Update Penelitian Ikan Coelacanth, Prof Masengi: Kondisi Segar, Diteliti dengan CT-Scan, Endoskopi
Chintya Rantung June 24, 2026 02:52 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Penelitian terhadap ikan purba Coelacanth (Latimeria menadoensis) yang ditemukan di perairan Gorontalo Utara terus berlanjut hingga pertengahan 2026.

Spesimen ikan yang dikenal sebagai "fosil hidup" itu kini masih berada dalam kondisi segar dan menjadi objek berbagai penelitian ilmiah mendalam.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Prof Ir Kawilarang W.A. Masengi, mengungkapkan penelitian terhadap spesimen tersebut masih terus dilakukan oleh tim peneliti.

"Masih dalam keadaan segar dan sementara dilakukan penelitian genetika, kandungan isi perut, sisik, lubang hidung, bentuk kepala dilihat dari dalam menggunakan alat endoskopis," ujar Masengi saat dihubungi Tribun Manado melalui WhatsApp, Rabu (24/6/2026).

Tak hanya itu, Masengi yang juga merupakan Ketua Cagar Biosfer Bunaken-Tangkoko-Minahasa mengatakan, tim sedang melakukan pemeriksaan anatomi bagian dalam tubuh ikan menggunakan teknologi CT-Scan.

Lebih lanjut, Ketua Internasional Coelacanth Research Center and Marine Museum ini katakan, berbagai penelitian tersebut dilakukan untuk memperoleh data ilmiah yang lebih lengkap mengenai spesies langka yang keberadaannya sangat jarang ditemukan di dunia.

"Saat ini ikan ditangani oleh Manajemen Cagar Biosfer Bunaken-Tangkoko-Minahasa," tambahnya.

Diketahui, ikan Coelacanth tersebut ditemukan nelayan bernama Oskar Kaluku di perairan Desa Imana, Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara, pada 16 Januari 2025. 

Ikan sepanjang sekitar satu meter dengan berat mencapai 41 kilogram itu ditemukan dalam kondisi sudah mati.

Penemuan tersebut sempat menghebohkan masyarakat dan kalangan akademisi karena Coelacanth merupakan salah satu spesies ikan paling langka di dunia.

Coelacanth dikenal sebagai ikan purba yang telah hidup sejak lebih dari 400 juta tahun lalu.

Karena garis evolusinya yang sangat tua, spesies ini sering dijuluki sebagai "living fossil" atau fosil hidup.

Indonesia sendiri memiliki spesies Coelacanth yang berbeda dengan yang ditemukan di Afrika, yakni Latimeria menadoensis. 

Spesies ini pertama kali dikenal dunia setelah ditemukan di kawasan Sulawesi Utara pada tahun 1997 dan kemudian ditetapkan sebagai spesies baru.

Hingga kini, penelitian terhadap spesimen temuan Gorontalo Utara masih terus berjalan. (Pet)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.