Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Nur Rahma Sagita
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU SELATAN - Heboh Camat di Kabupaten Bengkulu Selatan, diduga tidak menerima nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) anaknya yang rendah hingga mengamuk dan memecahkan kaca meja di SMPN 1 Bengkulu Selatan pada 29 Mei 2026 lalu.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Bengkulu Selatan Lusi Wijaya, buka suara terkait pelaksanaan TKA perdana yang dilakukan secara nasional tersebut.
Lusi menjelaskan, persiapan pelaksanaan TKA telah dilakukan secara matang mulai dari sosialisasi, simulasi di sekolah, hingga memastikan sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan tes berbasis online tersedia dengan baik.
“Alhamdulillah berkat perhatian daerah, sarana dan prasarana untuk pelaksanaan TKA secara full online sudah mencukupi,” ujar Lusi saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Kamis (4/6/2026).
Selain itu, pihak Dikbud juga melakukan pengadaan buku-buku Tes Kemampuan Akademik yang diberikan langsung kepada siswa sebagai bagian dari rangkaian persiapan pelaksanaan TKA di sekolah-sekolah.
“Dan seluruh persiapan itu kami laksanakan tentunya berdasarkan regulasi dari kementerian, serta arahan Bupati Bengkulu Selatan dan Sekda agar betul-betul mempersiapkan pelaksanaan TKA perdana yang dilaksanakan secara nasional ini,” ungkap Lusi.
Terkait adanya error sistem saat pelaksanaan TKA. Menurutnya, gangguan tersebut tidak merugikan siswa dan tidak mempengaruhi nilai yang diperoleh.
“Saya katakan demikian karena waktu yang dihitung adalah ketika anak bekerja. Jadi saat terjadi eror sistem, waktu tersebut tidak dihitung dalam durasi pengerjaan soal. Misalnya waktu pengerjaan 90 menit, maka yang dihitung hanya saat anak benar-benar mengerjakan tanpa gangguan,” tegas Lusi.
Error sistem memang rawan terjadi karena pelaksanaan dilakukan secara online.
Namun, hal itu tidak mempengaruhi jumlah waktu pengerjaan siswa karena sistem tetap menghitung sesuai waktu aktif pengerjaan.
Baca juga: Nasib Oknum Camat di Bengkulu Selatan Ngamuk Pecahkan Meja Sekolah Kini Dinonaktifkan
Selain itu, untuk pengawasan pelaksanaan TKA, setiap ruangan telah dipasang kamera yang langsung terhubung ke pihak kementerian.
Dinas Pendidikan juga membentuk tim satuan pengawas untuk memastikan pelaksanaan berjalan dengan baik.
“Alhamdulillah Bengkulu Selatan dari segi nilai rata-rata tidak mengecewakan. Bahkan untuk tingkat Provinsi Bengkulu secara online, Bengkulu Selatan masuk 14 besar,” ungkap Lusi.
Adanya wali murid yang tidak menerima hasil nilai TKA anaknya. Ia menyebutkan, dari sekitar 2.500 orang tua siswa tingkat SMP yang mengikuti TKA, hanya satu orang tua yang menyampaikan protes terkait nilai anaknya.
Menurutnya, hasil TKA merupakan hasil murni yang diperoleh siswa dari sistem online dan soal-soal yang telah melalui proses uji validitas serta reliabilitas.
“Validitas itu mengukur apa yang seharusnya diukur, sedangkan reliabilitas mengukur secara menyeluruh. Jadi seluruh soal yang diujikan sudah melalui tahapan pengujian yang sesuai,” tegas Lusi.
Nilai TKA tidak mempengaruhi kelulusan siswa. Namun, nilai tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam penerimaan siswa ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Menurutnya, dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) terdapat beberapa jalur penerimaan seperti zonasi, prestasi, mutasi, dan domisili.
“Pada jalur prestasi, nilai TKA sangat dipertimbangkan untuk melanjutkan pendidikan anak dan itu merupakan kebijakan dari kementerian,” jelasnya.
Nilai TKA tidak bisa diintervensi karena seluruh proses dilakukan secara online dan merupakan program nasional.
“Saya pastikan nilai TKA tidak bisa diintervensi karena hasilnya bersifat online murni. Ini program nasional dan setiap daerah tentu mempersiapkan pelaksanaannya dengan matang,” pungkas Lusi.
Pihak Dikbud Bengkulu Selatan berharap masyarakat dapat memahami mekanisme pelaksanaan TKA dan tetap mendukung peningkatan kualitas pendidikan di daerah.
Okum Camat yang diduga melakukan tindakan arogan menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan.
Camat tersebut diduga mengamuk hingga memecahkan meja di SMP Negeri 1 Bengkulu Selatan karena tidak menerima hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) anaknya yang dinilai rendah.
Bupati Bengkulu Selatan Rifai Tajuddin, langsung buka suara dan menyatakan telah menginstruksikan Sekretaris Daerah untuk melakukan pendalaman serta mengumpulkan informasi terkait peristiwa tersebut.
“Kami sudah instruksikan Sekda untuk melakukan pengambilan data dan pendalaman mengenai apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Rifai saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Rabu (3/6/2026).
Rifai menyatakan sangat menyayangkan apabila dugaan tersebut terbukti benar, mengingat camat merupakan pejabat pemerintah yang seharusnya menjadi panutan bagi masyarakat.
“Kami sangat menyayangkan. Camat merupakan bagian dari pemerintahan yang harus menjadi contoh dalam bersikap dan bertindak. Karena itu, persoalan ini akan kami tindak lanjuti secara serius,” ungkap Rifai.
Hasil pemeriksaan nantinya akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menentukan langkah terhadap camat yang bersangkutan.
“Namun kami tetap menunggu hasil pendalaman terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan,” katanya.
“Nanti akan kita ambil langkah yang pantas untuk pembinaan terhadap camat tersebut. Bahkan bisa saja yang bersangkutan dinonjobkan apabila hasil pendalaman menunjukkan adanya pelanggaran,” tegas Rifai.
Kasus ini menjadi sorotan karena terjadi di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan kondusif bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan memastikan proses pemeriksaan akan dilakukan secara objektif sebelum menjatuhkan keputusan terkait dugaan tindakan Camat Seginim tersebut.
Inspektorat Bengkulu Selatan menonaktifkan sementara seorang camat usai dugaan tindakan arogan di SMPN 1 Bengkulu Selatan.
Diketahui, oknum camat tersebut diduga melakukan perusakan meja saat mendatangi SMPN 1 pada Jumat (29/5/2026).
Kedatangan camat tersebut dipicu karena tidak menerima hasil nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) anaknya yang dinilai rendah.
Atas kejadian tersebut Inspektur Daerah Bengkulu Selatan, Hamdan Sarbaini, mengatakan pihaknya telah menerima surat tugas dari bupati untuk segera melakukan pemeriksaan.
“Dalam proses pemeriksaan ini kami menyarankan kepada pimpinan agar yang bersangkutan dinonaktifkan dulu selama pemeriksaan berlanjut,” ujar Hamdan saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Rabu (3/6/2026).
Selama jabatan camat tersebut dinonaktifkan, posisinya akan diisi oleh Pelaksana Harian (Plh) atau Pelaksana Tugas (Plt).
Ia menegaskan, yang bersangkutan diberhentikan sementara selama proses pemeriksaan berlangsung.
Sementara untuk keputusan lebih lanjut terhadap camat yang melakukan tindakan tersebut, Hamdan mengatakan pihaknya masih melakukan pemeriksaan dengan memanggil saksi-saksi dan pihak terkait.
Pemeriksaan diperkirakan berlangsung selama delapan hari.
“Kami tim baru melakukan pemeriksaan. Jadi kami belum bisa menjelaskan lebih lanjut dan setelah pemeriksaan selesai baru kami bisa memberikan keterangan,” tegas Hamdan.
Apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya pelanggaran berat, maka pihaknya akan memberikan sanksi tegas berupa nonjob hingga pencabutan status sebagai ASN.
Sedangkan apabila pelanggaran yang ditemukan tergolong ringan, maka akan diberikan teguran sesuai prosedur yang berlaku.
Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan menegaskan akan menangani kasus tersebut secara profesional dan sesuai aturan guna menjaga disiplin serta etika aparatur sipil negara di lingkungan pemerintahan.
Insiden yang melibatkan seorang oknum camat di Kabupaten Bengkulu Selatan menjadi sorotan setelah yang bersangkutan diduga meluapkan emosi di lingkungan sekolah karena tidak terima dengan nilai yang diperoleh anaknya.
Peristiwa yang disebut-sebut berujung pada kerusakan meja di SMPN 1 Bengkulu Selatan itu kini menuai perhatian publik dan berbagai pihak terkait.
Pada Jumat sekolah tetap melaksanakan aktivitas belajar seperti biasa dan tidak ada kebijakan work from home (WFH).
Saat datang ke sekolah, wali murid tersebut langsung menunjukkan emosi.
Pihak sekolah mengaku terkejut karena sebelumnya telah menjelaskan kronologi dan sistem penilaian TKA yang memang sudah menjadi ketentuan.
Kepala SMPN 1 Bengkulu Selatan Liasrawati mengatakan, kejadian bermula saat seorang wali murid mendatangi sekolah pada Jumat (29/5/2026).
Kedatangan orang tua siswa yang diketahui merupakan salah satu oknum camat di Bengkulu Selatan itu untuk menanyakan nilai anaknya yang rendah pada hasil TKA.
Diduga tidak menerima nilai anaknya rendah, padahal selama ini dikenal berprestasi dan mendapat ranking di kelas, wali murid tersebut tiba-tiba emosi hingga memecahkan meja yang berada di ruang tata usaha sekolah.
“TKA ini perdana dilakukan tahun ini di seluruh sekolah. Mungkin orang tua kecewa karena nilai anaknya anjlok. Selama ini anak tersebut ranking dan nilainya juga baik,” ujar Liasrawati saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Selasa (2/6/2026).
“TKA itu bukan kehendak sekolah ataupun kepala sekolah, karena semuanya berasal dari sistem aplikasi. Pada dasarnya kami berharap nilai seluruh siswa baik,”sambungnya.
Kerusakan meja tersebut merupakan aset lembaga pendidikan.
Karena itu, Liasrawati mengaku telah melaporkan kejadian tersebut kepada pengawas pembina yang menaungi bidang SMP, meski belum melapor langsung ke Kepala Dinas Pendidikan.
“Memang saya belum melapor langsung ke atasan, tetapi saya melaporkannya secara berjenjang sesuai aturan yang ada,” katanya.
Selain itu, pihak Inspektorat juga dikabarkan akan mendatangi sekolah untuk melihat langsung kondisi dan mendengarkan kronologi kejadian.
Tindakan tersebut dinilai tidak pantas dilakukan di lingkungan sekolah dan dianggap sebagai tindakan arogan.
Sebagai informasi, TKA baru pertama kali dilaksanakan tahun ini dengan sistem pengerjaan soal menggunakan komputer.
Pelaksanaan ujian diawasi ketat oleh pengawas serta kamera CCTV untuk memastikan tidak adanya kecurangan selama ujian berlangsung.
Selain itu, kepala sekolah menjelaskan bahwa pada Senin (1/6/2026), orang tua siswa tersebut telah kembali mendatangi sekolah untuk meminta maaf atas kejadian yang terjadi.
Menurut Liasrawati, wali murid tersebut mengakui kesalahannya dan telah berupaya mengganti meja yang rusak akibat kejadian tersebut.