Ditugasi Pindahi Makam untuk Proyek Tol, Pengalaman Mistis Joko Bikin Merinding
khoirul muzaki June 04, 2026 07:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG – Berawal dari majelis zikir kecil tanpa nama di Kota Semarang, Al Iswat kini dikenal sebagai kelompok yang kerap terlibat dalam pemindahan makam untuk berbagai proyek pembangunan di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.


Berlokasi di Jalan Wismasari VII No.9, Ngaliyan, Semarang, kelompok yang awalnya hanya rutin membaca Al-Fatihah, istigfar, dan selawat itu perlahan mendapat kepercayaan masyarakat untuk menangani pemindahan makam, mulai dari kawasan industri hingga proyek jalan tol.


Ketua Al Iswat, Joko Yudho, mengatakan nama Al Iswat sendiri merupakan singkatan dari Al-Fatihah, Istigfar, dan Selawat, amalan yang menjadi inti kegiatan majelis tersebut sejak awal berdiri.


"Awalnya hanya majelis zikir dan bahkan belum punya nama. Karena jamaahnya semakin banyak, akhirnya diberi nama Al Iswat oleh Abah Zain Achmad," ujarnya, Kamis (4/6/2026). 


Langkah Al Iswat memasuki dunia pemindahan makam bermula sekitar tahun 2007-2008 ketika kawasan industri Candi di Ngaliyan berkembang.


Saat itu, ratusan makam terdampak proyek pembangunan.


Seorang ketua RW yang merupakan teman dekat Joko meminta bantuan mencarikan orang yang mampu menangani proses pemindahan makam.


Permintaan tersebut kemudian disampaikan kepada Abah Zain Achmad dan Habib Umar Al Attas yang merupakan guru spiritual dari Joko.


"Beliau bilang tidak apa-apa dikerjakan. Mas Joko yang di depan, kami yang di belakang," kenang Joko.


Berbekal latar belakang teknik sipil, Joko mulai menghitung kebutuhan anggaran hingga menyusun teknis pelaksanaan.


Masalah muncul ketika harus mencari tenaga yang berpengalaman membongkar makam.


Akhirnya ia mengajak kerabat yang selama ini sering membantu proses pemakaman di kampungnya.


Dari situlah proyek pemindahan sekitar 500 makam di Ngaliyan berhasil diselesaikan.


Namun tantangan terbesar justru datang dari masyarakat.


Banyak warga awalnya menolak karena belum pernah ada pengalaman pemindahan makam dalam skala besar di Semarang.


Bersama perangkat kelurahan, tokoh agama, dan Dinas Pemakaman Kota Semarang, Al Iswat menggelar sosialisasi kepada warga.


Dalam pertemuan itu, dijelaskan bahwa pemindahan makam diperbolehkan selama bertujuan untuk kemaslahatan bersama.


Setelah mendapat persetujuan mayoritas warga, proses pemindahan pun dilakukan.


Sejak saat itu, Al Iswat mulai dipercaya menangani berbagai proyek pemindahan makam di Jawa Tengah dan DIY.


Mulai dari pembangunan Tol Semarang-Solo, Tol Semarang-Batang, hingga proyek Jalan Tol Solo-Yogyakarta.


Dalam setiap proyek, Joko mengatakan ada tata cara yang selalu dijalankan.


Sebelum pemindahan dilakukan, tim terlebih dahulu menggelar doa bersama dan ritual bedah bumi selama tiga hari untuk mendoakan seluruh ahli kubur yang akan dipindahkan.


"Kami kirim doa dulu, tahlil, baru setelah itu proses pemindahan dilakukan," ujarnya.


Menurutnya, makam yang pertama kali dipindahkan bukan makam sembarangan.


Biasanya makam tokoh yang dituakan atau orang pertama yang dimakamkan di area tersebut akan menjadi yang pertama dipindahkan.


Hal itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu.


Perjalanan Spiritual Joko


Selain aspek teknis, Joko mengakui pekerjaannya juga kerap diwarnai pengalaman yang sulit dijelaskan secara logika.


Dari ribuan makam yang pernah dibongkar, Joko mengatakan setiap lokasi memiliki cerita berbeda.


Salah satu pengalaman yang paling diingat terjadi saat timnya menemukan makam tua yang sudah tidak memiliki nisan maupun tanda keberadaan ahli waris.


Makam tersebut sempat terlewat saat proses pemindahan berlangsung.


Namun beberapa hari setelah pekerjaan selesai, Joko merasa ada yang belum beres.


Tim kemudian kembali melakukan pengecekan dan menemukan dua kerangka yang ternyata masih tertinggal di lokasi lama.


"Begitu ditemukan lalu dipindahkan, pekerjaan terasa selesai semuanya," katanya.


Pengalaman lain yang membekas terjadi saat pemindahan makam di wilayah Karangjati.


Di lokasi itu, tim menemukan jasad seorang tokoh yang dikenal masyarakat sebagai Syekh Bergas atau Syekh Muhaimin Iskandar.


Menurut Joko, kondisi jasad masih utuh meski telah dimakamkan dalam waktu yang sangat lama.


"Kain kafannya masih ada, bentuk tubuhnya masih utuh," ujarnya.


Meski demikian, Joko memilih tidak menjadikan temuan-temuan semacam itu sebagai bahan perbincangan selama proses pekerjaan berlangsung.


Ia menerapkan aturan ketat kepada seluruh anggota tim.


Tidak ada yang diperbolehkan mengomentari kondisi jenazah, aroma makam, maupun mendokumentasikan proses pembongkaran secara sembarangan.


Menurutnya, penghormatan kepada jenazah dan keluarganya menjadi hal utama yang harus dijaga.


Saat makam dibongkar, hanya ahli waris dan panitia tertentu yang diperbolehkan berada di area kerja.


Setelah kerangka ditemukan, seluruh bagian yang ditemukan akan dikumpulkan dalam satu kotak sebelum dikafani ulang menggunakan tiga lapis kain kafan.


Kerangka kemudian diberi wewangian hingga disemprot air zam-zam dan dibawa menuju lokasi pemakaman baru.


"Itu bentuk penghormatan kami kepada jenazah. Jadi bukan sekadar dipindahkan lalu selesai," katanya.


Namun bagi Joko, pekerjaan memindahkan makam bukan hanya menguras tenaga, melainkan juga menjadi perjalanan spiritual yang mengubah cara pandangnya tentang kehidupan dan kematian.


Selama hampir dua dekade terlibat dalam pemindahan ribuan makam, ia mengaku belajar bahwa setiap pusara menyimpan kisah yang berbeda. 


Ada makam tokoh yang dihormati masyarakat, ada makam yang telah lama terlupakan, hingga makam-makam tanpa ahli waris yang masih dikenang warga setempat.


Karena itu, setiap pemindahan selalu diawali dengan doa bersama dan penghormatan kepada para ahli kubur yang akan dipindahkan.


"Kami memandangnya sebagai bentuk penghormatan. Mereka pernah hidup, punya keluarga, punya sejarah di kampung itu," kata Joko.


Menurutnya, pengalaman paling berat justru saat harus memindahkan jenazah yang belum lama dimakamkan. 


Selain menghadapi kondisi fisik jenazah yang masih dalam proses pembusukan, para pekerja juga dituntut menjaga sikap dan ucapan selama berada di area pemakaman.


Ia mengaku selalu menekankan kepada seluruh anggota tim agar tidak mengeluhkan kondisi jenazah maupun mengomentari apa pun yang ditemukan selama proses pembongkaran makam.


"Yang penting ikhlas bekerja dan tetap menghormati yang sudah meninggal," ujarnya.


Dari pekerjaan itu pula, Joko mengaku semakin memahami bahwa kematian menjadi pengingat bagi manusia yang masih hidup.


Saat melihat nama-nama di nisan, membaca tahun kelahiran dan kematian, hingga memindahkan makam orang-orang yang dahulu pernah menjadi tokoh di lingkungannya, ia merasa setiap pekerjaan selalu membawa pelajaran baru.


"Yang paling saya rasakan, akhirnya kita sadar semua manusia nanti akan sama. Jabatan, kekayaan, semuanya ditinggal. Yang tersisa hanya amal dan doa dari keluarga," katanya.


Biaya Jasa Pemindahan Kubur 


Untuk menjalankan pekerjaan tersebut, Joko memimpin sekitar 50 orang yang tergabung dalam tim pemindahan makam.


Mereka memiliki tugas berbeda-beda, mulai dari mendata makam, menggali liang kubur, mengangkat kerangka jenazah, mengkafani ulang, hingga memakamkan kembali di lokasi baru.


"Dalam satu pekerjaan biasanya sekitar 50 orang yang kami bawa," kata Joko.


Menurutnya, pemindahan makam bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sembarang orang. 


Selain membutuhkan tenaga fisik, pekerjaan tersebut juga menuntut kesiapan mental karena para pekerja berhadapan langsung dengan jenazah dalam berbagai kondisi.


Karena itu, tidak semua anggota tim terlibat dalam seluruh tahapan pekerjaan.


Untuk makam yang baru beberapa bulan dimakamkan misalnya, hanya pekerja tertentu yang ditugaskan menangani proses pemindahan.


"Ada tim khusus sekitar enam orang yang biasa menangani bagian itu," ujarnya.


Joko menjelaskan, setiap proyek pimindahan makam memiliki biaya operasional sekitar Rp 2,5 juta per makamnya.


Angka tersebut digunakan untuk membiayai seluruh proses, mulai dari pembongkaran makam lama, penggalian makam baru, pengkafanan ulang, pengangkutan kerangka, hingga kebutuhan tenaga kerja di lapangan.


"Hitungannya per makam. Kalau jumlahnya 300 makam ya dikalikan jumlah makam yang dipindahkan," katanya.


Dalam sejumlah proyek besar, jumlah makam yang dipindahkan bisa mencapai ratusan hingga ribuan.


Salah satu pekerjaan terbesar yang pernah ditangani timnya adalah pemindahan sekitar 1.000 makam yang berhasil diselesaikan dalam waktu lima hari.


Sementara pada proyek terbaru di Kabupaten Klaten pada awal 2026, tim Al Iswat memindahkan hampir 300 makam dalam waktu dua hari.


Meski terlihat seperti pekerjaan konstruksi biasa, Joko mengatakan proses pemindahan makam memiliki prosedur yang berbeda.


Setiap makam terlebih dahulu didata sebelum dibongkar. 


Setelah kerangka ditemukan, seluruh bagian yang ditemukan dimasukkan ke dalam kotak khusus untuk kemudian dikafani ulang menggunakan tiga lapis kain kafan.


Kerangka tersebut selanjutnya dibawa ke lokasi pemakaman baru yang telah disiapkan sebelumnya.


Menurut Joko, penghormatan kepada jenazah menjadi prinsip utama yang selalu dijaga timnya.


Karena itu, proses pembongkaran makam hanya dapat disaksikan oleh ahli waris dan panitia tertentu.


Dokumentasi pun dibatasi agar tidak menimbulkan persoalan bagi keluarga yang ditinggalkan.


"Pekerjaan ini bukan sekadar memindahkan makam. Ada tanggung jawab moral yang harus dijaga," ujarnya.


Sejak pertama kali menangani pemindahan makam di kawasan Ngaliyan pada 2007-2008, Joko dan timnya telah terlibat dalam berbagai proyek pembangunan di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.


Dari ratusan hingga ribuan makam yang pernah dipindahkan, Joko menyebut pekerjaan itu mengajarkannya satu hal penting.


"Banyak orang bisa menggali makam, tapi tidak banyak yang mau menjalani pekerjaan ini. Karena yang kami hadapi bukan hanya pekerjaan fisik, tetapi juga amanah dari keluarga yang mempercayakan makam leluhurnya kepada kami," katanya. (Rad)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.