Bolehkah Puasa Dzulhijjah Digabung Qadha Ramadan? Ini Penjelasan Hukumnya Menurut Ulama
Argia Melanie Pramesti May 18, 2026 10:34 PM

Grid.ID – Tepat hari ini, Senin (18/5/2026), umat Islam resmi memasuki 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah yang menjadi salah satu momen paling istimewa dalam Islam. Memasuki awal Dzulhijjah, banyak umat Muslim mulai menjalankan puasa sunnah untuk meraih keutamaan besar menjelang Hari Raya Idul Adha.

Namun di tengah semangat menjalankan puasa sunnah Dzulhijjah, muncul pertanyaan yang cukup sering dibahas setiap tahun. Banyak umat Muslim bertanya apakah puasa Dzulhijjah boleh digabung dengan puasa qadha Ramadan.

Pertanyaan ini biasanya muncul dari umat Muslim yang masih memiliki utang puasa Ramadan karena haid, sakit, perjalanan jauh, atau uzur syar’i lainnya. Di sisi lain, mereka juga ingin mendapatkan pahala besar dari puasa sunnah Dzulhijjah dan puasa Arafah.

Dalam ajaran Islam, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dikenal sebagai hari-hari yang sangat dicintai Allah SWT untuk beramal saleh. Rasulullah SAW bahkan menyebut tidak ada hari yang lebih utama untuk beribadah dibanding awal Dzulhijjah.

“Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai Allah untuk beribadah di dalamnya selain sepuluh hari pertama Dzulhijjah.”

Puasa sunnah di awal Dzulhijjah pun disebut memiliki pahala yang sangat besar. Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi, satu hari puasa di awal Dzulhijjah disebut setara dengan puasa selama satu tahun.

Selain puasa Dzulhijjah, puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah juga memiliki keutamaan luar biasa bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji. Puasa Arafah dipercaya dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.

Karena keutamaan itulah, banyak Muslim ingin tetap menjalankan puasa Dzulhijjah meski masih memiliki utang puasa Ramadan. Dalam ilmu fikih, penggabungan dua niat ibadah ini dikenal dengan istilah tasyrikun niyyah atau penggabungan niat ibadah.

Sebagian ulama membolehkan puasa qadha dilakukan bersamaan dengan puasa sunnah Dzulhijjah. Pendapat ini dijelaskan sejumlah ulama mazhab Syafi’i yang menyebut seseorang tetap bisa memperoleh keutamaan waktu Dzulhijjah meski niat utamanya adalah qadha.

“Seandainya seseorang berpuasa pada hari tersebut dengan niat qadha atau sejenisnya, maka dapatlah keduanya.”

Pendapat ini dijelaskan dalam kitab I’anatut Thalibin karya Sayyid Bakri. Artinya, seseorang yang berpuasa qadha pada tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah tetap berpeluang memperoleh pahala puasa sunnah karena dilakukan di waktu yang mulia.

Sejumlah ulama lain seperti Al-Khatib Asy-Syarbini dan Syekh Ar-Ramli juga menjelaskan hal serupa. Mereka menyebut ibadah wajib yang dilakukan pada waktu utama tetap memiliki nilai keutamaan tersendiri.

Meski demikian, ada pula ulama yang berpendapat puasa qadha dan puasa sunnah sebaiknya dipisahkan. Menurut pendapat ini, puasa qadha tetap sah dilakukan di bulan Dzulhijjah, tetapi pahala sunnah Dzulhijjah tidak diperoleh secara sempurna.

Pendapat tersebut menekankan bahwa ibadah wajib sebaiknya lebih diutamakan dibanding ibadah sunnah. Karena itu, sebagian ulama menganjurkan umat Muslim segera melunasi utang puasa Ramadan terlebih dahulu.

Mayoritas ulama memang sepakat bahwa qadha puasa Ramadan merupakan kewajiban yang lebih utama untuk diselesaikan. Apalagi, utang puasa tidak boleh ditunda tanpa alasan yang jelas hingga datang Ramadan berikutnya.

Namun jika bulan Dzulhijjah sudah tiba sementara qadha belum selesai, sebagian ulama membolehkan niat qadha dilakukan pada hari-hari Dzulhijjah. Dengan begitu, seseorang tetap dapat menjalankan kewajiban sekaligus berharap keberkahan waktu istimewa tersebut.

Pertanyaan serupa juga sering muncul terkait puasa Arafah yang jatuh pada 9 Dzulhijjah. Sebagian ulama membolehkan niat qadha puasa Ramadan dilakukan pada hari Arafah sambil berharap mendapatkan keutamaan puasa Arafah.

Meski terdapat perbedaan pendapat, para ulama tetap sepakat bahwa mengqadha puasa Ramadan adalah ibadah yang sangat penting. Karena itu, umat Islam dianjurkan tetap memprioritaskan kewajiban sambil memperbanyak amal saleh selama bulan Dzulhijjah.

Selain puasa, umat Muslim juga dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, sedekah, membaca Al Quran, dan memperbanyak doa selama 10 hari pertama Dzulhijjah. Momen ini menjadi kesempatan terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT menjelang Hari Raya Idul Adha.

Perbedaan pendapat soal penggabungan puasa qadha dan puasa Dzulhijjah pun menunjukkan luasnya khazanah fikih Islam. Umat Muslim diharapkan dapat menyikapi perbedaan tersebut dengan bijak tanpa saling menyalahkan satu sama lain.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.