TRIBUNJAKARTA.COM, PENJARINGAN - Upaya pencegahan stunting di kawasan pesisir Muara Angke, Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, terus dikembangkan melalui pemanfaatan potensi lokal yang selama ini kerap terabaikan.
Salah satunya adalah pemanfaatan limbah tulang ikan kakap merah yang diolah menjadi tepung bernilai gizi tinggi untuk mendukung perbaikan status gizi anak.
Gagasan tersebut menjadi fokus dalam kegiatan Sosialisasi Pelatihan, Produksi, Pemasaran, dan Pengemasan Tepung Tulang Ikan Kakap Merah yang digelar Kelompok Klaster Riset (KBK) Kesejahteraan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).
Kegiatan yang berlangsung di kawasan pesisir Muara Angke itu melibatkan kader-kader masyarakat dari lima RW di Kelurahan Pluit.
Sebanyak 25 kader perempuan dilatih untuk memahami persoalan stunting, mengenal manfaat tepung tulang ikan kakap merah, hingga mempelajari teknik pemasaran dan pengemasan produk agar memiliki nilai ekonomi.
Ketua Klaster Kesejahteraan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI Prof. Fentiny Nugroho Ph.D. mengatakan, stunting menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian khusus karena berkaitan erat dengan persoalan kemiskinan dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Menurutnya, pihak kampus melihat penanganan stunting sebagai salah satu pintu masuk untuk memutus rantai kemiskinan yang masih terjadi di sejumlah wilayah pesisir.
"Karena memang kami concern dengan masalah kemiskinan, apalagi dengan adanya kemiskinan ekstrem, maka stunting menjadi salah satu fokus kami juga," ujar Fentiny kepada TribunJakarta.com, Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan, sebelum program dijalankan, tim UI melakukan penjajakan ke sejumlah wilayah dan menemukan potensi besar di Muara Angke.
Salah satu alasan kawasan tersebut dipilih adalah adanya inovasi pemanfaatan tepung yang berasal dari tulang ikan kakap merah.
Selama ini tulang ikan kerap dianggap sebagai limbah dan dibuang begitu saja setelah proses pengolahan ikan fillet.
Namun, penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa bagian tersebut justru memiliki kandungan gizi yang sangat bermanfaat untuk mendukung pertumbuhan anak.
"Ini suatu temuan yang menarik sekali. Jadi ada strategi yang cukup efektif untuk menangani stunting dengan menggunakan tepung yang terbuat dari tulang ikan kakap merah," katanya.
Program tersebut merupakan bagian dari kegiatan community development yang mendapat dukungan dari Direktorat Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat UI dalam kerangka penguatan peran universitas yang berdampak bagi masyarakat.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, UI juga menggandeng Profesor Manohar Pawar dari Charles Sturt University, Australia, yang dikenal sebagai pakar dalam bidang social development dan community development.
Menurut Fentiny, keterlibatan akademisi internasional tersebut bertujuan memperkaya perspektif mengenai bagaimana pendekatan pembangunan sosial dan pemberdayaan masyarakat dapat digunakan untuk mengatasi kemiskinan ekstrem.
"Program ini juga menjadi bagian dari International Community Development yang kami lakukan," ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan tidak hanya berisi sosialisasi mengenai bahaya stunting, tetapi juga memberikan pelatihan teknis kepada peserta.
Pada sesi awal, peserta mendapatkan penjelasan mengenai dampak stunting terhadap kualitas generasi mendatang.
Selanjutnya mereka dikenalkan pada pemanfaatan tepung tulang ikan kakap merah sebagai bahan pangan alternatif yang murah dan mudah diperoleh di kawasan pesisir.
Setelah itu para peserta mendapatkan pelatihan mengenai branding produk, pengemasan, hingga pemasaran digital agar kelak mampu mengembangkan usaha secara mandiri.
Fentiny mengatakan pihaknya sengaja memilih pendekatan tersebut karena ingin menghasilkan dampak ganda.
Selain memperbaiki status gizi masyarakat, program juga diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
"Ke depan kita harapkan ini menjadi sumber ekonomi. Mereka sudah tahu cara membuat, mengemas dan memasarkannya sehingga bisa menjadi sumber pendapatan keluarga," katanya.
Peserta yang dilibatkan dalam kegiatan merupakan kader-kader pilihan dari lima RW di Kelurahan Pluit.
Masing-masing RW mengirimkan lima orang kader untuk mengikuti pelatihan.
Ke-25 kader tersebut nantinya diharapkan menjadi agen perubahan yang akan menyebarluaskan pengetahuan kepada masyarakat di lingkungannya masing-masing.
Selain melibatkan masyarakat, kegiatan juga melibatkan mahasiswa S1 dan S2 Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI.
Para mahasiswa berperan mendampingi peserta selama kegiatan berlangsung, sekaligus memperoleh pengalaman langsung dalam proses pemberdayaan masyarakat.
"Mahasiswa kami ikut mendampingi ibu-ibu, membantu pelatihan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat," katanya.
Dalam menjalankan program tersebut, UI menggandeng sejumlah mitra, di antaranya jajaran Kelurahan Pluit, PLN Muara Karang, lembaga amil zakat Baitul Maal Hidayatullah, dan Paragon Corp.
Program pemanfaatan tepung tulang ikan kakap merah memiliki potensi besar untuk direplikasi di daerah lain yang masih menghadapi persoalan stunting tinggi.
Pada daerah seperti Nusa Tenggara Timur memiliki angka stunting yang masih cukup tinggi, sementara sumber daya ikan relatif mudah diperoleh di wilayah pesisir.
Kendala yang selama ini dihadapi adalah distribusi ikan segar ke wilayah pedalaman.
Karena itu, pengolahan ikan menjadi tepung dinilai dapat menjadi solusi yang lebih efektif.
"Kalau ini bisa dikembangkan seperti yang sudah berjalan di Pluit, mudah-mudahan bisa menjadi intervensi yang cukup efektif untuk stunting di daerah lain," ujarnya.
Sementara itu, Ahli Gizi Puskesmas Pembantu Pluit, Mirawati menjelaskan, pemanfaatan tepung tulang ikan kakap merah bukan sekadar gagasan, melainkan telah menjadi bagian dari program penanganan stunting yang berjalan sejak 2022.
Program tersebut merupakan bagian dari Deteksi Intervensi Stunting Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera.
Menurut Mira, kondisi stunting di Pluit sempat menjadi perhatian serius beberapa tahun lalu.
Pada 2021, jumlah anak stunting tercatat sebanyak 34 anak dan menjadi yang tertinggi di Kecamatan Penjaringan saat itu.
Jumlah tersebut kemudian meningkat pada 2022 hingga mencapai lebih dari 90 anak.
"Dulu stunting kita paling tinggi se-Kecamatan Penjaringan," katanya.
Situasi tersebut mendorong berbagai pihak mencari strategi intervensi yang lebih efektif.
Salah satunya melalui pemanfaatan tulang ikan kakap merah yang banyak ditemukan sebagai limbah industri pengolahan ikan di kawasan Muara Angke.
Mira mengatakan penelitian terhadap tulang ikan kakap merah sebenarnya sudah dilakukan sejak 2015.
Hasil penelitian menunjukkan kandungan kalsium dalam bahan tersebut cukup tinggi.
Penelitian kemudian dilanjutkan dengan pengujian laboratorium yang menunjukkan tepung tulang ikan kakap merah mengandung kalsium, fosfor, selenium, dan protein dalam jumlah signifikan.
Tepung tersebut kemudian dicampurkan ke dalam berbagai produk frozen food seperti nugget dan dimsum dengan komposisi sekitar 15 persen dari total bahan utama.
Menurut Mira, penambahan sebanyak 15 persen saja sudah mampu meningkatkan kandungan kalsium dan fosfor hingga sekitar 70 persen angka kecukupan gizi balita.
Selain itu, kandungan selenium meningkat sekitar 30 persen dan protein mencapai sekitar 27 persen.
"Angkanya sangat tinggi dibandingkan produk yang tidak ditambahkan tepung tulang ikan," ujarnya.
Program itu kemudian dijalankan secara berkelanjutan sejak 2022 hingga sekarang.
Hasilnya mulai terlihat dari penurunan jumlah kasus stunting di wilayah pesisir Muara Angke.
Mira mengungkapkan bahwa pada akhir 2025 jumlah anak stunting tercatat sebanyak 59 anak.
Setelah dilakukan intervensi secara intensif, jumlah tersebut turun menjadi 27 anak pada pertengahan 2026.
"Sekarang sudah tinggal 27 anak stunting," katanya.
Menurut Mira, hampir seluruh anak stunting yang ditangani berasal dari kawasan pesisir Muara Angke.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, salah satu penyebab utama adalah rendahnya konsumsi protein pada anak-anak nelayan.
Ironisnya, kondisi itu terjadi di tengah melimpahnya hasil tangkapan ikan.
"Sebagian besar hasil tangkapan dijual untuk kebutuhan ekonomi keluarga, sehingga anak-anak belum tentu mengonsumsi ikan setiap hari," ujarnya.
Selain itu, kawasan Muara Angke juga banyak dihuni pendatang yang datang dengan kondisi gizi anak yang sudah bermasalah sejak awal.
Karena itu, intervensi tidak hanya dilakukan pada anak yang sudah stunting, tetapi juga pada anak yang mulai mengalami penurunan berat badan agar tidak berkembang menjadi stunting.
Upaya tersebut mendapat dukungan dari para kader kesehatan yang selama ini berada di garis depan pelayanan masyarakat.
Salah satunya Nurani, kader Posyandu Balita RW 22 Kelurahan Pluit yang telah bertahun-tahun mendampingi keluarga di kawasan pesisir.
Menurut Nurani, antusiasme warga terhadap pelatihan yang diberikan UI sangat tinggi.
Banyak peserta yang penasaran dengan proses pengolahan tepung dari tulang ikan karena sebelumnya belum pernah mengenal metode tersebut.
"Mereka antusias sekali. Banyak yang penasaran masa iya tulang ikan bisa dijadikan tepung untuk mencegah stunting," katanya.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala apabila masyarakat ingin memproduksi tepung tulang ikan secara mandiri.
Salah satu hambatan terbesar adalah kebutuhan peralatan khusus berupa autoclave yang membutuhkan daya listrik sekitar 3.000 watt.
Kondisi tersebut dinilai sulit dipenuhi sebagian besar warga Muara Angke yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah.
"Kalau untuk produksi sendiri memang masih berat karena alatnya mahal dan listriknya besar," ujarnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, para kader terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi anak.
Melalui Posyandu, kader secara rutin mengingatkan orang tua agar memberikan makanan bergizi kepada anak, tidak bergantung pada makanan instan, serta memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Selain itu, komunitas kesehatan di wilayah tersebut juga menyelenggarakan kelas edukasi seperti Obrolan Masalah Gizi (OMG) bagi ibu hamil dan keluarga yang memiliki balita.
Menurut Nurani, perlahan kesadaran masyarakat mulai meningkat.
Semakin banyak ibu muda yang datang ke Posyandu dan menunjukkan pemahaman lebih baik mengenai ASI, makanan pendamping ASI, serta pentingnya makanan bergizi bagi anak.
Ke depan, ia berharap program seperti yang dilakukan UI dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak warga.
"Harapan saya Pluit bisa bebas stunting dan perekonomian warga juga meningkat melalui pengetahuan yang didapat dari program ini," katanya.
Ia juga berharap semakin banyak pihak, baik pemerintah maupun dunia usaha, yang tergerak memberikan dukungan permodalan sehingga masyarakat dapat mengembangkan usaha berbasis produk pangan bergizi dari tepung tulang ikan kakap merah.
Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, pemanfaatan limbah tulang ikan kakap merah di Muara Angke kini tidak hanya dipandang sebagai inovasi kesehatan.
Lebih dari itu, program tersebut mulai dilihat sebagai model pemberdayaan masyarakat yang menghubungkan upaya pencegahan stunting dengan penguatan ekonomi keluarga pesisir.
Baca juga: KODE Cuci Gudang: Persib Lepas Sosok Penyumbang 2 Juara, Rumor Bintang Asing Persija Didepak STY
Baca juga: PWI Jaya Gandeng Bank Jakarta, Literasi Keuangan Jadi Kategori Baru di LKTJ MH Thamrin 2026
Baca juga: Warga Tolak Pembongkaran Sekretariat RW01 Cikini demi SPPG, Ketua RT: Tidak Dibongkar dan Digusur