Pulau Tabuhan dan Bonus Off-road di Selat Bali
GH News June 01, 2026 04:09 PM
Banyuwangi -

Dari kejauhan, Pulau Tabuhan terlihat seperti sebidang pasir putih yang mengapung di tengah Selat Bali.

Laut di sekelilingnya bergradasi dari biru tua menjadi hijau toska yang bening. Di latar belakang, Gunung Raung menjulang gagah, ditemani Gunung Ijen dan Gunung Ranti yang seolah berdiri menjaga pesisir utara Banyuwangi.

Jumat pagi kemarin kami bertolak dari kawasan Bangsring, Kecamatan Wongsorejo. Sebuah perahu berkapasitas 10 orang yang kami sewa seharga Rp 850 ribu siap membawa kami menyeberang menuju pulau seluas 5,3 hektare tersebut.

"Kalau laut tenang sekitar 15 menit sampai. Hari ini mungkin 20 menit karena arusnya lumayan," kata Badrul Shamsi, pemandu wisata yang sudah tiga tahun mengantar wisatawan ke Tabuhan.

Mesin perahu meraung. Dermaga Bangsring perlahan mengecil di belakang kami. Angin dan cipratan air laut menerpa wajah.

Baru sekitar lima menit perjalanan, suasana di atas perahu sudah ramai. Dua rekan kami, Audrey dan Gigi, dengan berani memilih duduk di ujung perahu. Posisi itu menawarkan sudut terbaik untuk menikmati laut sekaligus latar pegunungan yang menjulang di kejauhan.

"Kayak adegan Titanic dong," celetuk saya. Keduanya tertawa dan langsung mengangguk setuju.

Tentu saja meniru adegan Jack dan Rose di di atas perahu wisata yang terus bergoyang diterpa ombak tidak mudah. Beberapa kali mereka gagal mencoba mengambil swafoto.

Connie pun turun tangan. Selain mahir mencari sudut pengambilan gambar terbaik, ia juga berubah menjadi pengarah gaya dadakan.

"Sedikit ke kiri. Jangan lihat kamera. Lihat gunungnya saja," katanya sambil mengarahkan.

Di tengah deru mesin dan hembusan angin Selat Bali, sesi pemotretan itu berlangsung meriah. Dengan latar Gunung Raung, Ijen, dan Ranti yang berdiri gagah di kejauhan, hasil fotonya bahkan terkesan lebih eksotis daripada sekadar meniru adegan film.Pulau Tabuhan dikelilingi pantai berpasir putih yang landai. Air lautnya begitu jernih hingga dasar perairan dangkal terlihat dari permukaan. Warna laut berubah dari biru tua menjadi hijau toska hanya dalam beberapa meter dari bibir pantai.

Tak heran bila banyak wisatawan langsung berhamburan menuju laut begitu tiba.

Perairan sekitar Tabuhan dikenal kaya akan terumbu karang dan ikan hias berwarna-warni. Karena itulah snorkeling dan diving menjadi aktivitas favorit wisatawan.

Menurut Shamsi, waktu terbaik menikmati panorama bawah laut justru saat matahari baru terbit. "Biasanya habis Subuh sudah berangkat. Jam lima pagi kita kejar sunrise," ujarnya.

Pada pagi hari arus laut masih relatif tenang sehingga visibilitas bawah air lebih baik. Menjelang siang, kondisi laut berubah jauh lebih menantang.

Selain snorkeling dan diving, tersedia pula sejumlah aktivitas olahraga air lainnya. Jetski menjadi salah satu yang paling diminati dengan tarif Rp 350 ribu untuk 15 menit. Namun jumlah unit yang terbatas membuat wisatawan harus rela mengantre.

Karena malas menunggu giliran, tiga rekan kami memilih bersenang-senang dengan cara lain. Mereka menyewa padel seharga Rp 50 ribu untuk 30 menit dan menghabiskan waktu bermain di perairan dangkal sekitar pulau.Tawa mereka beberapa kali pecah saat papan bergoyang diterpa angin.

Sementara itu kami mencoba menerbangkan drone yang dibawa dari rumah. Awalnya kami ingin merekam aktivitas bermain padel dari udara.

Sayangnya angin Selat Bali siang itu terlalu kencang. Daripada kehilangan drone karena tersapu angin dan berakhir di dasar laut, kami memilih bermain aman. Drone hanya digunakan untuk mengambil gambar lanskap Pulau Tabuhan dari ketinggian.

Dari udara, pulau ini terlihat semakin memesona. Hamparan pasir putih membentuk garis melengkung yang mengapit laut hijau toska dan biru tua.

Di lokasi sebenarnya tersedia jasa foto dan video drone milik warga dengan tarif sekitar Rp 250 ribu untuk 20 menit penerbangan. Namun setelah mengetahui hasil yang diberikan masih berupa video mentah tanpa proses penyuntingan, naluri berhemat kami langsung bekerja.

Lebih baik uangnya digunakan untuk menyantap seafood di Kampung Lobster sepulang dari Tabuhan.

Setelah puas bermain air, kami berkumpul di sebuah warung sederhana. Lokasi agak menjorok dari pantai, terlindung dari pepohonan yang tumbuh menjulang.

Menu yang tersedia jauh dari kata mewah. Hanya pisang goreng, tahu goreng, dan tempe goreng yang disajikan bersama bumbu petis. Namun semua terasa nikmat. Untuk mengusir dahaga, kami memesan kelapa muda.

Tabanan Itu...

Di balik pesonanya, Tabuhan juga menyimpan cerita sejarah. Konon pada masa pendudukan Jepang, pulau ini pernah digunakan sebagai titik pengamatan. Hingga kini masih berdiri mercusuar yang sengaja dipertahankan, meski tidak dibuka untuk umum karena alasan keamanan.

Nama Tabuhan berasal dari bahasa Using, tetabuhan, yang berarti musik. Nama itu lahir dari suara angin yang berembus kencang dan berisik seperti alunan musik alam.

Angin pula yang kemudian mengangkat nama Tabuhan ke panggung internasional. Sejak 2015, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memasukkan pulau ini ke dalam agenda Banyuwangi Festival melalui konsep sport ecotourism. Kecepatan angin yang relatif konstan, sekitar 20 hingga 25 knot, membuat Tabuhan menjadi lokasi ideal untuk kiteboarding dan windsurfing. Ajang Tabuhan Island Pro Kiteboarding bahkan pernah diikuti peserta dari puluhan negara.

Menjelang waktu Jumatan kami pun bersiap kembali ke Bangsring. Saat itulah kejutan terakhir dari Tabuhan muncul. Perahu yang kami tumpangi kini harus melawan arus Selat Bali yang semakin kuat. Ombak menghantam lambung kapal. Badannya terangkat lalu menghunjam kembali ke permukaan laut.

"Wow, kok jadi kaya off-road ya kita," seru Audrey.

"Ini bonus setiap kali pulang dari Tabuhan, karena kita melawan arus " timpal Shamsi.

Cipratan air asin beberapa kali masuk ke dalam perahu. Sebagian penumpang kembali basah meski sisi kapal telah ditutup terpal. Namun tak ada yang mengeluh.

Kami tertawa girang, meski diam diam dalam hati tersimpan kecemasan. Saya melafalkan doa doa pendek dalam hati. Ponsel buru buru saya masukkan kembali ke dalam kantong anti air.

Selama perjalanan pulang yang memacu adrenalin itu kami mendapat panorama terbaik. Gunung Raung tampak semakin megah di depan mata. Di sisi lain, Gunung Ijen dan Gunung Ranti berdiri seolah menemani perjalanan kembali ke Banyuwangi.

Sudrajat
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.