Hadiri Milad UMI di Makassar Ketua DPRD Sulbar Amalia Aras Tak Bisa Temui Massa Aksi
Ilham Mulyawan June 23, 2026 09:04 PM

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU – Ketua DPRD Sulbar, Amalia Fitri Aras menyampaikan permohonan maaf tidak bisa menemui massa aksi di DPRD Sulawesi Barat, Selasa (23/6/2026).

Massa aksi bertahan di Gedung DPRD, setelah mereka menggelar aksi unjuk rasa sejak tadi sore.

Baca juga: Demo di DPRD Sulbar Mahasiswa Sebut Ada Tindakan Represif Aparat Saat Pengamanan

Baca juga: Massa Cipayung Plus Akan Duduki Gedung DPRD Sulbar Hingga Besok Jika Ketua DPRD Tidak Hadir

Mereka mendesak bertemu dengan Ketua DPRD Amalia Aras, untuk menyampaikan tuntutanya.

Kepada wartawan, Amalia mengaku sedang tidak berada di Mamuju sehingga tidak dapat dapat menemui langsung massa aksi.

Hal tersebut disampaikan Amalia Fitri Aras saat dihubungi wartawan Tribun Sulbar melalui pesan WhatsApp.

Ketidakhadirannya di kantor DPRD Sulbar karena sedang menghadiri kegiatan Milad UMI (Universitas Muslim Indonesia) di Makassar.

BAKAR BAN - Massa aksi unjuk rasa Cipayung Plus se Sulawesi Barat di Kantor DPRD Sulbar, Selasa (23/6/2026) mulai membakar ban di depan lobi Gedung DPRD Sulawesi Barat.
BAKAR BAN - Massa aksi unjuk rasa Cipayung Plus se Sulawesi Barat di Kantor DPRD Sulbar, Selasa (23/6/2026) mulai membakar ban di depan lobi Gedung DPRD Sulawesi Barat. (Tribun-Sulbar.com/Baiq Sukma)

"Saya minta maaf tidak bisa menerima langsung aksi karena saya sedang menghadiri acara milad UMI di Makassar," tulis Amalia Fitri Aras.

Meski demikian, Amalia memastikan aspirasi yang disampaikan massa aksi akan diterima oleh pimpinan DPRD Sulbar lainnya, yakni Wakil Ketua DPRD Sulbar, Munandar Wijaya.

Ia menegaskan seluruh tuntutan yang disampaikan massa aksi yang tergabung dalam Cipayung Plus Sulbar akan ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku.

Sebelumnya, massa yang tergabung dalam Cipayung Plus Sulbar menduduki Kantor DPRD Sulbar dan menuntut agar Ketua DPRD Sulbar hadir langsung menemui peserta aksi.

Aksi tersebut berlangsung sejak siang hingga malam hari di depan pintu masuk gedung DPRD provinsi Sulbar.

Diduga Aksi Represif

Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Barat (DPD IMM Sulbar), Albar Syam diduga menjadi korban represif aparat kepolisian saat aksi demontrasi di Gedung DPRD Sulawesi barat, Selasa (23/6/2026) sore.

‎Albar menjelaskan, ketika massa aksi ingin bertemu  dengan pimpinan DPRD Provinsi Sulawesi Barat untuk menyampaikan tuntutan aliansi. 

‎Namun karena tuntutan tak kunjung dipenuhi massa aksi terlibat gesekan dengan aparat kepolisian. 

Untuk meredam gesekan dengan aparat, ia mengaku turut melerai tetapi justru menjadi sasaran serangan pemukulan oleh aparat kepolisian. 

‎"Massa aksi tidak ditemui pimpinan DPRD, akhirnya massa mau menyegel terjadilah gesekan. Saya melerai tapi justru menjadi sasaran pemukulan kepolisian, " Jelas Albar. 

‎Akibat pemukulan tersebut Albar mengalami luka memar di bagian wajah. 

Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Barat (DPD IMM Sulbar), Albar Syam diduga menjadi korban represif aparat kepolisian saat aksi demontrasi di Gedung DPRD Sulawesi barat, Selasa (23/6/2026) sore.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Barat (DPD IMM Sulbar), Albar Syam diduga menjadi korban represif aparat kepolisian saat aksi demontrasi di Gedung DPRD Sulawesi barat, Selasa (23/6/2026) sore. (Tribun-Sulbar.com/IMM Sulbar)



‎Ketua Bidang Hikmah, Politik dan Kebijakan Publik DPD IMM Sulbar, Irwan Japaruddin mengecam keras tindakan pemukulan tersebut. 

‎Irwan menyebutkan, seharusnya kepolisian bisa memitigasi dan menjadi fasilitator untuk menyampaikan tuntutan massa aksi. 

‎"Harusnya kepolisian bisa memitigasi, bisa menjadi fasilitator terhadap tuntutan massa aksi, " tegas Irwan. 

‎Ini terus menambah catatan brutalitas aparat kepolisian yang tidak pernah berubah. 

Pihaknya memberi waktu kepada Polda Sulbar 2 x 24 jam untuk mengusut secara tuntas dan proses hukum kepada oknum polisi yang melakukan serangan kepada Ketua Umum DPD IMM Sulbar. 

"‎Karena jelas ini melanggar arahan Presiden Prabowo dan Kapolri bahwa kepolisian harus menjadi polisi rakyat dan humanis," terang Irwan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.