Si Bule Jadi Tontonan Warga, Kisah Rio Merawat Sapi Jumbo Hingga Terpilih untuk Kurban Presiden
M Iqbal May 20, 2026 10:22 PM

Sapi kurban bantuan Presiden Prabowo yang mewakili Provinsi Riau bukan sekadar hewan ternak biasa. Di balik tubuhnya yang jumbo dan bulunya yang cokelat kemerahan mengkilap, ada tiga tahun keringat, cinta, dan keyakinan seorang pemuda dari pedalaman Indragiri Hulu.

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Di kandang sederhana yang ada di Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, suasana mendadak berubah ramai dalam beberapa pekan terakhir. Warga datang silih berganti. Ada yang sekadar ingin melihat, ada pula yang mengabadikan lewat kamera ponsel. 

Semua penasaran dengan sosok “Si Bule”, sapi jumbo berbobot fantastis yang kini viral setelah terpilih menjadi hewan kurban bantuan Presiden RI, Prabowo Subianto, untuk Provinsi Riau.

Si Bule merupakan sapi jantan jenis Simental dengan bobot fantastis mencapai 1 ton 13 kilogram. 

Dari kejauhan, tubuh besar dan gempal sapi itu langsung mencuri perhatian. Dengan warna dominan cokelat kemerahan di bagian tubuh utama, dan krem/putih kekuningan di bagian kaki, perut bawah, dan kepala. 

Postur tubuhnya luar biasa padat dan berotot, punggungnya lebar, perutnya bulat penuh, dadanya bidang. Tingginya hampir setara bahu pria dewasa.

Ukurannya jauh lebih besar dibanding sapi pada umumnya ini menjadi magnet tersendiri bagi Bule. Tak heran jika sapi yang satu ini selalu jadi tontonan warga.

Namun di balik ramainya perhatian itu, ada kegelisahan yang dirasakan sang pemilik, Franto Kukuh Sulahirio atau akrab disapa Rio.

Pria 33 tahun itu kini harus ekstra hati-hati menjaga sapi kesayangannya. Bagi Rio, Si Bule bukan sekadar ternak bernilai tinggi, melainkan hasil dari perjalanan panjang, kerja keras, dan kesabaran selama bertahun-tahun.

“Sekarang kami batasi dulu yang mau lihat dari dekat. Takut ada bakteri atau penyakit yang terbawa dari luar,” ujar Rio.

Karena itu, Rio memasang kamera pengawas atau CCTV di sekitar kandang untuk memantau aktivitas pengunjung. Warga tetap diperbolehkan melihat dari kejauhan, bahkan Rio kerap menunjukkan video Si Bule melalui telepon genggamnya kepada warga yang penasaran.

Kalaupun ada yang benar-benar ingin melihat lebih dekat, Rio menerapkan aturan ketat. Pengunjung harus steril dan disemprot cairan disinfektan terlebih dahulu sebelum mendekat ke kandang.

“Ini masih tanggung jawab kami menjaga dia sampai nanti dikirim ke lokasi pemotongan,” katanya.

Bagi Rio, terpilihnya Si Bule sebagai sapi kurban bantuan presiden menjadi kebanggaan terbesar dalam hidupnya sebagai peternak.

“Alhamdulillah bangganya luar biasa. Saya tidak menyangka bisa sampai di titik ini,” ucapnya dengan mata berbinar.

Ia bercerita, perjalanan menjadi peternak tidaklah instan. Rio mulai serius menekuni dunia peternakan sejak 2019. Darah peternak sebenarnya sudah mengalir dari keluarganya. Orang tuanya lebih dulu memelihara sapi secara tradisional.

“Ilmu dari orang tua tetap saya pakai, tapi saya kombinasikan dengan ilmu modern,” katanya.

Dari situlah lahir pola perawatan yang menurut Rio menjadi kunci pertumbuhan Si Bule.

Setiap hari, sapi-sapi miliknya mendapat perhatian layaknya anggota keluarga sendiri. Rio mengaku memperlakukan Si Bule seperti anak.

“Kalau kita senang merawatnya, insya Allah hasilnya juga bagus,” ujarnya.

Perawatan Si Bule dilakukan sangat detail. Selain diberi rumput segar, sapi jumbo itu juga mendapatkan tambahan konsentrat, vitamin, dan suplemen khusus untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatannya.

Kebersihan kandang menjadi perhatian utama. Sebelum masuk kandang, kaki sapi terlebih dahulu dicuci agar bakteri dari luar tidak terbawa masuk. Suhu kandang juga dijaga menggunakan kipas angin agar sapi tidak stres akibat cuaca panas.

Rio juga masih mempertahankan metode tradisional yang diajarkan orang tuanya, yakni rutin menjemur sapi di bawah sinar matahari pagi.

Menurutnya, sinar matahari pagi baik untuk kesehatan kulit sapi dan membantu mencegah penyakit.

“Biasanya dijemur seminggu dua sampai tiga kali. Tapi tidak boleh terlalu lama, nanti dia stres kalau kepanasan,” jelasnya.

Penjemuran dilakukan sekitar pukul 09.00 hingga 11.00 WIB, dengan durasi satu hingga tiga jam. Setelah itu sapi kembali dimandikan dan diistirahatkan di kandang yang sejuk.

Kerja keras selama tiga tahun itu kini berbuah manis. Si Bule berhasil menarik perhatian hingga akhirnya terpilih menjadi sapi kurban presiden untuk mewakili Riau.

Meski begitu, Rio belum ingin cepat puas. Di kandangnya, masih ada tujuh sapi jumbo lain yang sedang dipersiapkan.

“Mudah-mudahan tahun depan bisa terpilih lagi. Masih ada tujuh ekor besar yang sedang kami rawat,” katanya optimistis.

Kini, setiap sore kandang Rio masih ramai didatangi warga. Anak-anak hingga orang dewasa rela datang hanya untuk melihat sekilas Si Bule, sapi jumbo yang mendadak menjadi “artis” kampung itu.

Sementara Rio tetap mengawasi di dekat kandang, memastikan satu hal penting, Si Bule tetap sehat sampai hari pengiriman tiba.

Siap Bule, Sapi kurban bantuan Presiden Prabowo ini nanti akan dipotong di Mushalla Rumah Suluk Syekh Oesman Syahabuddin di Kabupaten Rokan Hilir. 

"Untuk sapi Presiden Prabowo yang mewakili Provinsi Riau sudah kami tetapkan akan diserahkan ke Mushalla Rumah Suluk Syekh Oesman Syahabuddin, Kabupaten Rokan Hilir. Mudah-mudahan bermanfaat bagi masyarakat di sekitar lokasi mushalla," kata Plt Gubernur Riau (Gubri), SF Hariyanto, mengonfirmasi langsung titik penyaluran bantuan sapi presiden ini pada Senin (18/5/2026).

Pada Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi tahun ini Provinsi Riau menerima sebanyak 14 ekor sapi kurban bantuan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Bantuan tersebut diperuntukan untuk 12 kabupaten/kota masing-masing satu ekor, kemudian satu ekor untuk tokoh masyarakat dan satu ekor lagi untuk provinsi Riau.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Riau, Mimi Yuliani Nazir mengatakan, penetapan sapi kurban bantuan presiden dilakukan melalui proses seleksi ketat. 

Sebelum ditetapkan pemerintah pusat, Pemprov Riau lebih dulu mengusulkan sapi-sapi terbaik hasil seleksi dari seluruh kabupaten/kota.

Menurut Mimi, kriteria utama yang diajukan adalah sapi dengan bobot hidup terbesar di masing-masing daerah.

“Untuk bantuan Presiden tingkat provinsi, yang diusulkan adalah sapi dengan bobot paling berat dari seluruh kabupaten/kota di Riau. Sedangkan untuk kabupaten/kota, dipilih sapi terberat di daerah masing-masing sesuai arahan Sekretariat Presiden dan Ditjen PKH,” ujarnya.

Setelah pengusulan dilakukan, tim dari pemerintah pusat kemudian melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi sapi sesuai dengan data yang disampaikan.

Hasil verifikasi menunjukkan sapi-sapi tersebut dinilai layak dan memenuhi syarat sebagai hewan kurban bantuan Presiden di Riau.

Mimi menegaskan, penilaian tidak hanya melihat ukuran dan bobot sapi, tetapi juga kondisi kesehatan, kelayakan fisik, hingga kesiapan distribusi ke daerah tujuan.

“Tidak hanya besar, sapi juga harus sehat dan memenuhi standar sebagai hewan kurban Presiden,” tegasnya.

Program bantuan sapi kurban Presiden ini rutin dilaksanakan setiap Idul Adha. Selain membantu masyarakat, program tersebut juga diharapkan mampu memotivasi peternak lokal untuk terus meningkatkan kualitas ternak mereka.

(Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.