Tragis! Bocah 12 Tahun di Singkawang Kritis Dihantam Palu Teman Sebaya, Tempurung Kepala Pecah
Rivaldi Ade Musliadi May 22, 2026 04:32 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Nasib pilu menimpa Wesley (12), seorang siswa kelas satu SMP Negeri 2 Singkawang. Bocah malang ini kini hanya bisa terbaring lemah di ruang perawatan RSUD Abdul Aziz Singkawang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Wesley diduga menjadi korban penganiayaan brutal oleh rekan sebayanya menggunakan sebuah palu. 

Akibat hantaman benda tumpul tersebut, Wesley mengalami luka sangat serius pada bagian vital yang mengancam masa depannya.

Kronologi Bermula dari Game

Ibu korban, Chinusha (38), menceritakan bahwa peristiwa memilukan ini berawal dari masalah sepele saat anak-anak tersebut bermain game bersama. 

Pelaku diduga tidak terima dan menyimpan dendam setelah merasa kalah dalam permainan.

"Pelaku marah karena merasa tersentuh oleh anak saya saat main. Sejak itu, dia sering mengajak berkelahi, tapi anak saya tidak pernah meladeni karena mereka berteman baik," ujar Chinusha dengan nada bergetar saat ditemui TribunPontianak.co.id, Jumat 22 Mei 2026.

• KBO Satresnarkoba Hadiri Pemusnahan Barang Bukti Perkara Inkracht di Kejari Singkawang

Puncaknya terjadi pada Jumat pekan lalu di kawasan Jalan KS Tubun. 

Saat Wesley sedang asyik bermain di rumah temannya, pelaku tiba-tiba datang dan melayangkan pukulan palu tepat ke arah kepala korban.

"Anak saya langsung kejang-kejang di lokasi setelah dipukul," kenang sang ibu sambil menahan tangis.

Kondisi Memilukan: Tengkorak Pecah dan Kaki Lumpuh

Dampak dari penganiayaan tersebut sangat fatal. 

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Wesley mengalami pecah pada bagian tengkorak kepala. 

Tak hanya itu, trauma pada syaraf membuat kondisi fisiknya berubah drastis.

Hingga saat ini, Wesley masih harus menjalani perawatan intensif. Tim medis menyebutkan korban memerlukan penanganan jangka panjang, termasuk operasi lanjutan untuk pemasangan tempurung kepala.

"Kondisinya sangat memilukan. Selain luka di kepala, salah satu kakinya sekarang belum bisa digerakkan secara normal," ungkap Chinusha.

Keluarga Berharap Tanggung Jawab

Di tengah penderitaan sang anak, keluarga Wesley juga harus menghadapi himpitan ekonomi. 

Sebagai keluarga kurang mampu, mereka kini bergantung pada fasilitas BPJS Kesehatan untuk membiayai pengobatan yang sangat mahal.

Chinusha menegaskan bahwa pihak keluarga telah melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. 

Namun, di balik proses hukum yang berjalan, ia sangat mengharapkan adanya itikad baik dan tanggung jawab dari keluarga pelaku.

"Kami orang susah, perjalanan pengobatan Wesley masih sangat panjang. Kami tidak dendam, kami hanya ingin ada tanggung jawab agar anak kami bisa sembuh dan sekolah lagi," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.