TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Modus penipuan dengan pencatutan nama pejabat daerah yang telah terjadi berulang kali tentu menjadi perhatian di Kabupaten Tana Tidung, Kalimantran Utara.
Pelaku memanfaatkan aplikasi WhatsApp dan berbagai media komunikasi lainnya untuk menghubungi calon korban dengan mengatasnamakan pejabat daerah dan meminta sejumlah uang.
Bahkan, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Tana Tidung, Yungkul, mengaku namanya sempat dicatut oleh oknum tidak bertanggung jawab tidak lama setelah dirinya dilantik sebagai Kasat Pol PP pada 2 Juni 2026 lalu.
Yungkul menyampaikan, pelaku diduga memanfaatkan informasi terkait pelantikan pejabat daerah baru untuk melancarkan aksinya.
Baca juga: Waspada Akun Palsu, Bupati Tana Tidung Ibrahim Ali Tegaskan Modus Penipuan Catut Namanya
"Modus penipuan itu kan macam-macam, mungkin mereka dapat informasi ada pejabat daerah baru dilantik untuk dapat salah satu posisi di Satpol PP TanaTidung ini," ujar Yungkul kepada TribunKaltara.com, Sabtu (14/6/2026).
Ia katakan pelaku menghubungi salah satu staf Satpol PP Tana Tidung dan mengaku sebagai Kepala Satpol PP Tana Tidung yang baru dilantik.
Pelaku meminta sejumlah uang dengan alasan untuk mendukung kegiatan sosial yang disebut-sebut merupakan kegiatan Bupati Tana Tidung.
"Akhirnya mereka beraksi jadi mereka mencantumkan nama kita untuk minta uang kepada salah satu staf bahwa itu perintah dari atasan. Untuk kegiatan sosial itu kan salah satu penipuan, kalau staf kita tidak jeli dia transfer kena penipuan. Sudah kebetulan pada saat dia nelpon itu kan saya ada di situ," katanya.
Yungkul menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterimanya, pelaku menghubungi staf dan memperkenalkan diri sebagai Kasat Pol PP yang baru.
Pelaku kemudian meminta bantuan dana dan mengarahkan agar uang tersebut dikirim kepada seseorang yang disebut sebagai asisten pribadi Bupati.
Baca juga: Pasutri Korban Dugaan Penipuan Istri Polisi Tempuh Jalur Hukum, Pengacara Tunggu Proses Kepolisian
"Yang jelas kronologinya tiba-tiba staf saya dapat telepon mengatasnamakan Kepala Satpol PP. Dia bercerita bahwa dia adalah saya, Kepala Satpol PP yang baru, jadi dia minta uang dalam rangka mendukung kegiatan sosial dan itu adalah kegiatan Pak Bupati, nanti mohon dikirim ke aspri," jelasnya.
Namun, staf yang dihubungi tidak langsung percaya dan berupaya mengonfirmasi identitas orang yang dimaksud.
Pelaku justru memberikan jawaban yang tidak meyakinkan saat ditanya lebih lanjut.
"Dan dikonfirmasi oleh staf saya, aspri ini siapa. Kemudian staf saya tanya nanti saya kirim ke mana ini, bilangnya nanti saya tunjuk orangnya, dia aspri Bupati tapi kamu tidak tahu orangnya," ujarnya.
Merasa curiga, staf tersebut kemudian mencoba menggali informasi lebih jauh hingga pelaku diduga menyadari bahwa aksinya mulai diketahui.
Sebelum menghilang, pelaku sempat mengirimkan nomor rekening tujuan transfer.
"Cuman mungkin dia tahu staf saya mancing-mancing jadi dia mulai paham kayaknya ditipu balik. Dari situ dia sempat kirim nomor rekening tapi sudah dihapus. Untungnya sempat di-screenshot sama staf saya dan sekarang nomornya sudah tidak aktif," katanya.
Yungkul mengaku hingga saat ini pihaknya belum mengetahui bagaimana pelaku memperoleh nomor telepon para staf maupun informasi terkait pejabat yang baru dilantik.
"Kita juga tidak paham mereka itu cara kerjanya bagaimana dan mereka siapa-siapa saja kok bisa dapat nomor langsung nelpon," ucapnya.
Meski demikian, sejauh ini belum ada laporan masyarakat di Kabupaten Tana Tidung yang menjadi korban penipuan dengan modus serupa.
"Kalau laporan dari warga yang kena penipuan seperti itu belum ada, masih aman. Mungkin mereka langsung cancel, apalagi kita sudah sering melihat yang seperti itu kan, kita harus hati-hati dan harus cek dulu ini informasi dari mana," tuturnya.
Menurut Yungkul, modus penipuan dengan memanfaatkan kepanikan korban sebenarnya bukan hal baru.
Sebelumnya, pelaku juga kerap menggunakan berbagai alasan untuk meminta uang, mulai dari pembelian pulsa hingga kabar palsu mengenai anggota keluarga yang disebut mengalami kecelakaan atau terlibat kasus hukum.
"Kalau dulu kan sering tuh kejadian-kejadian kayak gini mulai dari pulsa mereka minta, informasi anak lagi kena kasus narkoba atau kecelakaan dan ditangkap polisi, langsung mereka minta uang. Kalau kita panik langsung transfer," katanya.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar selalu memverifikasi setiap informasi yang diterima, terutama yang berkaitan dengan permintaan uang atau bantuan tertentu.
"Himbauan dari saya itu yang pertama kita harus hati-hati kalau seandainya itu menimpa kita. Kita harus betul-betul cek kebenaran informasi itu. Kalau kejadian itu di desa, kita tanya ke tetangga kita yang lain, kita segera ambil tindakan lapor ke aparat desa atau lapor ke polisi," tegasnya.
Ia juga meminta masyarakat untuk saling berbagi informasi apabila menemukan indikasi penipuan agar semakin banyak warga yang waspada dan tidak menjadi korban.
"Yang jelas tingkatkan kewaspadaan, kita saling bertukar informasi kepada sesama warga agar warga waspada jika ada penipuan-penipuan seperti itu," pungkasnya.
(*)
Penulis : Rismayanti