Warga Reo Mengeluh, Antrean BBM di SPBU Mengular Selama Sebulan, Penjual Eceran Bertambah
Nofri Fuka June 22, 2026 04:47 PM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Warga Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, mengeluhkan antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Reo yang telah berlangsung lebih dari satu bulan terakhir.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan antrean terjadi hampir setiap hari, terutama untuk kendaraan yang mengisi BBM jenis Pertalite. Kondisi tersebut dinilai sangat merugikan masyarakat karena harus menghabiskan banyak waktu hanya untuk mendapatkan bahan bakar.

"Antrean sudah berlangsung lebih dari satu bulan. Kami sebagai masyarakat sangat dirugikan dengan kondisi ini," ujarnya, Senin (22/6/2026).

Ia mengaku harus mengantre selama berjam-jam setiap kali mengisi BBM. Bahkan, pada waktu-waktu tertentu, warga yang sudah lama mengantre tetap tidak mendapatkan BBM karena stok di SPBU habis.

 

Baca juga: Buaya Muncul di Pantai Serise Manggarai Timur Gegerkan Warga, Camat LAUT Imbau Warga

 

 

"Antreannya bisa berjam-jam. Kalau mengantre siang hari, kadang tidak kebagian karena bensin sudah habis," katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut semakin mengecewakan karena di tengah antrean panjang yang terjadi setiap hari, penjual BBM eceran, khususnya Pertalite, justru semakin banyak ditemukan di wilayah Reo.

Harga yang ditawarkan pun jauh lebih mahal dibandingkan harga resmi. Untuk satu botol air mineral ukuran besar, Pertalite dijual dengan harga Rp25.000 hingga Rp30.000. Saat hari libur, harganya bahkan bisa lebih tinggi.

"Harganya bisa Rp25.000 sampai Rp30.000 per botol besar. Kalau hari libur bisa lebih mahal lagi. Yang lebih mengecewakan, isi botolnya juga tidak penuh," ungkapnya.

Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Laurensius Emanuel. Ia mengatakan antrean kendaraan di SPBU Reo setiap hari dapat mencapai panjang sekitar 200 hingga 300 meter dan sudah berlangsung cukup lama.

Laurensius mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengantre BBM. Tidak jarang ia pulang tanpa mendapatkan bahan bakar karena stok Pertalite habis sebelum gilirannya tiba.

Menurutnya, situasi tersebut sangat menghambat aktivitas masyarakat yang bergantung pada kendaraan untuk bekerja dan mencari nafkah.

"Dengan kondisi seperti ini, kami sangat dirugikan karena aktivitas mencari nafkah menjadi terhambat. Nelayan, petani, pekerja serabutan, dan masyarakat lainnya sangat bergantung pada BBM untuk bekerja. Kalau harus mengantre berjam-jam, tentu sangat mengganggu," ujarnya.

Laurensius juga menyoroti maraknya penjualan Pertalite secara eceran di wilayah Reo dengan harga mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000 per botol air mineral ukuran besar. Padahal, pada saat yang sama, banyak warga harus menunggu berjam-jam di SPBU untuk mendapatkan BBM.

Karena itu, ia meminta pihak SPBU lebih memprioritaskan pelayanan kepada masyarakat yang mengantre dan tidak melayani pembelian BBM untuk dijual kembali secara eceran.

Selain itu, ia mengaku telah menyampaikan keluhan tersebut kepada aparat kepolisian di Polsek Reo agar dapat ditindaklanjuti. Namun, hingga kini belum ada langkah konkret yang dirasakan masyarakat. (Rob)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.