BMKG Ungkap Wilayah yang Lebih Dulu Merasakan Musim Bediding, Dimulai Juni Sampai Agustus
Vivi Febrianti June 04, 2026 07:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Unggahan warganet yang menyebut Indonesia akan segera dilanda "musim bediding" ramai diperbincangkan di media sosial.

Cuitan tersebut diunggah oleh akun X @zak******** pada Selasa (2/6/2026).

Dalam unggahannya, ia menyebut suhu udara di sejumlah wilayah Indonesia akan terasa lebih dingin karena dipengaruhi musim dingin yang tengah berlangsung di Australia.

"Musim dingin di Australia yang sudah dimulai, turut mempengaruhi suhu di Selatan Indonesia pada malam dan pagi hari. Musim bediding segera tiba lebih cepat," tulis akun tersebut.

Hingga Kamis (4/6/2026) siang, unggahan itu telah disukai lebih dari 3.400 kali dan mendapat lebih dari 140 komentar dari warganet.

Lantas, benarkah Indonesia akan segera mengalami fenomena bediding?

Apa Itu bediding?

Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani mengatakan, fenomena bediding berpotensi mulai dirasakan seiring masuknya sebagian wilayah Indonesia ke musim kemarau, terutama pada malam hingga pagi hari.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa bediding bukanlah fenomena cuaca ekstrem yang datang secara tiba-tiba atau "melanda" suatu wilayah.

"Namun, perlu diluruskan bahwa bediding bukan fenomena yang 'melanda' seperti kejadian cuaca ekstrem, melainkan kondisi musiman berupa udara terasa lebih dingin akibat berkurangnya tutupan awan, rendahnya kelembapan udara, serta dominasi aliran massa udara kering dari Australia," ujar Ida kepada Kompas.com, Rabu (3/6/2026).

Menurutnya, saat musim kemarau mulai berlangsung, langit pada malam hari cenderung lebih cerah karena jumlah awan berkurang. 

Kondisi ini membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer sehingga suhu udara pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dibanding biasanya.

Selain itu, masuknya massa udara kering dari Australia juga menyebabkan kelembapan udara menurun dan memperkuat sensasi udara dingin, terutama pada dini hari hingga menjelang pagi.

Ida mengatakan, berdasarkan pola klimatologis dan prediksi musim kemarau, wilayah dataran tinggi dan pegunungan umumnya menjadi daerah yang lebih dahulu merasakan fenomena tersebut.

"Wilayah yang biasanya lebih awal berpotensi merasakan kondisi ini adalah wilayah dataran tinggi/pegunungan. Kemudian dapat meluas secara bertahap ke wilayah lain yang telah memasuki kemarau," jelasnya.

Umumnya terjadi pada Juni-Agustus

Ida menjelaskan, potensi bediding biasanya mulai meningkat pada Juni dan akan terasa lebih kuat pada Juli hingga Agustus.

Kondisi ini terutama terjadi ketika cuaca cerah pada malam hari dan angin timuran atau monsun Australia mulai menguat.

Karena itu, masyarakat di sejumlah wilayah diperkirakan akan mulai merasakan suhu udara yang lebih dingin pada malam, dini hari, hingga pagi hari dalam beberapa bulan ke depan. 

Sementara itu Prakirawan Cuaca BMKG, Yuni Maharani mengatakan, wilayah yang berpotensi lebih dulu mengalami bediding umumnya berada di Indonesia bagian selatan yang telah memasuki atau sedang menuju musim kemarau. 

Daerah yang biasanya merasakan fenomena ini lebih awal antara lain:

  • Nusa Tenggara Timur (NTT)
  • Nusa Tenggara Barat (NTB)
  • Bali
  • Wilayah selatan Pulau Jawa
  • Kawasan dataran tinggi di Pulau Jawa

Selain itu, sebagian wilayah Sumatera bagian selatan, seperti Sumatera Selatan dan Lampung, juga berpotensi mengalami kondisi serupa. 

Meski demikian, Yuni menegaskan bahwa bediding tidak dirasakan secara merata di seluruh Indonesia.

"Fenomena ini cenderung lebih terasa pada wilayah dengan kondisi langit cerah, kelembapan udara rendah, curah hujan yang mulai berkurang, serta daerah dataran tinggi atau wilayah selatan Indonesia yang lebih banyak dipengaruhi aliran massa udara kering dan relatif dingin dari Australia," jelasnya saat dihubungi terpisah, Kamis (4/6/2026). 

Karena itu, meskipun sebagian wilayah mulai merasakan udara lebih dingin pada malam dan pagi hari, intensitas bediding di setiap daerah dapat berbeda-beda tergantung kondisi cuaca, ketinggian wilayah, dan pengaruh musim kemarau yang sedang berlangsung.

Sumber: Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.