Tribunlampung.co.id, Jakarta - Wacana bergabungnya mantan Presiden RI ke-7, Joko Widodo ke Partai Solidaritas Indonesia kembali menguat dengan sorotan baru dari kalangan pengamat politik yang menilai posisi ideal bagi Jokowi bukan sekadar simbol partai, melainkan sebagai Ketua Umum.
Baca juga: Tangani Cekcok Pemuda, Polisi di Bandar Lampung Temukan 14 Paket Tembakau Sintetis
Direktur Pusat Riset Politik Hukum dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam, menegaskan bahwa PSI perlu langkah strategis jika ingin benar-benar meningkatkan daya saing elektoralnya pada Pemilu 2029, dan itu hanya bisa dicapai jika Jokowi memegang kendali penuh partai.
“Kalau Jokowi hanya menjadi Ketua Dewan Pembina, saya kira PSI tidak akan mampu melenggang ke Senayan dengan signifikan. Bahkan perolehan suaranya bisa jadi tidak terlalu besar,” ujar Saiful kepada wartawan, Selasa (16/6/2026).
Ia menekankan bahwa posisi dewan pembina hanya akan menempatkan Jokowi sebagai figur simbolik tanpa kendali langsung terhadap arah politik partai.
Menurut Saiful, kekuatan politik Jokowi yang masih sangat besar pasca dua periode menjabat presiden seharusnya dimanfaatkan secara maksimal oleh PSI.
Ia menilai struktur kepemimpinan saat ini belum cukup kuat untuk mengangkat elektabilitas partai secara signifikan, terutama jika hanya bertumpu pada figur-figur muda yang belum memiliki pengalaman panjang di panggung nasional.
Sorotan juga diarahkan kepada kepemimpinan Ketua Umum PSI saat ini, Kaesang Pangarep, yang menurut Saiful masih membutuhkan penguatan jam terbang politik.
Dalam pandangannya, kombinasi antara pengalaman Jokowi dan kepemimpinan muda di internal partai dapat menjadi formula yang efektif, tetapi hanya jika Jokowi berada di posisi pengambil keputusan tertinggi.
Selain itu, Saiful menilai basis relawan Jokowi yang selama ini dikenal solid dapat menjadi aset elektoral besar bagi PSI apabila diarahkan secara langsung melalui struktur kepemimpinan yang jelas. Tanpa itu, kekuatan relawan dikhawatirkan tidak akan terorganisasi secara optimal untuk kepentingan partai.
“Pendukung Jokowi dikenal sangat loyal dan militan. Mereka cenderung mengikuti arahan Jokowi secara penuh. Artinya, relawan ini adalah kekuatan politik besar yang seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh PSI,” kata Saiful.
Pandangan tersebut diperkuat dengan penegasan bahwa Jokowi sudah berada pada level politik yang setara dengan ketua umum partai besar nasional.
Saiful menyebut, dengan pengalaman memimpin negara selama dua periode, Jokowi tidak lagi relevan jika hanya ditempatkan sebagai Dewan Pembina.
“Dengan pengalaman sebagai Presiden dua periode, kelas Jokowi sudah seharusnya sejajar dengan para ketua umum partai politik. Bukan sekadar Dewan Pembina, tetapi sebagai Ketua Umum yang memiliki kendali penuh terhadap arah dan strategi partai,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie, sebelumnya menyampaikan bahwa Jokowi akan segera mengenakan jaket PSI secara resmi dalam kapasitas sebagai Ketua Dewan Pembina.
Sumber: Tribunnews.com