TRIBUN-TIMUR.COM, PAREPARE -- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai mempengaruhi industri pelayaran domestik.
Melonjaknya biaya komponen operasional lain memaksa operator kapal cepat mengambil langkah taktis guna mempertahankan kelayakan pelayanan.
Manajer Cabang PT Dharma Lautan Utama (DLU) Parepare, Budiono mengatakan, dampak dari fluktuasi harga BBM secara umum mulai dirasakan industri pelayaran.
Mengoperasikan armada kapal besar menurutnya tidak hanya soal bahan bakar, melainkan ada variabel lain yang harganya ikut terkerek naik.
"Dampak secara langsung pasti ada. Komponen mengoperasikan kapal ini kan tidak hanya BBM saja. Kebetulan kalau BBM subsidi harganya masih sama, belum naik. Tapi komponen lainnya banyak, termasuk biaya spare part (suku cadang) yang rata-rata harus diimpor dari luar negeri," katanya kepada Tribun-Timur.com, Sabtu (13/6/2026).
Budiono mengungkapkan, selain suku cadang impor yang kian mahal, biaya perawatan berkala seperti proses docking (pengedokan kapal) juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Lonjakan biaya-biaya pendukung inilah akhirnya membuat beban operasional yang tinggi bagi pihak pelayaran.
"Jadi harga kenaikan BBM secara umum itu yang bikin biaya-biaya mengoprasikan kapal jadi naik," ungkapnya.
Menyiasati pembengkakan biaya tersebut, pihak manajemen DLU telah memberlakukan penyesuaian tarif tiket untuk penumpang maupun kendaraan.
Langkah ini diambil sebagai jalan tengah agar perusahaan tetap bisa memberikan pelayanan prima di tengah tekanan ekonomi.
Kenaikan tarif tersebut diklaim masih dalam batas yang sangat wajar, dengan persentase kenaikan di kisaran 2,5 persen.
"Kenaikannya sebenarnya kecil sekali, tapi angka ini sudah cukup membantu kami untuk mengurangi beban pelayaran dan menjaga kualitas pelayanan kepada penumpang," jelasnya Budiono.
Harga tiket penumpang dari semula di kisaran Rp 300 ribu, disesuaikan menjadi Rp 350 ribu.
Sementara tiket angkutan kendaraan dari Rp 500 ribu menjadi Rp 600 ribu per unit.
Budiono juga membeberkan, terjadi anomali pada pergerakan muatan kapal, khususnya pada sektor logistik.
Pasokan kendaraan logistik ke wilayah Kalimantan justru merosot tajam hingga 60 persen.
Menurutnya, penurunan pasokan logistik disebabkan oleh tingginya harga jual komoditas di pasar domestik Sulawesi saat ini.
"Para pedagang sayur sekarang memilih untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal di Sulawesi saja. Harga di sini sedang sangat bagus dan signifikan naiknya. Bagi mereka, menjual di Sulawesi sudah memberikan untung yang cukup tanpa harus menanggung risiko dan biaya kirim ke Kalimantan," bebernya.
Saat ini, hanya sekitar 40 persen armada logistik yang tetap menyeberang ke Kalimantan dan mereka umumnya terikat kontrak kerja sama pemenuhan pasokan.(*)