TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Pengendara dari mobil Toyota Fortuner, Nasrul, mengaku harus beralih ke biosolar, usai bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi Dexlite dan Pertamina Dex melonjak naik.
Kenaikan harga BBM non-subsidi resmi diberlakukan sejak 18 April 2026 lalu, yang kemudian disusul oleh penyesuaian harga yang jauh lebih tinggi lagi pada 4 Mei 2026.
Berdasarkan penyesuaian terbaru tersebut, harga Pertamax Turbo kini naik menjadi Rp20.750 per liter dari harga sebelumnya yang berada di angka Rp 20.250 per liter.
Kenaikan yang cukup signifikan juga terjadi pada Dexlite yang kini menyentuh Rp27.150 per liter setelah sebelumnya dijual seharga Rp24.650 per liter.
Baca juga: Biosolar Langka di Padang, Syamsuis: Sudah Tiga Jam Saya Menunggu, Antrean Masih Panjang
Sementara itu, lonjakan tertinggi dialami oleh Pertamina DEX yang kini dibanderol seharga Rp29.100 per liter, mengalami kenaikan drastis dari harga sebelumnya yang hanya Rp24.950 per liter.
Dengan kenaikan ini, Nasrul rela mengantre untuk pembelian biosolar hingga terjebak selama 1 jam di SPBU Sawahan, pada Kamis (21/5/2026).
Kata dia, perjalanannya dari Padang ke Pekanbaru harus tertunda, usai terjebak saat pengisian biosolar.
Meski begitu, tak ada upaya lain yang dapat dilakukan Nasrul, karena Dexlite dan Pertamina Dex juga mahal, sehingga ia harus berpikir dua kali membelinya.
"Saya sudah 1 jam antre di sini, bagaimana lagi, nanti tidak bisa pergi ke Pekanbaru. Kalau beli Dexlite dan Pertamina Dex sebenarnya bisa, cuma harus berpikir dua kali, harganya mahal, kalau tidak mendesak lebih baik antre saja," kata dia memberikan keterangan.
Baca juga: Sempat Batuk dan Tak Nafsu Makan, Jemaah Haji Berusia 81 Tahun Asal Pessel Wafat di Makkah
Kondisi ini kata Nasrul juga terjadi di sejumlah SPBU daerah lainnya. Bahkan di provinsi Riau, pengendara juga mengeluh dalam mendapatkan BBM biosolar.
Pengalamannya dalam membeli biosolar juga sama, harus antre berjam-jam agar bisa mendapatkan BBM tersebut.
Jika tidak kuat iman, terkadang Nasrul beralih ke pengisian Dexlite. Meski harganya melonjak drastis, ia tetap membeli, karena tidak ada pilihan lain.
"Memang mahal, kadang saya terpaksa beli, kalau tidak kuat antre lama-lama, apalagi kalau kebutuhan mendesak," tambahnya.
Melihat kondisi saat ini, ia mengaku harus bersabar. Hanya saja, terkadang Nasrul merasa kasihan kepada pengendara lain.
Terlebih bagi para sopir yang membawa muatan barang untuk diantarkan ke daerah lain dan mengonsumsi banyak BBM.
"Saya kadang kasihan ke pengendara truk-truk, karena harus antre berjam-jam, perjalanannya terganggu dan barang yang dibawa lama sampai di lokasi tujuan," tambahnya.(*)