TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Situbondo - Perekonomian Kabupaten Situbondo menunjukkan kinerja positif pada Triwulan I Tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Situbondo mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 5,50 persen secara tahunan atau year on year (y-on-y).
Pertumbuhan tersebut didukung oleh kuatnya sektor pertanian, terjaganya konsumsi rumah tangga, serta meningkatnya aktivitas pariwisata dan mobilitas masyarakat pada awal tahun.
Kepala BPS Kabupaten Situbondo, Ribut Hadi Candra, menjelaskan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Situbondo pada Triwulan I 2026 atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp7,375 triliun.
"Sementara atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat sebesar Rp4,171 triliun," ujarnya saat menyampaikan rilis PDRB Triwulan I 2026, Senin (22/6/2026).
Menurut Ribut, pertumbuhan ekonomi Situbondo pada awal tahun ini menunjukkan tren yang tetap positif. Selain tumbuh 5,50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ekonomi Situbondo juga meningkat 4,71 persen dibandingkan Triwulan IV 2025 atau secara quarter to quarter (q-to-q).
"Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi daerah masih bergerak ekspansif pada awal tahun 2026," katanya.
Baca juga: Gagal Menyalip Truk, Pikap Tabrak Motor di Situbondo, Pengendara Terluka
Struktur ekonomi Situbondo masih didominasi sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang menyumbang 28,45 persen terhadap total PDRB. Sektor ini menjadi kontributor terbesar dibandingkan sektor lainnya.
Posisi berikutnya ditempati Industri Pengolahan dengan kontribusi 22,37 persen, disusul sektor Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 16,13 persen.
"Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi kontributor terbesar dalam struktur ekonomi Situbondo. Selain itu, industri pengolahan dan perdagangan juga tetap menunjukkan kinerja yang positif," ujar Ribut.
Secara triwulanan, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni mencapai 22,79 persen. Lonjakan ini dipengaruhi faktor musiman berupa panen raya padi serta meningkatnya produksi perikanan tangkap.
Baca juga: Viral Penampakan 2 Pipa Besar di Laut Situbondo, Aktivitas Nelayan Terganggu, TNI AL Bergerak
"Pertumbuhan yang cukup tinggi pada sektor pertanian dipengaruhi faktor musiman, terutama panen raya padi dan peningkatan produksi perikanan tangkap pada awal tahun," jelasnya.
Selain pertanian, sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum juga mencatat pertumbuhan sebesar 7,43 persen. Sementara sektor Transportasi dan Pergudangan tumbuh 4,18 persen.
Pertumbuhan kedua sektor tersebut dipengaruhi meningkatnya aktivitas wisata dan mobilitas masyarakat menjelang momentum hari besar keagamaan.
"Aktivitas pariwisata dan mobilitas masyarakat menjelang hari besar keagamaan turut mendorong pertumbuhan sektor akomodasi, makan minum, serta transportasi dan pergudangan," tambah Ribut.
Konsumsi Rumah Tangga Jadi Motor Utama
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang terbesar perekonomian Situbondo dengan kontribusi mencapai 73,84 persen terhadap total PDRB.
Sementara Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) memberikan kontribusi sebesar 21,53 persen, sedangkan konsumsi pemerintah menyumbang 7,92 persen.
"Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi Situbondo. Ini menunjukkan daya beli masyarakat relatif terjaga di tengah berbagai dinamika ekonomi," kata Ribut.
Baca juga: Sempat Disorot di Situbondo, Konten Kreator Kini Buat Review Alun-alun Jember, Ini Respons Pemkab
Dalam perbandingan wilayah Selingkar Ijen, pertumbuhan ekonomi Situbondo sebesar 5,50 persen berada di bawah Kabupaten Jember yang tumbuh 6,35 persen dan Kabupaten Banyuwangi sebesar 6,14 persen.
Meski demikian, capaian tersebut masih lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Bondowoso yang mencatat pertumbuhan 5,42 persen.
"Namun capaian tersebut masih lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Bondowoso yang tumbuh 5,42 persen," ujarnya.
BPS mencatat sejumlah peristiwa strategis yang turut memengaruhi kinerja ekonomi Situbondo pada Triwulan I 2026.
Salah satunya adalah keberhasilan panen raya padi Musim Tanam I yang mampu menjaga produktivitas pertanian meski sebelumnya terjadi banjir yang merendam ratusan hektare sawah pada Maret 2026.
Di sisi lain, sektor pariwisata juga memberikan kontribusi positif. Kunjungan wisatawan ke kawasan Wisata Bahari Pasir Putih tercatat meningkat hingga tiga kali lipat saat libur Tahun Baru.
Pertumbuhan tersebut semakin didukung oleh peluncuran 12 agenda wisata unggulan sepanjang 2026 serta pelaksanaan berbagai kegiatan Gerakan Pangan Murah menjelang Ramadan yang ikut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Ribut menilai tantangan yang perlu mendapat perhatian ke depan adalah percepatan realisasi investasi dan proyek fisik agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada sektor tertentu.
"Ke depan, tantangan yang perlu diperhatikan adalah percepatan realisasi proyek fisik dan investasi agar pertumbuhan ekonomi dapat semakin merata di seluruh sektor," tambahnya.