Pahit manis — itulah mungkin yang dirasakan para penggemar Brasil pada dini hari Sabtu. Ketika malam masih berlangsung di Philadelphia, para pemain Samba berhasil meredakan tekanan yang tengah meningkat dengan kemenangan pertama mereka di Piala Dunia — kemenangan meyakinkan 3-0 atas Haiti yang tidak diunggulkan. Meski demikian, mereka masih harus mengalahkan Skotlandia di pertengahan pekan dan berharap Maroko tidak memiliki selisih gol yang lebih baik jika ingin memastikan posisi teratas di Grup C.
Namun ini bukanlah Brasil yang dulu — tim yang selalu dimanjakan dengan banyak pilihan di hampir setiap posisi, terutama di lini serang. Dengan skuad yang kini terbatas, Brasil punya alasan untuk khawatir ketika Raphinha harus ditarik keluar di pertengahan babak pertama akibat cedera hamstring.
Kendati belum dipastikan terjadi robekan otot — kondisi bintang Barcelona itu masih dalam evaluasi — kecil kemungkinan juara lima kali tersebut bisa memainkannya sebelum perempat final, jika mereka berhasil melaju sejauh itu.
Kerja sama Raphinha dengan Vinicius Junior, salah satu bintang utama kemenangan Sabtu itu, baru mulai terjalin ketika insiden itu terjadi. Kemampuan Raphinha membaca ruang sempit dan melepaskan umpan untuk Vini dalam aksi-aksi penetrasinya jelas menjadi salah satu senjata utama Carlo Ancelotti di ajang Piala Dunia ini. Dengan rencana tersebut terhenti sementara, pelatih asal Italia itu mungkin harus mengatur ulang formasinya.
Pemain Bournemouth, Rayan, masuk menggantikan Raphinha dan tampil cukup solid, tetapi Ancelotti berharap Neymar yang sedang memulihkan diri bisa bugar sebelum Brasil menghadapi Skotlandia. Menurut sang pelatih, pemain berusia 34 tahun itu akan menjalani latihan individu selama akhir pekan dan kembali bergabung dengan tim pada Senin.
Walau kabar itu sedikit melegakan bagi para pendukung Selecao, sorotan utama justru tertuju pada performa Vini dan striker Matheus Cunha. Winger Real Madrid tersebut, yang mencetak gol melawan Maroko di laga pembuka Brasil, kembali menambah pundi-pundi golnya saat melawan Haiti dan berkontribusi dalam ketiga gol timnya. Pemain berusia 25 tahun itu tampak lebih tenang dan sejauh ini berhasil menghindari kontroversi. Terlihat jelas pengaruh tangan Ancelotti — yang sudah mengenalnya sejak masa di Real Madrid — dalam menjaga fokus sang winger.
Namun ujian sesungguhnya masih menanti. Menghadapi lawan yang lebih terorganisir dengan lini pertahanan kuat yang siap menguji fisiknya maupun mentalnya, akan menarik untuk melihat bagaimana pemain asal Brasil itu bereaksi. Sementara itu, Cunha membawa ketenangan dengan gol oportunistik di menit ke-23. Bagi seorang nomor 9, kemampuan membaca posisi menjadi kunci, dan penyerang Manchester United itu menunjukkan bahwa ia bisa menjadi pilihan tepat. Gol keduanya — tendangan keras kaki kiri setelah menerima umpan dari Vini di dalam kotak penalti — memberi Brasil jaminan kemenangan yang sangat dibutuhkan. Vini kemudian menambah gol ketiga di waktu tambahan babak pertama, menutup pertandingan sepenuhnya bagi Haiti. Gol itu juga memungkinkan Brasil menurunkan tempo permainan di babak kedua untuk menjaga kebugaran menghadapi laga-laga berikutnya.
Lini tengah Brasil yang diperkuat Bruno Guimaraes, Casemiro, dan Lucas Paqueta menjalani malam yang relatif mudah. Pertahanan pun hampir tidak mendapat ancaman berarti. Penyelesaian bola dengan tendangan salto di garis gawang oleh Gabriel di babak kedua menunjukkan bahwa bek Arsenal itu sudah mampu melupakan kekecewaan akibat kegagalannya mengeksekusi penalti di final Liga Champions melawan PSG. Setelah hasil imbang di laga pembuka melawan Maroko pekan lalu, perjalanan Brasil di Piala Dunia ini terasa seperti langkah awal seorang kandidat juara di turnamen Grand Slam tenis. Mereka memikul beban untuk memenangkan tujuh pertandingan berturut-turut, dan Haiti — yang berperingkat dunia ke-83 — menjadi lawan ideal di babak awal untuk membangun momentum tersebut.