Jakarta (ANTARA) - Badan Gizi Nasional (BGN) akan memfokuskan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada kelompok yang dinilai paling membutuhkan intervensi gizi, seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak usia dini.

Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengemukakan siswa SMA, utamanya dari kalangan mampu, berpotensi tidak lagi menjadi sasaran program. Kebijakan ini diperkirakan mengurangi sekitar delapan juta penerima manfaat dan menekan kebutuhan anggaran.

"Tujuan program ini kan bagaimana supaya indikator tujuan intervensi gizi ini tercapai, tetapi penerima manfaatnya lebih fokus, misalnya mungkin SMA ya, tidak perlu diberikan lagi MBG, apalagi SMA-SMA yang mungkin uang saku anak-anaknya saja sudah Rp100-200 ribu, mungkin yang high class gitu itu tidak perlu lagi, itu beberapa contoh, sudah akan berkurang sekitar 8 juta penerima manfaat," katanya ditemui usai rapat dengan Komisi IX DPR RI di Jakarta, Senin.

Ia menegaskan, berdasarkan hasil diskusi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) intervensi gizi yang paling tepat yakni di masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) saat otak manusia sedang berkembang maksimal.

"Intervensi gizi sebaiknya dilakukan dari usia kandungan sampai dengan 1.000 hari pertama usia kelahiran, itu volume otak bisa maksimal, lalu sampai dengan 2 tahun itu nanti ada intervensi gizi, bentuknya adalah pemenuhan gizi," ujar dia.

BGN, lanjut dia, terus melakukan penataan ulang atau refocusing penerima manfaat sebagai bagian utama dari perbaikan tata kelola MBG, agar esensi program lebih tepat sasaran.

"Refocusing ini kami perlukan supaya memang pemberian intervensi pemerintah lebih tepat sasaran, kemudian diikuti otomatis dengan angka anggaran yang semakin turun, itu yang keluar ke penerima manfaat," tuturnya.

Setelah menata ulang penerima manfaat, BGN akan fokus untuk menata ulang tata kelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Saat ini, penataan anggaran baru difokuskan pada pengurangan penerima manfaat.

"Termasuk masalah kualitas dapur karena tidak masuk akal ketika kita mengharapkan menghasilkan kualitas yang baik, tetapi dapurnya tidak sesuai dengan kaidah bagaimana flow of cooking (alur memasak) yang baik dan sebagainya lah, itu nanti itu adalah salah satu dampak dari refocusing," paparnya.

Secara internal, lanjut dia, BGN juga akan melakukan transformasi dari mulai dari perbaikan sumber daya manusia hingga tata kelola dapur MBG.

"Jadi mohon bersabar, tapi target kami memang tadi sudah kami sampaikan juga satu bulan ini apa, lalu mungkin 3 bulan ke depan itu apa. Yang jelas, kami juga memanfaatkan momentum untuk libur sekolah ini. Kami akan hentikan semua dan audit semua dapur, sehingga nanti mudah-mudahan ketika anak-anak sudah masuk sekolah, kita sudah lebih baik kondisi di lapangan, lebih rapi," ucap Agustina.