Petani Plasma Sawit Sumuri Sampaikan Aspirasi ke DPRK Teluk Bintuni
Hans Arnold Kapisa May 18, 2026 05:44 PM

TRIBUNPAPUABARAT.COM, BINTUNI - Perwakilan petani plasma perkebunan kelapa sawit Kebun Varita Maju Tama, Distrik Sumuri, mendatangi DPRK Teluk Bintuni, Senin (18/5/2026).

Kedatangan para untuk menyampaikan aspirasi dan keluhan terkait persoalan yang hingga kini belum mendapat kepastian penyelesaian.

Ketua Kasindo, Edi Nasoi, menegaskan persoalan yang dialami ribuan petani sawit di Distrik Sumuri sudah berlangsung lama.

Menurutnya, hingga kini belum ada penjelasan konkret terkait sertifikat plasma maupun status pelunasan kredit kebun yang telah berjalan lebih dari 20 tahun.

“Petani hanya ingin ada kejelasan. Kredit sudah dipotong puluhan tahun, tetapi sampai sekarang belum ada kepastian soal pelunasan maupun sertifikat,” ujarnya.

Edi juga menyoroti pergantian manajemen perusahaan yang menimbulkan kebingungan.

Baca juga: Andreas Nauri Sentil Sertifikat Lahan Plasma di Distrik Sumuri: 35 Tahun Tanpa Kepastian

Ia meminta DPRK menghadirkan manajemen lama dan baru agar persoalan dapat diklarifikasi secara terbuka.

Selain itu, ia mengungkapkan aktivitas operasional kebun sawit telah berhenti selama lima bulan terakhir, sehingga berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat.

“Kami hanya ingin ada kepastian dan penyelesaian yang jelas. Ribuan petani saat ini menunggu jawaban,” tutur Edi.

Kesempata  itu, Ketua KUD Tani Makmur, Minggus, menyampaikan bahwa sejak Desember lalu petani tidak lagi menikmati hasil panen sawit akibat berhentinya operasional perusahaan. 

Ia menambahkan, kabar mengenai proses take over perusahaan memicu tuntutan hak ulayat dari masyarakat adat.

Hal senada disampaikan Ketua KUD Maju Utama, Sudiman, yang juga mengaku kondisi ekonomi masyarakat sangat memprihatinkan.

“Sudah lima bulan kami tidak ada pendapatan. Mau jual hasil kebun sayur pun susah karena akses jalan dipalang,” katanya.

Baca juga: Ketua MRPB Sambut Positif Investasi Sawit di Sumuri Teluk Bintuni

Sementara itu, Sekretaris KUD Tani Makmur, Agus Tira, menyoroti dugaan ketidakjelasan pengelolaan kredit plasma sejak awal program.

Ia menyebut potongan kredit yang dibayarkan petani bahkan melebihi nilai kredit awal.

Empat Tuntutan Utama

Dalam pertemuan tersebut, petani menyampaikan empat tuntutan utama, yaitu:

  • Kejelasan sertifikat plasma (LU II)
  • Penyelesaian hak adat pemilik hak ulayat
  • Transparansi potongan kredit kebun plasma
  • Kepastian aktivitas panen dan penjualan TBS petani plasma

Menanggapi aspirasi tersebut, anggota DPRK Teluk Bintuni, Hans Tatiorim, menyatakan persoalan kebun plasma Varita bukanlah hal baru dan sudah beberapa kali dibahas sebelumnya.

Anggota DPRK lainnya, Ro Masyewi, mengapresiasi keberanian petani menyampaikan aspirasi secara langsung.

Ia menegaskan DPRK akan menindaklanjuti persoalan ini dengan memanggil pihak terkait untuk mencari solusi bersama.

“Kami menerima aspirasi ini dan akan berdiskusi dengan pimpinan DPRK untuk mencari langkah penyelesaian. Harapan kami persoalan ini bisa segera mendapatkan jalan keluar,” ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.