Psikolog Abdi Keraf Imbau Publik Tidak Berspekulasi Terkait Tragedi Ayah dan Anak di Manggarai Timur
Gordy Donovan June 12, 2026 12:47 PM

Oleh: Abdi Keraf, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog, Dosen Program Studi Psikologi FKM Undana Kupang

TRIBUNFLORES.COM, BORONG – Psikolog sekaligus dosen Program Studi Psikologi FKM Universitas Nusa Cendana, Abdi Keraf, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog, menyampaikan duka cita mendalam atas peristiwa tragis yang terjadi di Kabupaten Manggarai Timur.

Menurut Abdi Keraf, peristiwa tersebut menimbulkan kehilangan dan kesedihan yang besar bagi keluarga, kerabat, dan masyarakat. Ia menilai kejadian itu menjadi pengingat bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari kesehatan manusia secara menyeluruh.

"Peristiwa seperti ini mengguncang akal sehat dan rasa kemanusiaan kita. Namun, dari sudut pandang psikologi, perilaku manusia tidak selalu dapat dipahami secara sederhana," ujar Abdi kepada TRIBUNFLORES.COM, Jumat (12/6/2026).

Abdi menjelaskan, di balik tindakan ekstrem yang dilakukan seseorang sering kali terdapat tekanan psikologis, konflik, dan pergulatan batin yang berlangsung dalam waktu lama. Berbagai persoalan tersebut dapat tersimpan begitu dalam sehingga tidak terlihat oleh lingkungan sekitar.

Baca juga: Polisi Ungkap Kronologi Ayah dan Anak Tewas di Matim, Diduga Bunuh Anak Lalu Akhiri Nyawa Sendiri

Puncak Gunung ES

Ia mengatakan perilaku seseorang merupakan hasil interaksi yang kompleks antara kondisi pribadi, pengalaman hidup, relasi sosial, serta berbagai tekanan yang dihadapinya. Karena itu, ketika tragedi terjadi, masyarakat umumnya hanya melihat dampak yang muncul di permukaan.

"Yang terlihat sering kali hanyalah puncak gunung es. Sementara berbagai dinamika psikologis yang mendasarinya mungkin telah berkembang jauh sebelumnya tanpa disadari banyak orang," katanya.

Abdi juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini, seperti tekanan ekonomi, perubahan sosial yang cepat, tuntutan hidup yang semakin kompleks, hingga perubahan pola hubungan dalam keluarga. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi sumber tekanan psikologis apabila tidak diimbangi dengan kemampuan beradaptasi dan dukungan sosial yang memadai.

Sebagai psikolog, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta, lembaga sosial kemasyarakatan, hingga keluarga untuk memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan mental masyarakat.

Ia menegaskan bahwa individu yang mengalami tekanan psikologis berat tidak selalu menunjukkan tanda-tanda yang mudah dikenali. Seseorang dapat tetap menjalani aktivitas sehari-hari dan tampak baik-baik saja di hadapan orang lain.

Karena itu, Abdi mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru memberikan stigma, menyalahkan pihak tertentu, maupun membangun spekulasi yang belum tentu sesuai dengan fakta.

Ia meminta masyarakat memberikan ruang kepada aparat penegak hukum untuk melakukan penyelidikan secara objektif sehingga seluruh fakta dapat terungkap dengan jelas.

Selain itu, ia mengajak masyarakat memperkuat kepedulian sosial dengan membangun komunikasi yang lebih hangat dalam keluarga serta menciptakan lingkungan yang aman bagi setiap orang untuk mengungkapkan kesulitan dan beban yang dihadapi.

Baca juga: Ayah dan Anak di Manggarai Timur Ditemukan Tewas dalam Rumah, Polisi Turun ke TKP

"Terkadang percakapan sederhana dan perhatian yang tulus dapat menjadi sumber kekuatan bagi seseorang yang sedang berada dalam masa-masa sulit," ujarnya.

Abdi juga menekankan bahwa mencari bantuan psikologis bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian dan tanggung jawab terhadap diri sendiri. Dukungan keluarga, tokoh agama, tokoh masyarakat, maupun tenaga profesional dinilai dapat membantu seseorang menemukan harapan dan jalan keluar yang lebih sehat.

Ia berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi masa duka, serta masyarakat Manggarai Timur memperoleh ketenangan.

Menurutnya, tragedi tersebut harus menjadi pembelajaran bersama tentang pentingnya kesehatan mental, keharmonisan keluarga, dan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat.


Tewas dalam Rumah


Pihak Kepolisian dari Polres Manggarai Timur, Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) bergerak cepat melakukan penanganan terhadap peristiwa ayah dan anak di Manggarai Timur ditemukan meninggal dunia di dalam rumah di kecamatan Lamba Leda Timur, Kamis 11 Juni 2026 sekitar pukul 16:30 Wita 

Kapolres Manggarai Timur, AKBP Haryanto, S.H., S.I.K., M.M., CPHR, melalui Kasat Reskrim Polres Manggarai Timur Iptu Ahmad Zacky Shodri, kepada TRIBUNFLORES.COM, Jumat 12 Juni 2026 pagi, mengungkap kronologi dan dugaan penyebab kematian ayah dan anak tersebut. 

Zacky menerangkan, identitas dari ayah dan anak yang ditemukan meninggal dunia dalam rumah mereka itu. Ayah berinisial YGRD (34) dan anaknya berinisial ABZD (7).

Zacky juga menerangkan kronologi berdasarkan hasil olah TKP dan hasil pengumpulan bahan dan keterangan (Pulbaket) keterangan dari para saksi yakni NM ibu kandung korban, DSNA adik kandung korban, dan AA tetangga korban yang pertama kali melihat kedua korban dalam kondisi meninggal dunia di dalam rumah mereka. 

Keterangan dari NM, ia bersama anaknya DSNA yang merupakan adik kandung dari korban YGRD pergi ke Borong sejak pagi hari dan pulang kembali pada pukul 16.00 Wita.
 
Ketika sampai di rumah, rumah dalam keadaan terkunci dari dalam, kemudian mereka memanggil kedua korban, namun tidak kunjung mendapat jawaban. 

NM ibu kandung korban, kemudian merasa curiga dan mengintip ke dalam rumah melalui jendela kamar dan melihat korban ABZD dalam posisi terbaring di atas tempat tidur.

Kemudian NM dan DSNA memanggil saksi AA untuk membantu membongkar jendela agar bisa masuk ke dalam rumah. 

Setelah dibongkar kemudian AA masuk dan  membukakan pintu depan dan ketika masuk di dalam rumah, para saksi menemukan  kedua korban sudah tak bernyawa.

Melihat kejadian tersebut NM berteriak dan memanggil warga sekitar untuk menghubungi pihak Kepolisian dan tenaga medis terdekat. 

Mendengar laporan tersebut Anggota Bhabinkamtibmas dan Petugas Puskesmas Lawir langsung bergerak cepat ke lokasi TKP. 

Zacky juga menerangkan, selanjutnya kedua jenazah korban dilakukan pemeriksaan yang dilakukan oleh Petugas medis Puskesmas Lawir terhadap fisik jenazah korban dimana korban YGRD meninggal dunia murni akhiri hidupnya sendiri. 

Sedangkan, anaknya berinisial ABZD dari hasil Visum Et Repertum yang dilakukan oleh pihak medis yakni dr. Netralman TN Bulolo pada tubuh korban yakni pelipis kanan korban terdapat lebam dan pada hidung korban terdapat cairan. 

Diagnosa dokter, bahwa korban meninggal karena kekurangan oksigen diduga korban di bekap oleh ayahnya yaitu korban YGRD hingga korban tidak bernafas dan meninggal dunia. 

Diduga Depresi Karena Digugat Cerai Istrinya

Zacky menerangkan, diduga korban YGRD sebelum akhiri hidupnya sendiri, terlebih dahulu membunuh korban ABZD yang merupakan anaknya. 

Zacky juga menerangkan, penyebab korban YGRD mengakhiri hidupnya sendiri dan mengakhiri hidup anaknya ABZD diduga karena korban merasa depresi permasalahan dalam keluarga yang mana saat ini YGRD sedang dalam masa gugatan perceraian yang dilaporkan oleh istrinya. 

Zacky juga menerangkan, sejak permasalahan keluarga yang dialami, korban dan istri sudah tidak tinggal serumah, yang kemudian korban YGRD memutuskan untuk membawa korban ABZD kembali ke kampung ke rumah orang tuanya.

Semenjak itu, korban ABZD sudah tidak bersekolah lagi karena diketahui bahwa korban ABZD sebelumnya bersekolah di salah satu sekolah dasar di Kota Borong. 

Catatan Penting: 

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, depresi, atau memiliki pemikiran untuk bunuh diri, segera cari bantuan profesional. 

Berikut adalah panduan dan sumber bantuan yang dapat diakses:

Panduan Pencegahan Bunuh Diri (Jangan Putus Asa)

Jika Anda merasa putus asa, ingatlah bahwa depresi dan gangguan kejiwaan dapat disembuhkan dengan bantuan profesional kesehatan mental. 

Cari Bantuan Profesional: Segera hubungi psikolog atau psikiater.
Bercerita pada Orang Terpercaya: Jangan memendam masalah sendiri. Ceritakan beban Anda kepada sahabat, keluarga, atau orang yang Anda percayai.

Hindari Kesepian: Saat pikiran negatif muncul, usahakan berada di sekitar orang lain atau hubungi seseorang. 

Sumber Bantuan di Indonesia

Into The Light Indonesia: Komunitas pencegahan bunuh diri. Anda dapat mencari informasi atau dukungan melalui situs mereka di www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri.

Layanan Sejiwa 119: Layanan konseling krisis kesehatan jiwa yang disediakan oleh Kemenkes (dapat dihubungi melalui telepon 119).

Rumah Sakit Jiwa atau Puskesmas: Fasilitas kesehatan terdekat biasanya memiliki layanan psikolog atau psikiater. 

Tanda-tanda Bahaya (Perlu Waspada)
Jika orang terdekat menunjukkan tanda-tanda ini, mohon berikan perhatian khusus:
Membicarakan tentang keinginan mati atau bunuh diri.
Mengisolasi diri dari teman dan keluarga.
Menunjukkan perubahan suasana hati yang drastis.
Mengungkapkan rasa putus asa atau tidak memiliki jalan keluar. 
Bunuh diri bukanlah jalan keluar dan ada banyak pihak yang peduli serta bersedia membantu Anda melewati masa sulit.(rob) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.