Masyarakat Yapen di Papua yang Menitipkan Harapan pada Kakao
Fandi Wattimena May 20, 2026 11:52 AM

Berkat kakao di kebun-kebun kecil, masyarakat lokal mulai melihat bahwa kampung mereka memiliki nilai yang dicari dunia.

Bahkan, di saat banyak daerah masih bergantung pada transfer anggaran dan aktivitas ekonomi konsumtif, Yapen mulai memperlihatkan arah berbeda bahwa pembangunan juga dapat tumbuh dari hasil bumi yang dikelola secara serius, berkelanjutan, dan berbasis masyarakat.

Sementara di banyak kampung di Papua, masa depan sering tumbuh dari hal-hal yang sederhana. Dari tanah yang subur, tangan petani yang tekun, dan tanaman yang selama bertahun-tahun hidup, tanpa banyak sorotan.

Di tengah hutan tropis dan bentang alam Kepulauan Yapen yang tenang, faktanya kakao perlahan kembali menemukan maknanya bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan harapan tentang bagaimana sebuah daerah bisa berdiri dengan kekuatannya sendiri.

Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, sekaligus peneliti kebijakan ekonomi di Politeknik Negeri Batam Billy Mambrasar, bersama Wakil Bupati Kepulauan Yapen Roy Palunga menyaksikan sendiri bagaimana Kampung Konti Unai, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, mulai bangkit dari kakao.

Keduanya berkunjung untuk menyaksikan bagaimana masyarakat membangun daerahnya melalui pengembangan kakao sebagai komoditas unggulan daerah.

Dari kampung itu, sebanyak tiga kilogram sampel kakao kemudian dikumpulkan untuk dikirimkan kepada tiga perusahaan calon pembeli asal Eropa.

Sampel tersebut dibawa ke Jakarta untuk menjalani studi lanjutan, sebelum difinalisasi dalam bentuk kerja sama pembelian kakao bersama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen.

Langkah kecil itu sebenarnya menyimpan pesan besar. Selama ini, Papua sering dibicarakan dalam konteks sumber daya alam skala besar, seperti tambang, kayu, atau energi.

Padahal di tingkat kampung, terdapat potensi ekonomi rakyat yang jauh lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari dan memiliki dampak sosial yang luas. Kakao menjadi salah satu contohnya.

Produk unggulan

Billy Mambrasar menjelaskan bahwa pengembangan komoditas unggulan daerah, seperti kakao, sejalan dengan Export Base Theory yang diperkenalkan ekonom Douglas North.

Dalam teori tersebut, daerah yang mampu menghasilkan dan menjual produk unggulan ke luar daerah maupun pasar internasional akan menciptakan pertumbuhan ekonomi baru, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat pendapatan asli daerah.

Papua memerlukan hal-hal demikian. Mengingat selama bertahun-tahun, tantangan pembangunan di Papua tidak hanya soal keterbatasan infrastruktur, tetapi juga bagaimana menciptakan ekonomi lokal yang benar-benar hidup dan mampu memberi ruang bagi masyarakat untuk tumbuh secara mandiri.

Dalam hal itu, kakao bukan hanya hasil perkebunan, melainkan instrumen pembangunan sosial.

Di Kampung Konti Unai sendiri, terdapat sekitar 200 hektare lahan kakao yang dikelola kurang lebih 150 petani Orang Asli Papua. Jika digabungkan dengan sejumlah kampung lain di Kepulauan Yapen, total luas lahan kakao diperkirakan mencapai sekitar 900 hektare.

Angka tersebut menunjukkan bahwa sektor ini bukan usaha kecil yang berdiri sendiri, melainkan sudah menjadi bagian penting dari denyut ekonomi masyarakat.

Potensi ekonominya pun tidak kecil. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan dan Badan Pusat Statistik, produktivitas kakao nasional berada pada kisaran 700 kilogram, hingga 1 ton per hektare per tahun.

Dengan asumsi konservatif sebesar 1 ton per hektare, maka Kepulauan Yapen berpotensi menghasilkan sekitar 900 ton kakao per tahun.

Di tengah harga kakao dunia yang saat ini berkisar Rp120 juta hingga Rp130 juta per ton, nilai ekonomi kakao Yapen diperkirakan dapat mencapai lebih dari Rp108 miliar per tahun.

Bagi sebagian daerah maju, angka itu mungkin terlihat biasa. Namun, bagi wilayah kepulauan yang selama ini menghadapi tantangan akses pasar, logistik, dan pembangunan ekonomi, potensi tersebut sangat berarti.

Hal yang menarik, pembahasan tentang kakao Yapen tidak berhenti pada angka dan potensi keuntungan semata. Di balik itu, terdapat pembicaraan yang jauh lebih penting mengenai arah pembangunan daerah.

Sumber ekonomi lokal

Billy Mambrasar menegaskan bahwa daerah tidak boleh hanya bergantung pada transfer anggaran dari pusat. Daerah juga harus mampu membangun ekonomi produktif yang membuka lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hal itu terasa penting karena sering kali pembangunan daerah terjebak dalam pola ketergantungan fiskal. Anggaran menjadi pusat perhatian, sementara penguatan sektor produktif masyarakat berjalan lambat.

Padahal, pembangunan yang kuat biasanya lahir ketika masyarakat memiliki sumber ekonomi yang tumbuh dari wilayahnya sendiri.

Di banyak negara penghasil kakao dunia, komoditas ini tidak hanya menjadi sumber devisa, tetapi juga menjadi alat transformasi sosial.

Ketika rantai produksi diperkuat, kualitas ditingkatkan, dan akses pasar dibuka, maka dampaknya bisa meluas ke pendidikan keluarga, kesehatan masyarakat, hingga pertumbuhan usaha kecil di sekitar sentra perkebunan.

Papua, sesungguhnya memiliki peluang besar menuju arah itu. Apalagi keberhasilan Kabupaten Manokwari Selatan yang lebih dahulu mengembangkan ekspor kakao ke pasar Eropa.

Artinya, pasar internasional bukan sesuatu yang mustahil dijangkau oleh daerah-daerah di Tanah Papua. Hal yang diperlukan adalah konsistensi pembinaan, peningkatan kualitas produksi, penguatan kelembagaan petani, dan keberanian membangun rantai ekonomi yang berkelanjutan.

Maka, dukungan terhadap program GERBANG KAYA atau Gerakan Membangun Kembali Kakao Yapen pun menjadi penting.

Program yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen tersebut diharapkan mampu memperkuat sektor perkebunan kakao sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat, sekaligus meningkatkan kesejahteraan Orang Asli Papua.

Lebih dari itu, kebangkitan kakao Yapen sebenarnya menghadirkan pelajaran penting tentang masa depan pembangunan Indonesia.

Bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar dan investasi raksasa. Kadang hal itu tumbuh dari kampung-kampung kecil yang perlahan menemukan potensi terbaiknya sendiri.

Ketika petani lokal mulai terhubung dengan pasar global, ketika hasil bumi kampung mulai dihargai dunia, dan ketika masyarakat mulai percaya bahwa tanah mereka memiliki masa depan, di situlah pembangunan yang sesungguhnya sedang terjadi.

Bukan pembangunan yang hanya terlihat dalam angka statistik, tetapi pembangunan yang memberi rasa percaya diri kepada masyarakat bahwa mereka juga mampu menjadi bagian penting dari ekonomi yang lebih besar.

Kakao Yapen mungkin baru berada di awal perjalanan panjangnya. Namun, dari tanah Papua itu, muncul sebuah pesan yang kuat bahwa harapan sering tumbuh dari akar yang selama ini, bahkan tidak pernah terlihat. (*)

 


ANTARA/ Hanni Sofia / Rabu 22 April 2026

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.