6 Juni 1901, Presiden Pertama Indonesia Lahir di Peneleh Surabaya
Moh. Habib Asyhad June 07, 2026 01:34 PM

Beberapa sejarawan percaya bahwa Sukarno lahir pada 6 Juni 1901 di ... Surabaya. Meski ada beberapa yang masih percaya bahwa Putra Sang Fajar lahir di Blitar.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisarsi-Online.com -6 Juni menjadi hari yang begitu bersejarah bagi orang Indonesia. Di tanggal itulah, tepatnya pada 6 Juni 1901, Presiden RI pertama, Ir. Sukarno alias Bung Karno, lahir di muka bumi di Gang Peneleh, Surabaya.

Kampung tempat Bung Karno lahir sekarang lebih dikenal sebagai Kampung Bung Karno. Sementara rumah tempat kelahirannya sekarang menjadi museum.

Bung Karno lahir tak lama setelah Gunung Kelud yang ada di perbatasan Kediri-Blitar meletus. Dalam Soekarno Penjambung Lidah Rakjat, Bung Karno sempat menceritakan gunung aktif itu. Beberapa pihak juga mengaitkan kelahiran Bung Karno dengan peristiwa meletusnya Gunung Kelud pada saat itu.

Pada 1901 itu, Gunung Kelud tercatat meletus selama dua hari, 22 dan 23 Mei. Bung Karno kemudian lahir pada 6 Juni di tahun yang sama.

Bung Karno punya hubungan spesial dengan sang ibu, Ida Ayu. Sejak kelahiran Sukarno ke dunia, Ida Ayu mengamini bahwa anaknya adalah Putra Sang Fajar. Sebab dia lahir menjelang matahari terbit.

Walau kelahiran Bali, Ida Ayu juga meyakini kepercayaan Jawa bahwa bayi yang lahir saat matahari terbit, nasibnya sudah digariskan oleh takdir. Dan bagi Ida Ayu, Sukarno kelak akan menjadi penerang bagi bangsanya yang saat itu mengalami kegelapan gara-gara imperialisme.

Selain itu, kenang Ida Ayu, Sukarno lahir tak lama setelah Gunung Kelud meletus, sebagaimana disebut di awal. Dia percaya, itulah pertanda alam bahwa suatu waktu kelak bayi Sukarno tumbuh menjadi pemimpin besar.

Keyakinan itu tidak hanya diyakini Ida Ayu di dalam hati. Saat Sukarno mulai paham berkata-kata, suatu pagi ia mengatakan soal itu kepada anaknya.

“Ibu katakan padamu Nak, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, menjadi pemimpin rakyat kita. Jangan pernah lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan Nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar,” ujar Ida Ayu dengan lembut pada Sukarno kecil.

Cerita masa kecil Sukarno dan ibunya memang tidak banyak. Hanya sekelumit kisah tentang keyakinannya mengenai takdir Sukarno kelak.

Minimnya catatan pengalaman Sukarno dan Ida Ayu menimbulkan berbagai spekulasi. Apakah Sukarno benar-benar dekat atau tidak dengan ibunya?

Dalam buku otobiografinya pun, nama Ida Ayu hanya tertulis sepintas saja. Paling banter soal sang bunda yang bercerita soal kisah heroik tempo dulu.

Dokumentasi foto Sukarno dan Ida Ayu yang dipublikasikan hanya foto saat Sukarno mengunjungi ibunya. Belum pernah ada foto atau berita tentang Ida Ayu mengunjungi Sukarno, sebelum dan sesudah puteranya menjadi presiden.

Bahkan konon, ibunda Sukarno itu sebenarnya tidak pernah menginjakkan kaki ke Istana Negara, tempat tinggal Sukarno bersama keluarganya.

Akan tetapi, bagaimanapun cerita itu hanyalah spekulasi. Seorang ibu tetaplah ibu bagi Sukarno. Sampai Ida Ayu meninggal, Sukarno tetap menunjukkan penghargaannya bagi ibu biologisnya itu.

Ida Ayu sendiri merupakan keturunan keluarga Pasek. Nama aslinya sendiri adalah Nyoman Rai Srimben.

Nama berkasta Brahmana, Ida Ayu, diberikan oleh Sukarno sesaat sebelum ibunya meninggal dunia di Istana Kepresidenan Tampaksiring Bali, 1958.

Penambahan Ida Ayu merupakan penghormatan untuk perjuangan dan ketangguhan ibunya untuk melahirkan dan membesarkan Sukarno. Sejak itulah nama ibu Sukarno berubah.

Sempat ada dua versi tempat kelahiran

Beberapa saat yang lalu sempat ramai perdebatan terkait di mana sebenarnya Bung Karno dilahirkan. Apakah di Surabaya, atau di Blitar—banyak juga yang mengira bahwa Bung Karno lahir di kota ini.

Polemik itu sempat muncul kembali ketika Joko Widodo, yang ketika itu masih presiden, dalam peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2015 menyebut Sukarno lahir di Blitar, Jawa Timur, dalam pidatonya.

Tapi sejumlah sumber sejarah menyatakan bahwa kota kelahiran Sukarno bukan di Blitar. Tapi di Surabaya.

Terkait hal itu, penulis pidato Presiden Jokowi saat itu, Sukardi Rinakit, mengakui akan kesalahannya. Padahal, Jokowi yang sempat ingat Soekarno lahir di Surabaya, sempat meminta Sukardi untuk mengecek kembali.

“Presiden waktu itu meminta saya untuk memeriksa karena seingat beliau, Bung Karno lahir di Surabaya. Tanpa memeriksa lebih mendalam dan saksama, saya menginformasikan kepada Presiden bahwa Bung Karno lahir di Blitar,” ucap Sukardi, seperti diberitakan Kompas.com pada 5 Juni 2015.

Sebagai referensi, Sukardi mengaku menggunakan situs Tropenmuseum.nl, yang menyebutkan bahwa Bung Karno lahir di Blitar: “Soekarno (ook wel gespeld als Sukarno), geboren als Kusno Sosrodihardjo, Blitar, 6 Juni 1901- Jakarta 21 Juni 1970) was de eerste president van de Republiek Indonesia”.

Yang kira-kira artinya: “Soekarno (juga dieja Sukarno), lahir Kusno Sosrodihardjo, Blitar, 6 Juni 1901- Jakarta 21 Juni 1970) adalah presiden pertama Republik Indonesia”.

Tak hanya itu, Sukardi juga mengaku menemukan banyak bahan lain yang menyebutkan bahwa Bung Karno lahir di Blitar. "Memori saya juga dibelenggu oleh cerita rakyat yang sejak kecil saya dengar di kampung bahwa Bung Karno dilahirkan di Blitar," ucapnya.

Lalu mengapa muncul informasi yang menyebutkan Bung Karno lahir di Blitar? Jika menelusuri sumber pustaka, kekeliruan ini bisa jadi bersumber dari penafsiran terhadap biografi Soekarno, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965) yang ditulis Cindy Adams.

Kepada Cindy Adams, Bung Karno menyinggung mengenai kelahirannya pada 1901. “Bersamaan dengan kelahiranku menyingsinglah fajar dari suatu hari yang baru, dan menyingsing pulalah fajar dari satu abad yang baru. Karena aku dilahirkan di tahun 1901. Bagi Bangsa Indonesia abad ke-19 merupakan zaman yang gelap. Sedangkan zaman sekarang baginya adalah zaman yang terang-benderang dalam menaiknya pasang revolusi kemanusiaan,” tutur Sukarno.

Tapi Bung Karno tidak pernah menyebut secara detail mengenai kota saat mengurai peristiwa kelahirannya. Saat itu, Sukarno hanya menyebut tempat kelahirannya tidak jauh dari Gunung Kelud yang baru saja meletus.

“Masih ada pertanda lain ketika aku dilahirkan. Gunung Kelud, yang tidak jauh letaknya dari tempat kami, meletus.”

Walau begitu, sebenarnya dalam buku itu Bung Karno secara detail menyebutkan Surabaya sebagai kota kelahirannya. Namun, informasi ini muncul tidak di saat Sukarno menceritakan kelahirannya, melainkan ketika bercerita mengenai orangtuanya, Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.

Pernikahan orangtuanya, menurut Bung Karno, begitu pelik karena perbedaan agama. Apalagi, ibunya merupakan kerabat Raja Singaraja, meskipun sang ayah merupakan keturunan Sultan Kediri.

“Bapak seorang Islam theosofi dan ibu seorang Bali Hindu-Buddha,” katanya.

Untuk menikah secara Islam, mereka kemudian harus pergi dari Singaraja. Setelah menikah, orangtua Sukarno pun meninggalkan Bali, saat itulah Sang Putra Fajar dilahirkan.

“Karena bapak merasa tidak disukai orang di Bali, dia kemudian mengajukan permohonan kepada Departemen Pengajaran untuk dipindahkan ke Jawa. Bapak dikirim ke Surabaya dan di sanalah Putra Sang Fajar dilahirkan,” ucap Soekarno.

Sementara menurut sejarawan Peter Kasenda, Orde Baru sengaja mengaburkan sejarah Bung Karno demi kepentingan politik. Kekeliruan ini juga terkait kota kelahiran proklamator yang memiliki nama lahir Koesno Sosrodihardjo tersebut.

“Bung Karno jelas lahir di Surabaya, sesuai dengan pengetahuan sejarah saya. Keterangan tempat lahir Bung Karno di Blitar dipublikasikan di zaman Orde Baru. Ini bentuk pengaburan sejarah yang berbau politik,” tutur Peter Kasenda, dikutip dari Harian Kompas pada 2 Juni 2015.

Kemudian, peneliti lembaga Institut Soekarno, Peter A Rohi, menduga ada kesalahan yang disengaja dalam penerjemahan biografi Soekarno yang ditulis oleh Cindy Adams, sehingga kelahirannya di Blitar. Padahal, menurut Rohi, berbagai referensi yang terbit sebelum 1966 menyebut kelahiran Sukarno di Surabaya.

“Buku itu diterjemahkan oleh tim penulis sejarah dari ABRI (TNI) dengan menyebutkan Bung Karno lahir di Blitar,” kata Peter A Rohi.

Guru Besar Universitas Pertahanan Salim Said menyatakan bahwa sulit untuk meluruskan kesalahan sejarah pada masa Orde Baru itu. Sebab, menurut dia, pengetahuan bahwa Bung Karno lahir di Blitar juga masuk ke ranah pendidikan formal.

“Referensi itu meliputi buku-buku yang diterbitkan di ranah pendidikan formal hingga poster yang dijual bebas,” katanya, dikutip dari Harian Kompas yang terbit 7 Juni 2015. “Sangat sulit saat itu meluruskan, apalagi meneliti Sukarno. Selain karena sikap represif Orba, kita juga harus izin pemerintah.”

Kita tahu, Surabaya tak hanya tempat Bung Karno lahir. Di kota yang kelak dikenal sebagai Kota Pahlawan inilah Putra Sang Fajar tergugah kesadaran nasionalismenya, terutama ketika mondok di rumah mentor para aktivis pergerakan, Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Pemerintah Kota Surabaya sendiri telah menyatakan bahwa sebuah rumah di kawasan Peneleh, Surabaya, sebagai tempat lahir Sukarno pada 6 Juni 2011. Lalu pada 2013, Pemkot Surabaya menjadikan rumah itu sebagai bangunan cagar budaya. Penetapan berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/321/436.1.2/2013.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.