Puluhan Kendaraan Rendah Emisi Konvoi di Kota Yogyakarta, Wali Kota Hasto: Saatnya Transformasi
Joko Widiyarso June 06, 2026 06:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menunjukkan komitmennye dalam mewujudkan tata ruang yang ramah lingkungan, bersih, dan berkelanjutan. 

Komitmen tersebut, ditandai dengan Flag Off Parade Kendaraan Nir Emisi dan Bazar UMKM Jogja Bersinar yang dipusatkan di Jalan Ipda Tut Harsono, Kota Yogyakarta, Sabtu (6/6/26).

​Puluhan kendaraan ramah lingkungan berbasis listrik, mulai mobil, motor, hingga becak listrik pelestari budaya, dilepas secara resmi oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. 

Selepas bendera start dikibarkan, konvoi menyusuri sejumlah ruas jalan strategis di Kota Pelajar, antara lain Jalan Timoho, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Margo Utomo, Jalan Malioboro, Jalan Senopati, serta Jalan Kusuma Negara.

​Di sela-sela kegiatan, Wali Kota Hasto Wardoyo menegaskan bahwa agenda tersebut bukan sekadar panggung pameran otomotif modern atau seremonial belaka.

​"Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bersama bahwa masa depan kota sangat ditentukan oleh pilihan yang diambil saat ini," ungkapnya.

Peningkatan kesehatan masyarakat

Mantan Kepala BKKBN RI tersebut mengungkapkan, ikhtiar masif semacam ini tidak hanya bertumpu pada aspek pelestarian alam dan lingkungan semata.

Sebab, dampak dominonya terasa bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat Kota Yogyakarta lewat penyediaan udara bersih dan ruang publik yang nyaman.

​"Upaya mendorong transportasi rendah emisi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bagian dari kebutuhan dan arah pembangunan Kota Yogyakarta di masa depan," urainya.

​Hasto pun membeberkan, serangkaian langkah taktis sudah dan tengah dikerjakan jajaran Pemkot Yogyakarta untuk menyokong transportasi berkelanjutan. 

Meliputi penataan komprehensif kawasan pedestrian Malioboro, penguatan ruang publik ramah pejalan kaki, memperbanyak jalur sepeda, hingga program transformasi becak motor (bentor) ke becak listrik.

​"Langkah-langkah ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan kota yang lebih sehat, manusiawi, dan berkelanjutan tanpa meninggalkan identitas khas Yogyakarta," tegasnya.

​Ia memandang, eksistensi becak listrik merupakan contoh sahih di mana inovasi teknologi mutakhir dapat berjalan beriringan tanpa harus menggerus kelestarian budaya lokal. 

Becak listrik dinilai mampu menjaga moda transportasi tradisional khas Yogyakarta tetap relevan menembus zaman, dengan berbagai modifikasi dan penyesuaian.

Bertahap, kolaboratif, dan sensitif

Kendati demikian, Hasto mengingatkan bahwa migrasi menuju transportasi rendah emisi ini bukan melulu soal kesiapan armada dan teknologi. 

Kunci utamanya adalah memastikan seluruh lapisan masyarakat yang ikut terlibat dan ambil bagian tidak merasa ditinggalkan dalam arus perubahan ini. 

Oleh sebab itu, rentetan proses transformasi wajib bergulir secara bertahap, kolaboratif, serta sensitif terhadap aspek sosial dan ketahanan ekonomi warga.

​"Kita tidak ingin perubahan ini justru menimbulkan kesenjangan baru. Sebaliknya, kita ingin memastikan bahwa transformasi menuju kota yang lebih hijau juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.

​Guna memuluskan peta jalan tersebut, sinergi pentahelix yang kokoh antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, media massa, hingga masyarakat luas menjadi harga mati. 

Melalui momentum apik ini, Hasto mengajak seluruh warga Kota Yogyakarta untuk semakin melek lingkungan, bijak menentukan moda transportasi harian, dan menyokong penuh inovasi hijau.

​"Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai perayaan semata, tapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk menghadirkan Kota Yogyakarta yang lebih bersih, sehat, rendah emisi, dan nyaman bagi generasi mendatang," ucapnya.

Becak listrik lebih mengunttngkan

​Dampak positif dari kebijakan transportasi hijau pun langsung dirasakan oleh para pelaku di akar rumput, salah satunya adalah Warsidi, seorang pengemudi becak listrik yang turut menjadi peserta dalam parade tersebut.

​Pria yang sudah satu tahun belakangan mengaspal dengan becak listrik ini mengaku mengantongi keuntungan ekonomi yang signifikan dibanding saat masih menarik bentor.

​"Sudah sekitar satu tahun saya menggunakan becak listrik. Lebih irit dibanding dulu pakai bentor karena tidak perlu beli bensin lagi. Jadi pengeluaran sehari-hari bisa berkurang," tuturnya.

​Untuk urusan daya, Warsidi kerap memanfaatkan fasilitas stasiun pengisian yang telah disediakan secara cuma-cuma oleh pemerintah di kawasan Stasiun Tugu Yogyakarta.

Selain lokasi pengisian daya yang sangat strategis dan tidak jauh dari kawasan Malioboro, waktu yang dibutuhkan sampai bateri terisi penuh pun relatif singkat.

​"Biasanya saya ngecas di Stasiun Tugu. Gratis. Waktu pengisiannya juga tidak lama, dari baterai kosong sampai penuh hanya sekitar tiga jam," ungkapnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.