Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Pemandangan penjual Pertalite eceran di pinggir jalan yang selama ini mudah ditemui di Kota Maumere dan sekitarnya kini mulai berkurang. Kelangkaan pasokan membuat sejumlah penjual memilih berhenti berjualan, sementara harga Pertalite eceran yang masih tersedia mengalami kenaikan.
Pantauan TRIBUNFLORES.COM, Jumat (19/6/2026), menunjukkan bahwa di sepanjang Jalan Trans Maumere–Larantuka, terutama dari wilayah Nairoa hingga Waipare, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, hampir tidak ditemukan lagi botol-botol berisi Pertalite yang biasanya dipajang di depan kios-kios kecil.
Kondisi serupa juga terlihat di sejumlah ruas jalan dalam Kota Maumere, seperti Jalan Wairklau, Jalan Gajah Mada hingga Jalan Nong Meak. Beberapa lapak penjual bensin eceran tampak kosong dan tidak lagi menjual Pertalite.
Salah seorang penjual bensin eceran, Tati Mitan, mengaku kini semakin sulit mendapatkan pasokan Pertalite. Menurutnya, bahan bakar tersebut hanya bisa diperoleh dengan mengantre di SPBU pada pagi hari, sementara pada siang hari antrean kendaraan semakin padat sehingga menyulitkan pedagang kecil untuk membeli.
Baca juga: 16 Perguruan Tinggi di NTT Ikut Muswil FPPTI di Unflor Ende, Perkuat Sinergi Antarperpustakaan
Setiap hari, Tati biasanya membeli Pertalite senilai Rp100.000 atau sekitar 10 liter menggunakan jeriken.
Dari jumlah tersebut, ia dapat mengemasnya ke dalam beberapa botol air mineral ukuran 800 mililiter untuk dijual kembali.
"Satu botol penuh ukuran 800 mililiter dijual Rp18.000, sedangkan setengah botol Rp10.000," ujarnya.
Tati mengaku dalam sehari biasanya dua kali mengantre di SPBU dan memperoleh sekitar 12 botol Pertalite untuk dijual.
Jika sebelumnya stok tersebut bisa bertahan hingga dua minggu, kini seluruh persediaan dapat habis terjual hanya dalam sehari akibat terbatasnya pasokan dan tingginya kebutuhan masyarakat.
Ia juga melihat jumlah penjual bensin eceran di kawasan tersebut semakin berkurang. Beberapa yang masih bertahan terpaksa menaikkan harga menjadi Rp20.000 per botol.
"Dulu banyak yang jual bensin di sini. Sekarang sudah banyak yang berhenti karena sulit dapat stok," katanya.
Tati telah menjalani usaha menjual bensin eceran selama enam tahun. Menurutnya, usaha tersebut membantu menambah penghasilan keluarga dan tidak hanya bergantung pada pendapatan suaminya.
Keluhan serupa disampaikan Mentari Lelang, seorang pelajar di Kota Maumere. Ia mengaku kesulitan mendapatkan Pertalite eceran saat hendak berangkat maupun pulang sekolah.
"Sekarang lebih sering isi langsung di SPBU karena sudah susah cari di pinggir jalan. Kalau ada pun harganya sudah naik dari Rp18.000 menjadi Rp20.000 per botol," ujarnya.
Berkurangnya penjual Pertalite eceran di Maumere menjadi indikasi dampak terbatasnya pasokan BBM bersubsidi di tingkat masyarakat. Kondisi ini juga mendorong warga untuk lebih banyak mengandalkan pembelian langsung di SPBU.