BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Dugaan serangan anjing liar terhadap empat ekor domba di Desa Batang Bahalang, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), mendorong Dinas Pertanian HST meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi penularan penyakit rabies.
Tim Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian HST turun langsung ke lokasi setelah menerima laporan adanya ternak yang ditemukan dalam kondisi luka parah.
Dokter hewan Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian HST, drh Bayu Rakhmat M, mengatakan selain menangani ternak yang masih hidup, petugas juga memberikan edukasi kepada warga mengenai bahaya penyakit zoonosis, terutama rabies.
"Kami juga memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, termasuk rabies," katanya, kamis, (25/06/2026).
Baca juga: Kematian Misterius Kambing Ternak Resahkan Warga Batang Bahalang HST, Diduga Aksi Anjing Liar
Peristiwa itu menimpa ternak milik Asmuni (48), warga RT 003 RW 001 Desa Batang Bahalang, Selasa (23/6/2026).
\Berdasarkan laporan yang diterima, empat ekor domba diduga diserang hewan liar yang masuk ke area kandang.
Akibat kejadian tersebut, dua ekor domba mati, satu ekor dalam kondisi kritis, sedangkan satu lainnya mengalami luka hingga tidak mampu berdiri.
Petugas kesehatan hewan kemudian melakukan penanganan terhadap ternak yang masih memungkinkan diselamatkan melalui pembersihan luka, pemberian antiseptik, vitamin, dan antibiotik.
Tak hanya itu, petugas bersama perangkat desa juga melakukan pemantauan di sekitar lokasi guna menelusuri keberadaan anjing liar yang diduga berkeliaran di kawasan tersebut.
Baca juga: Diduga Dimangsa Hewan Liar, Kambing Milik Warga Desa Batang Bahalang HST Mati dan Alami Luka Serius
Bayu mengingatkan peternak agar meningkatkan pengamanan kandang, terutama saat malam hari, karena waktu tersebut dinilai lebih rawan terhadap gangguan hewan liar.
Ia juga meminta masyarakat segera melapor apabila menemukan kasus serupa agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sehingga risiko kerugian peternak dapat ditekan. (Banjarmasinpost.co.id/Stanislaus sene).