Oknum Anggota DPRD TTU Bukan Sekali Intimidasi Nakes, Dokter Icha Pakaenoni Korban Terakhir
Apolonia Matilde June 28, 2026 06:19 AM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Salah satu dari tiga oknum anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU) ternyata bukan sekali melakukan intimidasi terhadap tenaga kesehatan (nakes).  Terakhir, korbannya adalah dokter Icha Pakaenoni, yang harus meregang nyawa. 

Fabi Banase, keluarga dari Icha Pakaenoni menjelaskan, tiga anggota DPRD TTU itu diduga melakukan intimidasi dan menyebabkan dokter Icha Pakaenoni depresi berat. Kasus itu terjadi pada 16 Juni 2026 lalu di Rumah Sakit Leona TTU. 

Meski membantah, Fabi Banase mengaku informasi yang ia peroleh dari sejumlah tenaga kesehatan di TTU, setidaknya ada tujuh kasus dugaan intimidasi yang dilakukan oleh salah satu oknum anggota DPRD TTU itu.

"Tiga anggota DPRD ini menyangkal bahwa mereka tidak membentak. Mereka hanya nada tinggi. Nada tinggi dan bentak itu seperti apa," kata Fabi, Sabtu (27/6/2026) di rumah duka, Perumahan RSS Baumata Kabupaten Kupang. 

Saat kejadian, dokter Icha menangani pasien gigitan ular. Sebagai dokter umum, Icha harus berkonsultasi dengan dokter spesialis yang khusus menangani persoalan gigitan ular. Di Indonesia, hanya satu dokter yang memiliki kompetensi dalam bidang ini. 

Namun, tiga anggota DPRD TTU itu datang dan memarahi dokter Icha. Bahkan, satu diantaranya mengklaim dirinya sangat memahami standar penanganan pasien gigitan ular. DPRD lainnya menuding dokter Icha memberikan obat yang bukan seharusnya. 

"Lalu muncullah NT dari PKB sambil pukul dada, dia ini anggota DPRD Komisi III yang berhubungan langsung dengan kesehatan. Tanda mukanya akan ketemu dimana," kata Fabi mengulang pernyataan saksi di lokasi kejadian. 

Menurut Fabi, keterangan saksi di RS Leona dua anggota DPRD TTU itu juga berbau alkohol. Keluarga telah mendapat foto ketika kedua oknum DPRD itu marah-marah di ruang IGD RS Leona TTU. 

"Tiga anggota DPRD ini mereka sangat kejam membunuh anak kami," katanya. 

Fabi mendesak pimpinan DPRD TTU maupun partai politik dari tiga anggota DPRD itu memberikan sikap tegas. Jika tidak, keluarga akan membuat tindakan sendiri. 

Menurut Fabi, perlu ada aturan daerah yang memberi perlindungan terhadap tenaga kesehatan. Sehingga, penguasa lokal tidak semena-mena melakukan tindakan diluar kewajaran. 

"Dua anggota DPRD ini menyangkal, mereka hanya nada tinggi katanya. Kasus dokter Icha ini semacam akumulasi. Sudah ada 7 kejadian, dilakukan oleh salah satu oknum. Oknum itu DPRD, yang dia pukul dada bahwa dia Komisi III," kata Fabi. (fan)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.