TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN – Grand Final Kompetisi Debat Pelajar Demokrasi ke-4 tingkat SMA/MA se-Kabupaten Nunukan berlangsung panas dan penuh adu gengsi, Jumat (5/6/2026).
Mosi kontroversial tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui DPRD menjadi topik utama yang mempertemukan dua tim terbaik, yakni Rosita Institute dari SMA Negeri 1 Nunukan dan Smansa Synergy dari SMAN 1 Sebatik.
Di hadapan dewan juri, pelajar, guru, dan tamu undangan yang memadati Lantai V Kantor Bupati Nunukan, kedua tim saling melancarkan argumentasi tajam mengenai sistem Pilkada yang hingga kini masih menjadi perdebatan di Indonesia.
Tim Rosita Institute yang berada di kubu pro menilai Pilkada melalui DPRD dapat melahirkan pemimpin yang lebih memahami kebutuhan daerah karena dipilih oleh wakil rakyat yang mengetahui kondisi masyarakat secara langsung.
Sementara itu, Tim Smansa Synergy yang berada di kubu kontra menegaskan bahwa kepala daerah harus memperoleh legitimasi langsung dari rakyat melalui pemilu.
Menurut mereka, pemilihan langsung merupakan bentuk nyata kedaulatan rakyat yang tidak boleh dikurangi dalam sistem demokrasi.
Suasana debat pun berlangsung sengit. Berbagai data, analisis, hingga sanggahan disampaikan secara bergantian. Tak jarang tepuk tangan dan sorakan pendukung menggema di dalam ruangan ketika para peserta berhasil menyampaikan argumentasi yang dinilai kuat.
Baca juga: Pilkada Dipilih DPRD atau Rakyat? Grand Final Debat Pelajar Demokrasi di Nunukan Memanas
Setelah melalui penilaian ketat dari dewan juri, hasil akhir mengejutkan banyak pihak.
Tim Smansa Synergy dari SMAN 1 Sebatik berhasil keluar sebagai Juara 1 dengan perolehan nilai 763.
Mereka mengungguli Rosita Institute dari SMAN 1 Nunukan yang harus puas di posisi kedua dengan perolehan nilai 747.
Kemenangan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi para siswa dari wilayah perbatasan itu.
Anggota tim yang terdiri dari Syahrani Ramadhani, Nur Asyikin, dan Muhammad Gionando mengaku tidak menyangka mampu menjadi yang terbaik dalam kompetisi tersebut.
"Suatu kebanggaan untuk kami anak Sebatik bisa mendapatkan juara 1 di tingkat kabupaten. Menurut kami ini acara yang sangat besar dan menjadi kesempatan emas bagi kami," ujar mereka usai menerima penghargaan.
Tim Smansa Synergy mengaku minim pengalaman dalam dunia debat, tetapi tetap optimis bisa memberikan yang terbaik di final.
"Dari awal seleksi kami sebenarnya tidak terlalu berpengalaman dalam debat. Tapi kami optimis dan terus belajar. Kami juga berterima kasih kepada kakak-kakak yang telah membantu kami selama proses persiapan," kata Syahrani Ramadhani.
Bahkan hingga diumumkan sebagai pemenang, mereka masih sulit mempercayai hasil yang diraih.
"Sampai sekarang kami masih tidak percaya bisa menjadi juara. Kami sebenarnya masih pemula, tetapi berhasil mendapatkan hasil yang luar biasa ini," ungkapnya.
Tim Smansa Synergy juga mengaku sejak awal berharap memperoleh posisi kontra dalam mosi Pilkada melalui DPRD.
Menurut mereka, posisi tersebut sesuai dengan pandangan yang ingin mereka perjuangkan dalam debat.
"Sejak awal kami memang tidak mendukung mosi Pilkada melalui DPRD. Kami berharap mendapatkan posisi kontra dan benar-benar belajar untuk menyuarakan argumen tersebut," ujar Nur Asyikin.
Mereka menilai keberhasilan meraih juara tidak lepas dari kekompakan tim serta dukungan guru, pihak sekolah, dan para alumni yang terus memberikan arahan, bahkan melalui pertemuan daring.
"Pelajaran paling berharga yang kami dapat adalah tidak saling menyalahkan satu sama lain. Kami harus saling menerima pendapat dan tidak boleh egois karena kami adalah satu tim," katanya.
Mereka berpesan kepada generasi muda agar tidak takut menyampaikan pendapat dan memperjuangkan hal yang diyakini benar.
"Jangan takut menyuarakan hal-hal yang benar, karena suara kita sangat berharga," tutup Tim Smansa Synergy.
(*)
Penulis: Fatimah Majid