Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Perjuangan empat nelayan yang selamat dari insiden kapal tenggelam di perairan Lampung Timur diungkap oleh Rido Hafid, seorang pengepul hasil laut di Kampung Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai.
Baca juga: Pencarian Nahkoda KM Arof yang Hilang di Perairan Lampung Timur Terkendala Cuaca Buruk
Rido merupakan sosok yang sempat berkomunikasi dengan nakhoda kapal nelayan KM Arof, sebelum tenggelam dihantam gelombang tinggi, Sabtu (13/6/2026).
Bahkan pihaknya, dari kampung nelayan, sempat melakukan pencarian setelah menerima kabar hilangnya dua ABK (anak buah kapal) KM Arof akibat insiden tersebut.
Kedua nelayan yang hilang ternyata Nahkoda KM Arof bernama Tarno (50) dan seorang ABK bernama Suarna (45). Empat ABK lainnya selamat setelah dievakuasi nelayan.
Enam korban kapal tenggelam tersebut berasal dari Cirebon, Jawa Barat yang sedang mencari ikan di wilayah perairan Lampung Timur.
Berdasar dari keterangan korban yang selamat, Rido mengungkap kepada Tribunlampung.co.id, bahwa, kapal tersebut tenggelam saat dalam perjalanan kembali ke darat dari melaut.
Menurut Rido, kapal tersebut membawa muatan rajungan. Namun cuaca berubah menjadi buruk disertai hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi.
Kondisi tersebut membuat kapal kehilangan keseimbangan hingga terbalik dan tenggelam. “Cuaca berubah cepat, disertai angin dan ombak tinggi. Kapal kemudian tidak stabil karena membawa muatan penuh,” ungkap Rido, Jumat (19/6/2026).
Rido menyebut seluruh awak kapal sempat berhasil keluar dari kapal yang tenggelam. Mereka kemudian berupaya bertahan dengan merakit pelampung dan papan kapal menjadi rakit darurat.
Dalam kondisi terombang-ambing, para awak kapal terpisah menjadi dua kelompok. Empat orang ditemukan selamat setelah terbawa arus hingga ke sebuah bagan tancap dan dievakuasi oleh nelayan lain yang melintas.
“Saat ini empat orang sudah ditemukan dan mendapatkan penanganan serta pemulihan,” kata Rido.
Sementara itu, dua orang lainnya sempat terpisah, terdiri dari nakhoda dan satu anak buah kapal. Hingga kini, satu ABK telah ditemukan meninggal, sedangkan nakhoda masih dalam proses pencarian.
Rido menyebut insiden ini menambah catatan kecelakaan laut di perairan Lampung Timur pada 2026 yang telah terjadi beberapa kali, dengan berbagai faktor penyebab seperti cuaca dan kondisi teknis kapal.
Ia juga menyoroti pentingnya sistem peringatan dini cuaca bagi nelayan serta dukungan ketersediaan bahan bakar bersubsidi.
“Kami berharap ada sistem peringatan cuaca yang lebih tegas dan cepat, serta dukungan solar bersubsidi agar nelayan tidak terbebani,” ujarnya.
Tim SAR Gabungan berhasil menemukan jasad salah satu anak buah kapal (ABK). Korban teridentifikasi bernama Suarna (45), seorang ABK asal Cirebon, Jawa Barat.
Jasadnya ditemukan terdampar kaku di bibir Pantai Way Kambas pada Rabu (17/6/2026) pagi. Sementara itu, sang nakhoda kapal bernama Tarno (50) hingga kini nasibnya masih kelabu dan belum ditemukan.
Komandan Pos SAR Bakauheni, Rezie Kuswara, menjelaskan bahwa jasad Suarna pertama kali ditemukan nelayan setempat sekitar pukul 09.00 WIB.
Posisinya berada di koordinat 4°58'25.38" LS dan 105°55'40.98" BT, atau berjarak sekitar lima mil laut dari lokasi awal petaka tenggelamnya kapal.
“Penemuan berawal dari laporan nelayan yang melihat jasad terdampar di pesisir. Setelah dilakukan verifikasi di lapangan, korban dipastikan merupakan salah satu ABK KM Arof dan langsung dievakuasi ke Puskesmas Labuhan Maringgai,” ungkap Rezie.
Upaya pencarian terhadap nahkoda dan ABK kapal nelayan tersebut terus dilakukan oleh Tim SAR Gabungan, namun kondisi cuaca di wilayah perairan Lampung Timur menjadi kendala utama.
Hujan deras disertai gelombang setinggi 1 hingga 1,5 meter membuat operasi beberapa kali harus dihentikan demi keselamatan petugas.
“Hujan deras dan gelombang setinggi 1 hingga 1,5 meter sempat memaksa operasi pencarian dihentikan sementara demi keselamatan personel dan peralatan,” kata Komandan Tim Rescuer Pos SAR Bakauheni Feriansyah.
Ia menambahkan, pencarian telah diperluas hingga radius 45 nautical mile dengan mengerahkan dua Search and Rescue Unit (SRU), namun hingga Senin sore kedua korban belum ditemukan.
Operasi pencarian kembali dijadwalkan dilanjutkan dengan penyisiran area yang lebih luas mengikuti arah arus laut.
Basarnas Lampung juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap perubahan cuaca ekstrem di laut serta menekankan perlunya kelengkapan alat keselamatan dan kesiapan kapal sebelum berlayar.
(Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)