Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan kinerja perbankan pada kuartal II 2026 masih relatif terjaga, meski ruang pertumbuhan lebih terbatas dibandingkan awal tahun.
Dari sisi dasar kinerja, perbankan masih ditopang oleh pertumbuhan kredit yang mendekati dua digit, dana pihak ketiga (DPK) yang masih kuat, likuiditas yang memadai, kualitas kredit yang terkendali, dan modal yang tebal.
"Ini menunjukkan bahwa gejolak pasar keuangan belum berubah menjadi tekanan sistemik terhadap industri perbankan," kata Josua saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.
Namun, ia mengingatkan bahwa gejolak rupiah, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), arus keluar dana asing dari saham, serta kekhawatiran terhadap arah kebijakan fiskal dan stabilitas pasar tetap akan membuat bank lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit dan mengelola risiko.
"Kinerja bank pada kuartal II kemungkinan masih ditopang oleh dasar usaha yang kuat, terutama dari kredit korporasi, kredit investasi, dan konsumsi rumah tangga yang masih berjalan," kata dia.
Josua menjelaskan dampak ketidakpastian pasar mulai terlihat melalui beberapa jalur, salah satunya biaya dana berpotensi meningkat apabila bank harus menawarkan bunga simpanan lebih menarik untuk mempertahankan likuiditas.
Jalur kedua yakni pelemahan rupiah dapat menekan debitur yang memiliki kebutuhan impor atau utang valuta asing tanpa pelindung nilai yang memadai.
Jalur terakhir yakni kenaikan imbal hasil SBN dapat menekan nilai surat berharga yang dimiliki bank, terutama jika dicatat berdasarkan harga pasar.
"Jadi, dampaknya (dampak kinerja perbankan seiring gejolak pasar keuangan) belum besar pada kinerja inti, tetapi tekanan mulai muncul pada biaya dana, margin keuntungan, dan pengelolaan risiko pasar," jelas Josua.
Apabila gejolak pasar berlanjut hingga paruh kedua tahun ini, ia menilai prospek perbankan masih cukup tahan, tetapi pertumbuhan laba bisa lebih moderat.
Bank besar dengan dana murah kuat, modal tebal, kualitas debitur baik, dan pengelolaan risiko valuta asing yang disiplin akan lebih mampu bertahan.
Sebaliknya, bank yang lebih bergantung pada deposito berbunga tinggi, memiliki ruang likuiditas lebih sempit, atau banyak membiayai sektor yang sensitif terhadap kurs dan suku bunga akan lebih rentan.
"Dalam skenario tekanan berlanjut, kredit tetap tumbuh, tetapi bank akan lebih selektif. Artinya, industri perbankan tidak masuk fase pelemahan tajam, tetapi memasuki fase pertumbuhan yang lebih hati-hati," kata Josua.
Ia juga mengingatkan jika pertumbuhan kredit melambat bersamaan dengan kenaikan kredit bermasalah dan penurunan dana murah, tekanan pasar dapat dikatakan mulai masuk ke kinerja perbankan.
Namun, jika kredit tetap tumbuh, likuiditas masih kuat, dan kredit bermasalah terkendali, maka gejolak pasar masih dapat diserap dengan baik.
Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit perbankan pada April 2026 tumbuh sebesar 9,98 persen secara tahunan (yoy) menjadi sebesar Rp8.755 triliun.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 19,48 persen, diikuti oleh kredit konsumsi sebesar 6,13 persen, sedangkan kredit modal kerja sebesar 6,04 persen.
Di sisi lain, DPK tumbuh sebesar 11,39 persen (yoy) menjadi Rp10.077 triliun, dengan giro, deposito dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 16,99 persen (yoy), 8,65 persen (yoy), dan 9,00 persen (yoy).
Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,17 persen dan NPL net terjaga di level 0,84 persen. Sementara itu, capital adequacy ratio (CAR) sebesar 23,97 persen, menandakan ketahanan permodalan perbankan yang kuat sebagai bantalan mitigasi risiko yang memadai.





