Bikin Hati Adem! Momen Haru Romo Katolik Gendong Kyai Khos di Banyuwangi, Minum Segelas Berdua
Hironimus Rama June 16, 2026 10:35 PM

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BANYUWANGI – Sebuah pemandangan luar biasa yang menggetarkan hati dan mengundang senyum tawa terjadi di Pondok Pesantren Mansyaul Huda, Banyuwangi, pada Minggu malam (14/06/2026).

Malam itu, moderasi beragama bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan tumpah ruah dalam bentuk canda tawa, pelukan, dan sepiring makanan.

Kejutan manis terjadi saat Rm Damianus Fadjar Tedjo Soekarno Pr (Pastor Paroki St. Paulus Kraksaan, Probolinggo) yang datang mengenakan jubah putihnya, langsung memeluk erat dan menggendong KH Fathulloh Suyuti Toha. Kyai khos yang tubuhnya lebih mungil itu tampak sangat bahagia di atas punggung sang Romo.

Baca juga: Simbol Toleransi Beragama, Ini Tujuan Dibangun Terowongan Silaturahim Istiqlal-Katedral

Bukan tanpa alasan, ini adalah sebuah 'kesepakatan' tak tertulis di antara mereka. Setiap kali bertemu, Rm Fadjar yang usianya lebih muda wajib menggendong KH Suyuti yang kini berusia 85 tahun. Pancaran kerinduan tergambar jelas di wajah kedua tokoh agama ini setelah 10 tahun tak bersua.

Keakraban itu berlanjut hingga ke ruang makan kecil di dekat dapur. Pemandangannya sungguh unik sekaligus mengharukan. Keduanya duduk di kursi sambil berseloroh dan bercanda, namun menyantap makanan dengan posisi saling memunggungi.

Tak sampai di situ, saking dekatnya persaudaraan mereka, kedua tokoh beda agama ini bahkan tak canggung meminum air dari satu gelas yang sama! KH Suyuti tampak sangat menikmati cara Rm Fadjar melayaninya malam itu.

Dapur Adalah Kunci Moderasi Beragama

Ruang makan dan dapur di sebuah pondok pesantren bukanlah area sembarangan. Bagi para santri, ruang makan di dalam rumah kediaman Kyai adalah tempat yang sangat sakral.

Oleh karena itu, momen santap malam bersama di dekat dapur ini memiliki makna filosofis yang sangat dalam bagi sebuah toleransi sejati. Hal ini ditegaskan langsung oleh Rm Fadjar.

“Jika orang sudah menerima kita di kamar pribadi dan mengajak santap bersama di ruang makan di dekat dapur, orang itu sudah menganggap kita lebih dari sekadar saudara,” jelas Rm Fadjar dalam keterangan tertulis, Selasa (16/6/2026).

Lebih lanjut, ia memaparkan betapa krusialnya pendekatan kultural yang berujung di meja makan dalam merajut persaudaraan antarumat beragama.

“Di ponpes, mereka yang belum dianggap saudara hanya akan diterima di ruang tamu atau bahkan teras rumah, apalagi diajak makan. Jadi dapur itu adalah kunci yang menggambarkan sedalam apa hubungan antara tuan rumah dan tamunya. Dan kesimpulan saya, dapur dan meja makan adalah kunci keberhasilan moderasi beragama ,” sambung Romo Fadjar.

Persahabatan Seperempat Abad: Duduk Sama Rendah

Hubungan hangat antara KH Suyuti Toha dan Rm Fadjar bukanlah hal baru. Persahabatan mereka telah terjalin selama kurang lebih 25 tahun, bermula sekitar tahun 2000-an saat Rm Fadjar masih bertugas di Paroki St. Yohanes Penginjil, Bondowoso.

Di masa lalu, Rm Fadjar kerap menjadi teman diskusi KH Suyuti dari tengah malam hingga dini hari. Obrolan mereka tak pernah menyinggung perbedaan agama, melainkan berfokus pada negara, bangsa, dan kedalaman spiritual yang berpijak pada akar budaya.

Melihat kondisi ponpes yang kini telah banyak berubah, Rm Fadjar kembali mengenang masa-masa lalunya bersama sang Kyai.

“Saya tidak lupa dengan pondok yang lama. Dan sekarang berubah ada ruang tamu yang berbeda. Dulu juga kalau menerima tamu, Pak Yai (panggilan akrab KH Suyuti Toha - red) selalu menerima di bawah tanpa meja dan kursi. Itu adalah tradisi tanpa perubahan. Siapun tamunya, orang besar atau kecil semua duduk bersila sama tinggi,” ujar Rm Fadjar yang juga tokoh pegiat Dokumen Abu Dhabi ini.

Kedekatan kedua tokoh lintas iman ini juga diamini oleh Sandi Suwardi Hasan (Dirut Lembaga Amil Zakat Nasional) yang turut hadir malam itu.

"Saya melihat Mbah Yai dan Romo Fadjar sangat dekat karena punya semangat dan pandangan yang sama soal persaudaraan sejati, soal bangsa dan negara,“ jelasnya.

Merajut Ukhuwah Wathaniyah dan Basyariyah

Kehadiran Rm Fadjar malam itu sebenarnya untuk mengantarkan AM Putut Prabantoro (alumnus PPSA XXI Lemhannas RI).

Toleransi Beragama di Banyuwangi
TOLERANSI - Romo Damianus Fadjar Tedjo Soekarno duduk saling berpunggungan dengan Ulama Kharismatik KH Fathulloh Suyuti Toha saat makan malam di ruang makan, Pondok Pesantren Mansyaul Huda, Banyuwangi, Minggu malam (14/6/2026).

Kunjungan ini merupakan balasan atas pertemuan pada 30 Mei 2026 lalu, di mana rombongan KH Suyuti Toha—dipimpin oleh Mayjen TNI (Purn) Herianto Syahputera—sempat memberikan kejutan dengan menyambangi kediaman Putut di Yogyakarta.

Pertemuan di Banyuwangi ini menjadi sangat penting sebagai wujud nyata dari apa yang diperjuangkan oleh Majelis Dzikir Nurul Wathon pimpinan KH Suyuti Toha. Yakni, Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air) serta Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan kemanusiaan universal).

Pertemuan hangat nan langka ini turut disaksikan oleh sejumlah tokoh dan pegiat kebangsaan, antara lain Lambertus Widiantoro (Yogyakarta), Lucius Gora Kunjana (Wartawan, Jakarta), Samudra Hasni Shodiq (Surabaya), Syaiful Rizal (Pegiat Kebangsaan, Banyuwangi), Akademisi Universitas PGRI Banyuwangi (Heribertus Wicaksono, Topan Adinata, Andika Ronggo Gumuruh, Hasanan, Arif Subhan) dan Suyanto (Wartawan SelendangSutera).

Setelah asyik berbincang di halaman depan masjid hingga menjelang larut, pertemuan penuh makna itu pun ditutup.

Rm Fadjar pamit, dan sekali lagi, mereka berdua saling berpelukan erat, menyisakan teladan indah tentang bagaimana agama seharusnya menjadi jembatan cinta kasih yang merekatkan keberagaman Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.