Ekonom Awalil Rizky Beber Data Defisit Neraca Pembayaran RI Kuartal I 2026, Terparah Selama 2 Dekade
Juang Naibaho May 30, 2026 09:54 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Ekonom Bright Institute Awalil Rizky menilai kondisi transaksi internasional Indonesia tidak sebaik klaim Bank Indonesia (BI) yang menyebut Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2026 tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

Menurut Awalil, NPI justru mencatat defisit sebesar 9,15 miliar dollar AS pada triwulan I-2026.

Nilai tersebut disebut menjadi defisit triwulan pertama terdalam selama dua dekade terakhir. 

Bahkan defisit NPI pada kuartal I-2026 sudah melampai defisit sepanjang 2025 yang sebesar 7,84 miliar dollar AS. 

“Sulit dipungkiri kondisi umum NPI atau transaksi internasional Indonesia memburuk, termasuk beberapa komponen utamanya,” kata Awalil dalam analisis tertulisnya, dikutip Sabtu (30/5/2026) dikutip dari Kompas.com. 

Ia menjelaskan, NPI merupakan catatan seluruh transaksi internasional antara penduduk Indonesia dan pihak luar negeri. Dalam neraca tersebut terdapat transaksi penerimaan dan pembayaran.

Menurutnya, jika penerimaan lebih besar dibanding pembayaran, maka NPI mencatat surplus yang akan menambah cadangan devisa. Sebaliknya, apabila pembayaran lebih besar, kondisi tersebut disebut defisit. 

Baca juga: PEJABAT Pemkab Pandeglang yang Tabrak Bocah SD Hingga Tewas Malah Diangkat Jadi Staf Ahli Bupati

Awalil menilai kondisi kuartal I-2026 patut diwaspadai karena nilai defisitnya sudah melampaui sebagian besar defisit tahunan yang pernah terjadi sebelumnya. 

Ia mencatat, sepanjang periode 1999-2024 Indonesia lebih sering mencatat surplus NPI, yakni sebanyak 18 kali, dibanding defisit sebanyak tujuh kali. 

Namun, kondisi berubah sejak 2025 yang kembali mencatat defisit dan berpotensi berlanjut lebih dalam pada 2026. 

Salah satu komponen utama yang disoroti ialah transaksi berjalan atau current account yang mencatat perdagangan barang dan jasa. 

Pada kuartal I-2026, transaksi berjalan tercatat defisit sebesar 4,01 miliar dollar AS.

Menurut Awalil, angka tersebut menjadi defisit triwulan pertama terbesar dalam tujuh tahun terakhir. 

“Bank Indonesia menilai defisit transaksi berjalan tetap rendah di tengah perlambatan ekonomi global. Padahal, kondisinya defisit terlebar triwulan satu selama 2020-2026,” ujarnya. 

Awalil juga menyoroti membengkaknya defisit pada neraca pendapatan primer yang mencapai 9,15 miliar dollar AS pada triwulan I-2026. 

Defisit tersebut terutama dipicu meningkatnya pembayaran bunga dan dividen kepada investor asing yang beroperasi di Indonesia. 

Ia memperkirakan defisit pendapatan primer sepanjang 2026 dapat mencapai kisaran 36 miliar dollar AS hingga 38 miliar dollar AS. 

Selain itu, neraca jasa-jasa juga masih mencatat defisit sebesar 4,58 miliar dollar AS pada triwulan pertama tahun ini. 

Di sisi lain, transaksi finansial Indonesia juga dinilai mengalami pelemahan. 

Pada triwulan I-2026, transaksi finansial tercatat defisit sebesar 4,93 miliar dollar AS. 

Menurut Awalil, nilai tersebut merupakan defisit transaksi finansial triwulan pertama terdalam selama ini, padahal secara historis transaksi finansial Indonesia lebih sering mencatat surplus. 

“Kondisi neraca transaksi finansial yang defisit pada 2025 dan berlanjut pada triwulan I-2026 perlu diwaspadai,” katanya. 

Ia mengatakan, pelemahan transaksi finansial tidak hanya dipicu perlambatan arus modal asing masuk, tetapi juga meningkatnya arus modal penduduk Indonesia ke luar negeri. 

Awalil menilai memburuknya kondisi NPI menjadi salah satu faktor fundamental yang ikut mempengaruhi tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir. (*/tribunmedan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.