Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan
TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Pengunduran diri ratusan warga dari daftar penerima bantuan sosial (bansos) di Kabupaten Kepahiang belakangan ramai dikaitkan dengan kebijakan pemasangan stiker bertuliskan "Keluarga Miskin" di rumah penerima bansos.
Namun, kondisi berbeda terjadi di Desa Kuto Rejo.
Sebanyak 23 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Desa Kuto Rejo memilih mengundurkan diri sebagai penerima bansos bukan karena pemasangan stiker, melainkan karena kondisi ekonomi mereka yang mulai membaik.
Kepala Desa Kuto Rejo, Nurkolis, mengatakan hingga saat ini tercatat sebanyak 23 KPM telah mengundurkan diri secara mandiri.
"Untuk sementara dari KPM Bansos yang sudah mengundurkan diri sekitar 23 KPM," ucap Nurkolis.
Menurut Nurkolis, mayoritas warga yang mengundurkan diri bekerja sebagai petani kopi, palawija, dan lada.
Meningkatnya harga komoditas tersebut membuat pendapatan masyarakat ikut membaik sehingga mereka merasa tidak lagi layak menerima bantuan.
"Alasan mundurnya karena kondisi ekonomi mereka yang sudah mulai membaik, karena sebagian masyarakat ini bekerja sebagai petani kopi, palawija dan lada yang harganya sekarang sedang meningkat," jelas Nurkolis.
Sebelumnya, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kepahiang menerapkan pemasangan stiker bertuliskan "Keluarga Miskin" di rumah penerima bantuan sosial sebagai bagian dari upaya verifikasi dan transparansi data.
Kebijakan tersebut berdampak pada ratusan warga yang secara sukarela mengundurkan diri dari daftar penerima bansos karena mengaku sudah tidak lagi memenuhi kriteria sebagai keluarga miskin.
Pengunduran Diri Diperkirakan Bertambah
Selain 23 KPM yang telah mengundurkan diri, Nurkolis menyebut masih ada warganya yang berencana mengundurkan diri dari daftar penerima bansos.
"Sementara ke depan informasinya ada dua orang yang ingin mengundurkan diri juga. Kami dari perangkat desa tetap menampung adanya pengunduran diri, kita tunggu saja," beber Nurkolis.
Di sisi lain, Nurkolis mengakui masih ada warga yang layak menerima bantuan, tetapi belum mendapatkannya.
"Kemungkinan masih ada warga kita atau KPM yang tidak layak untuk menerima bantuan," ujar Nurkolis.
Oleh sebab itu, ia mengimbau kepada warganya yang sudah tidak layak lagi menerima bantuan agar mengundurkan diri secara mandiri sehingga bantuan dapat dialihkan kepada warga yang lebih berhak.
"Kita juga mengimbau apabila kondisi ekonomi sudah membaik secara kesadaran untuk mundur mandiri," pungkas Nurkolis.
Ratusan Penerima Bansos Mundur
Kebijakan tersebut berdampak pada ratusan warga yang secara sukarela mengundurkan diri dari daftar penerima bansos karena mengaku sudah tidak lagi memenuhi kriteria sebagai keluarga miskin.
Dinsos Kepahiang kembali memasang stiker bertuliskan "Keluarga Miskin" di rumah warga Kabupaten Kepahiang, pada Jumat (19/6/2026).
Sejumlah penerima Bansos di Kabupaten Kepahiang sudah tercatat ratusan warga yang mundur.
"Sampai Juni 2026 total penerima yang mundur secara mandiri itu 244 orang," ujar Peksos ahli muda dinsos Kepahiang Abdul Pajri kepada TribunBengkulu.com, Jumat (19/6/2026).
Selain menemukan penerima yang tidak layak pihaknya juga menemukan beberapa penerima lain yang menutupi stiker tersebut.
"Iya tadi ada beberapa tempat yang stickernya sudah kita pasang beberapa bulan lalu ternyata ada yang menutup dengan stiker lain," beber Pajri.
Oleh sebab itu mengimbau kepada para penerima untuk tidak menutup atau melepas sticker tersebut.
"Kita mengimbau kepada penerima ketika sticker itu dilepas berarti secara otomatis mau mengundurkan diri," imbau Pajri.
Harapannya dari penerima yang mundur dapat di alihkan kepada warga yang lebih layak menerima bantuan.
"Yang kita harapkan penerima yang tidak layak ini bisa kita alihkan ke pada warga yang lebih layak lain yang belum dapat," Harap Pajri.
Adapun jumlah penerima bantuan di Kabupaten Kepahiang total 7.750 keluarga sementara di Desa Kuto Rejo sebanyak 205 keluarga.
"Penerima keseluruhan itu 7.750 keluarga di Kepahiang, kalau di Kuto Rejo ada sekitar 205 keluarga," jelas Pajri
Ia menerangkan selama melakukan pemasangan pihaknya menemukan beberapa warga yang seharusnya tidak layak menerima bantuan.
"Yang kita tinjau ini yang layak, namun dilapangan kita ketemu banyak yang tidak layak," ujar Pajri.
Ke depan pihaknya bersama perangkat Desa akan berupaya mendorong penerima yang tidak layak lagi untuk mundur secara mandiri.
"Kami dan pihak desa berkolaborasi supaya kedepannya penerima yang tidak layak ini bisa mundur secara mandiri untuk menghindari konflik," terang Pajri.
Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini