BREAKING NEWS: KM ITB Turun ke Jalan di Bandung, Soroti Pelemahan Rupiah hingga Tata Kelola
Seli Andina Miranti June 17, 2026 02:29 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Puluhan mahasiswa dari Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (KM ITB) berkumpul di Monumen Kubus, tepatnya berada di sebrang kampus ITB Ganesa, Kota Bandung, Jawa Barat, menyuarakan pernyataan sikap mereka terkait kondisi bangsa terkini.

Spanduk bertuliskan “Rakyat Sengsara”,  “Evaluasi, Stop Ugal-Ugalan”, “Bangun Ulang Negara Usang” tampak dibentangkan oleh para mahasiswa yang ikut dalam pernyataan sikap tersebut.

Perwakilan KM ITB, Fatur menilai berbagai persoalan yang tengah dihadapi Indonesia saat ini berakar dari tata kelola pemerintahan yang belum berjalan optimal. 

Baca juga: Demo IndonesiaBangkrut di Bandung: Ini 4 Tuntutan KM ITB untuk Selamatkan Ekonomi Nasional

Mulai dari tekanan ekonomi akibat pelemahan nilai rupiah, berkurangnya subsidi bagi masyarakat, hingga minimnya lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri dinilai merupakan dampak dari kebijakan yang belum memprioritaskan sektor-sektor strategis.

Fatur mengatakan pihaknya turut prihatin terhadap kondisi bangsa yang belakangan menjadi sorotan publik. 

Menurutnya, sejumlah persoalan yang muncul tidak dapat dilepaskan dari arah kebijakan pemerintah dalam mengelola anggaran negara dan menentukan prioritas pembangunan.

“Kalau dari penilaian kami, akar masalahnya terletak pada tata kelola pemerintahan yang buruk. Misalnya terkait alokasi APBN yang menurut kami belum memprioritaskan hal-hal strategis seperti pendidikan, kesehatan, dan industrialisasi,” ujar Fatur saat ditemui, Rabu (17/6/2026).

Ia mencontohkan fenomena yang belakangan ramai diperbincangkan terkait pelemahan nilai rupiah yang berdampak pada berkurangnya ruang subsidi pemerintah, khususnya subsidi bahan bakar minyak (BBM). 

Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi menggeser tekanan ekonomi menjadi tekanan sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Fatur menilai depresiasi rupiah bukanlah persoalan yang terjadi secara tiba-tiba. 

Baca juga: Kecewa Cuma Ditemui Sedikit Dewan, Mahasiswa Majalengka Razia Ruangan Fraksi, Ancam Demo Lebih Besar

Tren pelemahan tersebut telah berlangsung dalam waktu yang cukup lama sehingga perlu dicermati lebih jauh penyebab mendasarnya.

“Kami mempertanyakan kenapa tren depresiasi ini sudah berlangsung cukup lama sampai akhirnya muncul gejolak yang membuat rupiah terdepresiasi lebih jauh lagi,” katanya.

Menurut KM ITB, salah satu penyebab mendasar persoalan tersebut adalah lemahnya fondasi industri nasional. 

Selama ini, perekonomian Indonesia masih banyak bergantung pada sektor ekstraktif dan ekspor komoditas mentah sehingga rentan terhadap gejolak global.

Fatur menilai Indonesia perlu memperkuat basis industrialisasi agar memiliki struktur ekonomi yang lebih kokoh dan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar.

“Kalau kami melihat, basis ekonomi Indonesia itu belum cukup kuat karena industrialisasinya juga belum cukup kuat. Banyak pemasukan yang masih bergantung pada ekspor sektor ekstraktif. Karena itu yang perlu diperhatikan adalah bagaimana memperkuat basis industrinya,” ujarnya.

Dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi saat ini, KM ITB menekankan pentingnya pemerintah tetap menempatkan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama. 

Salah satunya dengan mempertahankan berbagai bantalan sosial yang selama ini membantu kelompok rentan menghadapi tekanan ekonomi.

Menurut Fatur, kebijakan efisiensi anggaran seharusnya tidak dilakukan dengan mengurangi program-program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Jangan sampai bantalan sosial seperti subsidi BBM dan program-program yang membantu masyarakat justru dikurangi. Di sisi lain masih banyak anggaran yang sebenarnya bisa diefisiensikan tanpa harus mengorbankan perlindungan sosial tersebut,” katanya.

Baca juga: Tubuh Dibalur Tanah-Mulut Dilakban, Mahasiswa Unla Lakonkan Nestapa Petani yang Tertindas saat Demo

Selain menyoroti kondisi ekonomi, KM ITB juga menilai target penciptaan 19 juta lapangan kerja yang pernah disampaikan pemerintah masih jauh dari harapan. 

Fatur menyebut kondisi tersebut dapat dilihat dari masih banyaknya lulusan perguruan tinggi yang belum bekerja sesuai bidang keahliannya.

Ia menyinggung hasil tracer study alumni ITB yang menunjukkan masih rendahnya tingkat kesesuaian antara bidang studi dan pekerjaan yang dijalani lulusan.

“Bahkan di ITB yang notabene kampus cukup kompetitif, hanya sekitar 30 persen alumni yang bekerja sesuai dengan jurusannya. Ini menunjukkan lapangan kerja yang tersedia belum cukup sesuai dan belum banyak bergerak di sektor-sektor strategis yang mendukung industrialisasi,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa pembangunan sektor industri dan penciptaan lapangan kerja produktif masih memerlukan perhatian serius dari pemerintah.

#TribunBreakingNews

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.