TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Hari Raya Galungan menjadi salah satu momen paling sibuk untuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangli, Bali.
Sebab pada perayaannya, volume sampah mengalami peningkatan signifikan mencari 3 sampai 5 ton per hari.
Kondisi tersebut diperparah masih minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memilah sampah.
Kepala DLH Bangli, I Putu Ganda Wijaya, Jumat 19 Juni 2026 mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah jalur pelayanan, termasuk pengangkutan menggunakan kendaraan viar di wilayah Kota Bangli hingga jalur Penelokan, Kintamani.
Baca juga: Delegasi Kamboja Belajar Pengelolaan Sampah ke Gianyar Bali, Tertarik Peran Aktif Masyarakat
“Selama hari raya Galungan, kita tetap laksanakan kegiatan pelayanan secara rutin. Untuk jalur salter atau jalur terintegrasi di sungai wilayah Kota Bangli, serta pengangkutan sampah dengan kendaraan viar tetap berjalan. Viar beroperasi dengan rute keliling sekitar tiga jam,” ujarnya.
Selain itu, DLH Bangli juga tetap mengoperasikan 14 armada truk setiap hari, baik menjelang maupun saat pelaksanaan Hari Raya Galungan. Pelayanan dimulai sejak pukul 05.00 Wita.
Menurutnya, peningkatan volume sampah terjadi selama rangkaian hari raya. Pada hari Penyajaan Galungan, sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mencapai sekitar 4 ton.
Baca juga: Menteri LH Puji Tukad Bindu Denpasar Bali, Sebut Konsepnya Mampu Cegah Warga Buang Sampah ke Sungai
Kemudian saat penampahan meningkat hingga 5 ton, sedangkan saat hari raya Galungan turun menjadi sekitar 2,5 sampai 3 ton.
“Pada saat Umanis Galungan, volume kembali meningkat sampai 4,5 ton yang masuk ke TPA,” jelasnya.
Meski volume sampah meningkat, DLH Bangli tidak melakukan penambahan personel maupun armada. Penanganan dilakukan dengan mengoptimalkan jalur pelayanan yang sudah ada.
“Karena tumpukan sampah meningkat, volume angkutan truk menjadi lebih banyak. Agar tidak tercecer di jalan, kita lakukan penutupan dengan jaring. Sampah yang belum sempat terangkut karena kapasitas truk penuh, kita ambil menggunakan viar,” katanya.
Baca juga: Kepala Daerah se-Bali Deklarasikan Gerakan Pilah Sampah 100 Persen
Ia menjelaskan, peningkatan volume membuat frekuensi pengangkutan bertambah. Jika biasanya pengangkutan dilakukan dua kali, saat hari raya bisa menjadi tiga kali perjalanan. Armada juga harus mengangkut dalam kondisi penuh.
Setiba di TPA, sampah yang masuk harus melalui proses pemilahan karena hanya sampah residu yang dapat diterima.
“Kendala utama kami selama ini adalah pemilahan sampah yang belum optimal. Memang sudah ada perubahan, tetapi belum maksimal. Kami berharap masyarakat semakin sadar melakukan pemilahan dari sumbernya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, selama rangkaian Galungan tidak terdapat kendala berarti dalam pelayanan.
Kendaraan pengangkut dalam kondisi baik, sopir dan tenaga pengangkut tetap menjalankan tugas, serta kegiatan penyapuan jalan tetap berjalan sesuai jadwal mulai pagi hingga siang, termasuk penyapuan sore hari. (*)