Oleh Gita surani, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unesa
Drama china (c-drama ) kini Tengah menikati masa keemasannya dipanggung hiburan global. Dari kisah romansa berlatar belakang kantor hingga fiksi Sejarah yang megah, jutaan pasang mata di seluruh dunia terpikat oleh pesona visual dan alur cerita yanng dramatis.
Namun dalam kacamata ilmu komunikasi , media hiburan tidak pernah menjadi sekedar cermin realitas (mirror of reality) melainkan sebuah arena diaman ideologi di reproduksi secara massif.
Di balik kemasan visual yang memukau, industri raksasa ini masih terjebak dalam praktik reproduksi ketidaksetaraan gender melalui formula naratif yang usang dan terus diulang.
Formula naratif yang sering disajikan sangatlah klise:
Karakter utama perempuan (female lead) digambarkan naif, lalu ditipu, dieksploitasi, dan dijatuhkan ke titik nadir oleh keluarganya sendiri. Di tengah keputusasaan tersebut, solusi instan tiba melalui karakter utama pria (male lead) seorang CEO, pangeran, atau penguasa mutlak yang turun tangan menyelesaikan semua masalah dan mengangkat kembali derajat sang perempuan.
Pola ini bukan sekadar kebetulan penulisan skenario, melainkan sebuah bentuk Konstruksi Representasi sebagaimana dikemukakan oleh tokoh Cultural Studies, Stuart Hall (1997). Hall menegaskan bahwa representasi di media massa adalah proses memberikan makna terhadap suatu kelompok (Hall, 2024). Dalam hal ini, C-Drama secara konsisten merepresentasikan perempuan sebagai entitas yang lacking (kurang) dan kehilangan agensinya saat dihadapkan pada krisis nyata, sehingga selalu membutuhkan intervensi maskulinitas untuk bertahan hidup.
Bahayanya, repetisi narasi ini memicu apa yang dijelaskan oleh George Gerbner (1976) melalui Teori Kultivasi (Cultivation Theory) dalam tulisan (Rachman, 1976) bahwa teori ini mulanya dilatar belakangi oleh fenomena media massa telivisi pada 1960an yang menayangkan tayangan tontonan kekerasan. Hal ini dikritik oleh masyaraaakat amerika dan para orang tua yang khawatir pada dampaknya pada relitas sosial. Teori ini adalah sebuah pemahaman yang menjelaskan formasi dan pembentukan jangka Panjang dari suatu persepsi , keyakinan mengenai dunia sebagai akibat dari konsumsi dari narasi pesan-pesan media.
Dalam C-dramaa penonton terus-menerus mengonsumsi narasi "perempuan lemah yang diselamatkan pria berkuasa" akan secara tidak sadar mengultivasi (menanamkan) keyakinan bahwa begitulah cara dunia nyata bekerja. Drama televisi menormalisasi gagasan bahwa perempuan pada kodratnya adalah makhluk dependen.
Banyak produser C-Drama modern membela diri dengan mengklaim bahwa karakter perempuan mereka kini digambarkan sebagai wanita karier yang vokal atau "independen". Namun, pakar media feminis Angela McRobbie (2004) dan Liesbet van Zoonen (1994) menyebut fenomena ini sebagai ilusi pemberdayaan semu dalam budaya Post-Feminism. Pada November 2024 pemerintah china dengan tegas mengeluarkan kebijakan membatasi C-Drama yang bertemakan CEO kaya dan gadis miskin, hal ini dilakukan karena pemerintah china menilai bahwa C-Drama akan membentuk para anak muda bahwa kesuksesan bisa instan dengan menikahi pria kaya(KOMPAS, n.d.).
Industri media kapitalis sekadar melakukan komodifikasi feminism menjadikan kemandirian perempuan sebagai kosmetik (gaya berpakaian, dialog tajam di awal episode) agar laku dijual kepada audiens perempuan modern. Namun pada artikulasi plot utamanya, resolusi konflik dan kesuksesan sang perempuan tetap disubordinasikan di bawah privilese, uang, atau kekuasaan mutlak si pria pahlawan.
Mengapa penonton (yang mayoritas perempuan) justru menyukai dan menikmati plot penundukan ini?
Di sinilah konsep Hegemoni dari Antonio Gramsci beroperasi secara brilian dalam kebudayaan popular dalam jurnal (Ali, 2017). Hegemoni patriarki dalam C-Drama tidak bekerja melalui paksaan atau kekerasan fisik, melainkan melalui konsensus (consent).Dominasi laki-laki dibungkus dengan sangat manis melalui estetika visual, tata musik, dan romantisasi tindakan "melindungi". Penonton dibuat baper (terbuai dopamin) sehingga mereka dengan sukarela menyetujui dan menikmati relasi kuasa yang timpang tersebut, menganggapnya sebagai bentuk "cinta sejati", bukan sebagai bentuk represi agensi perempuan.
Meskipun narasi "pria berkuasa menyelamatkan perempuan malang" masih menjadi mesin pencetak uang bagi industri, gelombang resistensi mulai muncul berkat pergeseran karakter audiens.Dalam model komunikasi Encoding/Decoding milik Stuart Hall (1980), khalayak tidaklah pasif. Penonton masa kini yang semakin melek literasi gender mulai melakukan apa yang disebut sebagai Oppositional Reading (Pembacaan Oposisional).
Salah satu mahasiswi ilmu komunikasi penjurusan comdev memberikan opini “ ketertarikan pada C-Drama serinngkali melewati tontonan promosi clipper, dan plot yang sama membuat kejenuhan bahkan kerap kali ia merasa kenapa sosok Perempuan selalu sanagt mudah ditindas ”.
Sudah saatnya industri C-Drama berbenah dan keluar dari zona nyaman hegemoni patriarki. Sebab, produk komunikasi massa yang berkualitas tidak hanya diukur dari seberapa kuat ia memanipulasi emosi penontonnya, melainkan dari seberapa adil dan manusiawi ia mampu merepresentasikan martabat serta kapasitas setiap karakternya, terlepas dari apa pun gendernya.