Kelas Menengah Kian Cemas Soal Keuangan, Kenaikan Biaya Hidup Jadi Pemicu
rival al manaf June 11, 2026 05:56 PM

TRIBUNJATENG.COM –  Naiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar hingga kenaikan harga BBM dikhawatirkan akan berdampak pada kenaikan biaya hidup.

Akibatnya kekhawatiran terhadap kondisi keuangan semakin dirasakan oleh masyarakat kelas menengah di Indonesia.

Di tengah kenaikan biaya hidup yang terjadi secara konsisten, meningkatnya biaya layanan kesehatan, serta ketidakpastian pendapatan di masa mendatang, banyak keluarga merasa perlu memiliki perencanaan keuangan yang lebih matang untuk menjaga stabilitas ekonomi mereka.

Baca juga: Diskon 30 Persen Naik Kapal Pelni Selama Libur Sekolah, Penumpang Semarang Ditarget 6.000 Tiket

Baca juga: UPDATE Pembangunan Sekolah Rakyat di Cilacap, Tahun Pertama Terima 270 Siswa

Fenomena tersebut sejalan dengan hasil FWD Consumer Outlook Survey di Indonesia yang dilakukan oleh FWD Group bersama Ipsos.

Survei tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 66 persen responden mengaku masih merasa stres, khawatir, atau sekadar "bertahan" secara finansial.

Sementara itu, hanya 34 persen yang merasa cukup percaya diri atau aman terhadap kondisi keuangan mereka.

Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan rasa aman di tengah perubahan ekonomi dan dinamika kehidupan sehari-hari.

Di Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang yang dikenal sebagai salah satu pusat pertumbuhan profesional muda, pelaku usaha, dan keluarga produktif, kebutuhan terhadap solusi perencanaan keuangan yang terarah juga semakin terasa.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Jawa Tengah menjadi salah satu dari tiga provinsi dengan penyerapan tenaga kerja ekonomi kreatif tertinggi di Indonesia.

Pertumbuhan kelompok masyarakat produktif tersebut turut mendorong meningkatnya kesadaran akan pentingnya perlindungan finansial dan pengelolaan keuangan jangka panjang.

Menurut Direktur Utama PT FWD Insurance Indonesia, Jeffrey Woo, kebutuhan masyarakat saat ini tidak lagi hanya sebatas perlindungan terhadap risiko, tetapi juga kepastian dalam merencanakan masa depan.

"Kami memahami bahwa di tengah berbagai perubahan yang terjadi saat ini, banyak masyarakat ingin memiliki masa depan yang lebih tenang dan terarah.

Karena itu, kebutuhan akan perlindungan kini tidak hanya soal berjaga-jaga terhadap risiko yang mungkin terjadi, tetapi juga menghadirkan manfaat tunai yang terstruktur serta kepastian dalam perencanaan keuangan, sehingga nasabah merasa yakin dalam merencanakan masa depan dan bisa fokus menjalani hidup," ujar Jeffrey Woo dalam keterangan tertulis.

Ia menambahkan bahwa masyarakat membutuhkan solusi yang mudah dipahami sekaligus mampu memberikan rasa aman dalam jangka panjang.

"Melalui FWD Income Prosperity, kami ingin menghadirkan solusi perlindungan yang relevan dan mudah dipahami, sehingga masyarakat dapat merayakan setiap momen dalam kehidupannya," katanya.

Sebagai respons terhadap kebutuhan tersebut, FWD Insurance memperkenalkan produk Asuransi Jiwa FWD Income Prosperity di Semarang.

Produk ini dirancang untuk membantu masyarakat menjaga kestabilan keuangan sekaligus merencanakan masa depan dengan lebih tenang melalui manfaat tunai tahunan yang terstruktur.

FWD Income Prosperity menggabungkan manfaat tunai tahunan dengan perlindungan jiwa, sehingga memberikan visibilitas yang lebih jelas dalam perencanaan keuangan jangka panjang.

Produk ini menawarkan manfaat tunai tahunan sebesar 14 persen atau 17 persen dari premi tahunan sesuai pilihan nasabah, serta manfaat akhir masa asuransi sebesar 108 persen dari total premi yang dibayarkan selama periode program hingga 31 Desember 2026.

Selain itu, produk ini juga memberikan kemudahan berupa guaranteed issue offer tanpa pemeriksaan kesehatan untuk uang pertanggungan hingga Rp2 miliar.

Perlindungan juga mencakup manfaat meninggal dunia hingga 130 persen dari premi yang telah dibayarkan, perlindungan tambahan akibat kecelakaan, serta pembebasan premi apabila terjadi cacat tetap total akibat kecelakaan maupun penyakit.

Di sisi lain, kebutuhan akan solusi keuangan yang mudah dipahami semakin relevan dengan kondisi literasi keuangan masyarakat saat ini.

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan kesenjangan antara tingkat inklusi keuangan dan literasi keuangan melebar menjadi 14,05 persen, dibandingkan 9,59 persen pada tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa meskipun akses masyarakat terhadap layanan keuangan semakin luas, pemahaman dalam mengelola dan merencanakan keuangan masih perlu diperkuat.

Karena itu, kehadiran produk yang menawarkan perlindungan sekaligus kepastian manfaat dinilai dapat menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat kelas menengah yang tengah mencari stabilitas di tengah berbagai tantangan ekonomi.

Dengan tekanan biaya hidup yang terus meningkat dan ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi, kebutuhan akan perencanaan keuangan yang lebih terarah diperkirakan akan terus menjadi perhatian utama masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.