Gunakan Perangkap Tikus dengan Aman
Bila diperlukan, masyarakat dapat menggunakan perangkap tikus secara aman untuk mengendalikan populasinya.
6. Gunakan Masker dan Sarung Tangan
Saat membersihkan gudang, loteng, atau area yang banyak kotoran tikus, gunakan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan.
7. Jangan Menyapu Kotoran Tikus dalam Keadaan Kering
Debu dari kotoran tikus yang kering dapat terhirup dan berisiko membawa virus.
8. Semprotkan Disinfektan Terlebih Dahulu
Basahi kotoran tikus menggunakan cairan disinfektan sebelum dibersihkan agar debu tidak beterbangan.
9. Terapkan PHBS
Rajin mencuci tangan menggunakan sabun dan menjaga sanitasi rumah menjadi langkah penting pencegahan penyakit.
10. Segera Periksa ke Fasilitas Kesehatan
Apabila mengalami demam tinggi, nyeri otot, sesak napas, sakit kepala, atau tubuh lemas setelah berada di lingkungan yang banyak tikus, segera periksa ke puskesmas atau rumah sakit.