Inggris dan Ghana harus puas berbagi poin setelah bermain imbang 0-0 di Stadion Boston pada Selasa malam, dengan kedua tim gagal memecah kebuntuan. Hasil ini membuat Grup L tetap terbuka menjelang laga terakhir fase grup.
Kedua tim sama-sama memulai pertandingan ini dengan tiga poin hasil kemenangan di laga pembuka, dan menyadari bahwa kemenangan kedua akan memastikan tiket lebih awal ke babak 32 besar. Inggris datang dengan status favorit setelah kemenangan 4-2 atas Kroasia, sementara Ghana membawa kepercayaan diri tinggi usai kemenangan dramatis 1-0 atas Panama berkat gol penentu Caleb Yirenkyi di masa tambahan waktu.
Pertandingan kemudian berkembang menjadi duel taktik yang intens meski tanpa gol.
Ghana membuat frustrasi lini serang Inggris yang bertabur bintang
Skuad asuhan Thomas Tuchel menguasai bola sejak awal, namun pelatih Ghana Carlos Queiroz menyiapkan strategi bertahan yang disiplin dan berhasil menutup ruang bagi Inggris di area berbahaya.
Dengan formasi rapat 5-4-1, Ghana memaksa Inggris mengalirkan bola di sekitar blok pertahanan mereka dan membatasi peluang bersih. Hasilnya menunjukkan kontras statistik yang mencolok. Inggris mencatat 78,8 persen penguasaan bola — tertinggi dalam sejarah Piala Dunia bagi tim yang gagal mencetak gol. Meskipun mendominasi permainan dan tempo, The Three Lions hanya mampu menciptakan 19 percobaan dengan tiga tembakan tepat sasaran.
Sementara itu, Ghana lebih banyak bertahan dalam dan menutup ruang antarlini. The Black Stars hanya membukukan dua tembakan, satu di antaranya menguji kiper, namun organisasi pertahanan mereka membuat Inggris jarang merasa nyaman.
Gaya permainan fisik Ghana tercermin dari jumlah pelanggaran, dengan tim asuhan Queiroz melakukan 24 pelanggaran untuk memutus ritme Inggris dan mencegah serangan berkelanjutan.
Tanda bahaya awal dan frustrasi yang meningkat
Peluang terbaik Ghana muncul melalui transisi cepat dan lari langsung setiap kali berhasil merebut bola. Salah satu momen paling kontroversial terjadi di awal laga ketika Prince Adu berhasil menembus pertahanan Inggris dan tampak memiliki peluang emas. Ezri Konsa melakukan tekel pemulihan yang nekat, memicu protes keras dari bangku cadangan dan pemain Ghana. Wasit menolak klaim penalti tersebut, membuat Inggris beruntung terhindar dari hukuman.
Babak pertama kemudian berjalan dalam kebuntuan taktis. Inggris kesulitan menciptakan peluang bersih dan bahkan tidak mencatat satu pun tembakan tepat sasaran sebelum turun minum.
Saat menuju ruang ganti, suasana memanas ketika Jude Bellingham terlibat adu argumen dengan pelatih Ghana, Carlos Queiroz.
Akhir dramatis tanpa pemenang
Laga mulai hidup di menit-menit akhir. Pada menit ke-83, Bukayo Saka melakukan penetrasi cepat di sisi sayap sebelum melepaskan tembakan keras yang memaksa kiper Ghana, Benjamin Asare, melakukan penyelamatan gemilang.
Lima menit kemudian, Inggris hampir saja memecah kebuntuan. Nico O'Reilly menyundul bola hasil umpan silang dan membentur mistar bagian bawah. Bola pantul jatuh di depan Harry Kane, namun kapten Inggris gagal memanfaatkannya dan menendang bola melambung dari jarak dekat.
Ketegangan berlanjut hingga masa tambahan waktu. Pada menit ke-93, Marc Guéhi menanduk bola hasil tendangan sudut yang tampak akan menjadi gol kemenangan, tetapi Kojo Peprah Oppong melakukan sapuan di garis gawang untuk mempertahankan gawang Ghana tetap aman.
Guéhi juga tampil luar biasa secara individu, mencatat 126 umpan sukses — rekor baru bagi pemain Inggris di laga internasional — serta menerima tujuh pelanggaran dari tekanan agresif pemain Ghana.
Klasemen Grup L dan langkah selanjutnya
Peluit akhir menimbulkan reaksi berbeda. Para pemain Ghana merayakan hasil ini bersama suporter mereka setelah berhasil menjalankan strategi bertahan yang menahan salah satu tim favorit turnamen. Sebaliknya, Inggris meninggalkan lapangan dengan rasa kecewa karena gagal mengubah dominasi menjadi kemenangan.
Hasil ini juga menambah catatan sejarah Inggris di Piala Dunia. The Three Lions kini telah mencatat 23 hasil imbang dalam sejarah turnamen, dengan 13 di antaranya berakhir tanpa gol.
Grup L kini tetap terbuka menjelang pertandingan terakhir:
Kroasia dan Panama masih tertinggal dan menunggu hasil pertandingan kedua mereka di fase grup.
Inggris akan menghadapi Panama di laga terakhir dengan target kemenangan untuk memastikan posisi puncak grup dan undian yang lebih menguntungkan di babak 32 besar. Sementara itu, Ghana akan menantang Kroasia dengan peluang besar untuk lolos setelah kembali menunjukkan pertahanan yang disiplin dan tangguh.
Bagi Inggris, laga ini menjadi pengingat bahwa penguasaan bola tidak selalu menjamin kemenangan di Piala Dunia. Bagi Ghana, ini menjadi bukti bahwa organisasi, disiplin, dan kesabaran tetap dapat menghadang tim dengan serangan paling berbahaya di panggung terbesar sepak bola dunia.