TRIBUNBATAM.id - Persaingan bisnis kuliner khas Yogyakarta, khususnya bakpia, kini semakin ketat.
Tidak hanya bersaing dengan sesama perajin lokal, para pelaku usaha kini harus berhadapan dengan maraknya produk bakpia tiruan yang beredar di pasaran.
Tantangan ini dirasakan langsung oleh Joni Purwantoro, pemilik usaha Bakpia Pathuk Fadila.
Meski kompetisi kian sengit ditambah kehadiran bakpia ‘abal-abal’, Joni mengaku tidak gentar untuk terus mempertahankan bisnisnya.
"Tapi yang merusak bakpia sekarang itu pemain dari luar, jadi bukan bakpia dibilang bakpia, misalnya roti dibilang bakpia," tutur Joni Purwantoro, Kamis (28/5/2026).
Ketatnya persaingan ini terbukti membuat beberapa anggota paguyuban penjual bakpia mulai gulung tikar.
Banyak dari mereka yang kesulitan bersaing karena tidak memiliki strategi penjualan yang matang. Bagi Joni, mampu bertahan di situasi seperti ini sudah menjadi pencapaian tersendiri.
"Jumlah penjualan stabil itu sudah bagus, ibaratnya kita masih bertahan saja sudah bagus. Total dari 20 anggota saya, yang sudah tidak usaha bakpia ada 5," kata Joni Purwantoro.
"Jadi mereka (yang berhenti jualan bakpia) istilahnya pokoke payu (penting laku) tapi tidak menjaga kualitas akhirnya orang tidak balik," tambahnya.
Jaga Kualitas dan Trik Tester Gratis
Sejak merintis Bakpia Pathuk Fadila pada tahun 2009, Joni selalu memprioritaskan kualitas rasa sebagai pilar utama bisnisnya.
Konsistensi inilah yang membuat usahanya tetap memiliki pelanggan tetap hingga saat ini.
Menariknya, sebelum sukses seperti sekarang, Joni merintis usaha ini sambil bekerja sebagai pegawai bank.
Kala itu, ia memiliki trik andalan untuk memikat hati calon pembeli, yaitu dengan membagikan bakpia gratis sebagai tester.
“Kalau saya kerja saya bawa bakpia biar teman-teman mengicipi, hingga akhirnya mereka bisa jadi pelanggan," jelas Joni Purwantoro.
Berkat strategi tersebut, penjualan Bakpia Pathuk Fadila terus melonjak.
Kesuksesan ini bahkan membawa Joni merambah ke bisnis akomodasi dengan mendirikan Homestay Omah Lor pada tahun 2018.
Penginapan ini berlokasi di sekitar kediamannya di Jalan Purwodiningratan, Ngampilan, Kota Yogyakarta.
Digitalisasi untuk Manjakan Gen Z dan Milenial
Mengikuti perkembangan zaman, pria berusia 52 tahun ini mulai menerapkan digitalisasi pada kedua usahanya.
Salah satu langkah strategis yang diambil adalah menyediakan metode pembayaran non-tunai menggunakan QRIS BRI.
Langkah ini terbukti sangat efektif, terutama bagi para tamu yang menginap di homestay miliknya.
Di sana, Joni kembali menerapkan trik andalannya yaitu dengan menyediakan tiga buah bakpia hangat gratis di setiap kamar.
Trik ini sukses membuat para tamu kepincut dan langsung memesan bakpia lewat resepsionis menggunakan QRIS BRI.
"Jadi saya masuk homestay dulu saya kasih free bakpia, 'ini bakpianya bikin sendiri mbak', iya kalau mau pesan silakan," tutur Joni.
Penyediaan QRIS BRI ini menjadi magnet kuat bagi segmen pasar Generasi Milenial (kelahiran 1981-1996) dan Gen Z (kelahiran 1997-2012) yang mendominasi kunjungan di homestay miliknya.
"Sekarang sepuh dan anak muda-muda minta bayar pakai QRIS, kebetulan dari BRI membuatkan untuk QRIS," ucap Joni Purwantoro.
Keuntungan Berlipat
Melalui integrasi transaksi tunai dan nontunai (QRIS BRI), omzet Bakpia Pathuk Fadila pun meningkat drastis.
Transaksi paling besar sering kali datang dari tamu homestay yang memesan dalam jumlah banyak untuk oleh-oleh.
Kemudahan pembayaran digital ini membuat pesanan yang datang tidak lagi mengecer, melainkan dalam skala besar untuk rombongan wisata.
Joni menawarkan paket miring seperti Rp 100 ribu dapat 11 hingga 12 boks Bakpia Pathuk Fadila. Boks kecil isi 10 butir dibanderol Rp 10.000, sedangkan boks besar isi 20 butir seharga Rp 26.000.
"Bisa satu orang pesan tapi untuk satu bus, bisa sampai 100 hingga 200 kardus," ujar Joni.
Selain itu, Joni Purwantoro juga aktif di sosial media seperti Instagram dan TikTok untuk promosi Bakpia Fadila serta homestay miliknya.
"Karena sekarang sudah ada di TikTok dan Instagram bisa promosi lebih gampang, tutupnya.
Digitalisasi dan Inovasi
Tantangan bagi Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) saat ini semakin kompleks.
Menurut Pengamat Ekonomi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Semarang, Fredianaika Istanti, tantangan utama yang dihadapi UMKM meliputi inovasi, riset pasar, hingga adaptasi teknologi.
Kehadiran QRIS telah mengubah pola belanja masyarakat dari konvensional menjadi serbadigital.
Perubahan ini menuntut kemampuan pemasaran digital yang mumpuni, yang sering kali menjadi kendala tersendiri bagi para pelaku UMKM berusia senior.
Selain gagap teknologi, masalah legalitas seperti kepemilikan Nomor Induk Berusaha (NIB) juga masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.
"UMKM harus terdaftar di dinas koperasi serta aktif mengikuti sosialisasi terkait keuangan," ujar Fredianaika.
Melalui keterlibatan aktif dalam organisasi atau paguyuban di tingkat kecamatan, pelaku UMKM dapat lebih mudah mengakses bantuan finansial dari pemerintah, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun pembiayaan kelompok.
“Pelaku usaha wajib jeli melihat kebutuhan masyarakat serta berani melakukan inovasi, termasuk digitalisasi. Karena sekarang serba digital mulai dari promosi hingga transaksi pembelian,” tuturnya.
“Khusus penggunaan QRIS tidak hanya membuat bisnis terlihat lebih modern, tetapi juga membawa dampak operasional yang signifikan. Metode pembayaran QRIS sangat membantu dalam pembukuan karena setiap transaksi otomatis tercatat secara real-time, meminimalisir risiko kesalahan manual.”
Melalui kombinasi antara legalitas yang jelas, keaktifan berkomunitas, inovasi produk, dan pemanfaatan teknologi finansial, UMKM Indonesia diharapkan mampu beradaptasi dan naik kelas di tengah ketatnya arus ekonomi digital.
(TribunBatam.id/Khistian Tauqid)