Di banyak negara maju yang indeks kebahagiaannya tinggi, seperti di Skandinavia, remaja diajarkan sejak sekolah untuk melakukan metode tootling atau melaporkan kebaikan teman dalam bentuk apapun setiap hari
Jakarta (ANTARA) - Health Collaborative Center (HCC) melanjutkan implementasi intervensi psikososial berbasis sekolah melalui Program Cek Teman Sebelah 3.0 di lingkungan SMA sebagai bagian dari upaya memperkuat empati, kepedulian sosial, dan ketahanan kesehatan mental remaja Indonesia.
Pendiri dan Ketua HCC Ray Wagiu Basrowi di Jakarta, Kamis, mengatakan program yang dijalankan di empat sekolah yaitu SMKN 68, SMK Bina Dharma, MAN 15, dan MAN 24 di wilayah binaan Puskesmas Ciracas ini dikembangkan sebagai sebuah eksperimen sosial berbasis sekolah yang mendorong siswa untuk lebih aktif memperhatikan kondisi emosional dan psikososial teman di sekitarnya.
“Di banyak negara maju yang indeks kebahagiaannya tinggi, seperti di Skandinavia, remaja diajarkan sejak sekolah untuk melakukan metode tootling atau melaporkan kebaikan teman dalam bentuk apapun setiap hari. Dan ini sudah dibuktikan HCC lewat studi di beberapa SMA bahwa empati remaja yang melakukan metode tootling itu meningkat hingga lima kali lipat," katanya.
Hal ini, katanya, memotivasi HCC untuk mengimplementasikan ini secara lebih luas. Dia menjelaskan bahwa orientasi pembentukan empati remaja bisa dilakukan dengan sederhana, yaitu fokus menyebarkan kebaikan teman.
Program Cek Teman Sebelah yang dipimpin oleh Koordinator Projek Bunga Pelangi MKM ini mengajak siswa melakukan aksi sederhana selama beberapa hari, mulai dari memperhatikan perubahan perilaku teman, membuka percakapan yang suportif, hingga melaporkan tindakan kebaikan yang dilakukan teman sebaya.
Menurut Ray, pendekatan ini penting karena berbagai studi menunjukkan bahwa dukungan sosial sebaya memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental remaja, termasuk dalam menurunkan risiko stres psikologis, depresi, hingga perilaku menyakiti diri.
“Kadang intervensi kesehatan mental paling sederhana bukan langsung terapi, tetapi kehadiran manusia lain yang benar-benar peduli,” katanya.
HCC menilai sekolah bukan hanya ruang akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter sosial dan emosional generasi muda. Karena itu penguatan empati dan solidaritas antar-remaja menjadi bagian penting dalam membangun kesehatan masyarakat jangka panjang.
Program ini juga hadir di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap fenomena isolasi sosial pada anak muda, cyberbullying, tekanan sosial digital, hingga menurunnya kualitas interaksi langsung antarteman.
Melalui pendekatan yang ringan dan dekat dengan keseharian remaja, pihaknya berharap Program Cek Teman Sebelah dapat menjadi gerakan sederhana, namun berdampak besar dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih suportif, aman, dan manusiawi.
"Ke depan, HCC berencana memperluas implementasi program ini ke lebih banyak sekolah dan komunitas remaja di Indonesia sebagai bagian dari gerakan promotif kesehatan mental berbasis empati sosial," katanya.





