Heboh Tambang Emas di Bangka Tengah Setelah Timah Habis, Simak Fakta dari Pak Kades Melabun
Dedy Qurniawan June 28, 2026 01:03 PM

BANGKAPOS.COM - Temuan kandungan emas di kawasan perkebunan kelapa sawit yang berada di sekitar wilayah Desa Melabun dan Desa Sarang Mandi, Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah, belakangan ini menghebohkan publik.

Kabar mengenai keberadaan logam mulia di tengah lesunya hasil tambang timah tersebut memicu kedatangan sejumlah warga ke lokasi demi mencoba peruntungan mereka dalam beberapa bulan terakhir.

Kepala Desa Melabun, Yusup, membenarkan adanya aktivitas penambangan yang berhasil menemukan kandungan emas di kawasan perkebunan tersebut.

Menurut penjelasan Yusup, informasi mengenai keberadaan kandungan emas sebenarnya bukan merupakan sebuah hal yang benar-benar baru bagi masyarakat setempat.

"Kalau saya pribadi tidak terlalu kaget. Tahun 2021 juga sempat viral soal adanya kandungan emas di wilayah sekitar sini. Jadi memang ada dugaan kandungan emas di daerah ini," kata Yusup kepada Bangkapos, Rabu (25/6/2026).

Namun, titik lokasi yang saat ini tengah ramai diperbincangkan oleh masyarakat luas justru berada di luar dari perkiraan semula.

"Hanya saja lokasi yang sekarang ditemukan ini berada di luar prediksi. Biasanya orang menduga ada di dekat aliran sungai, tetapi yang sekarang ini justru ditemukan di daerah bukit," ujarnya.

Lokasi penambangan yang dimaksud tersebut terletak kurang lebih sekitar lima kilometer dari wilayah pemukiman Desa Melabun.

Meskipun akses jalan utama menuju ke lokasi lebih banyak melewati Desa Melabun dengan memasuki area PT Mas Sari Jaya, secara administrasi kawasan tersebut sebenarnya masuk ke dalam wilayah Desa Sarang Mandi.

"Kalau dari desa sekitar lima kilometer masuk ke dalam. Jalannya melalui jalan PT Mas Sari Jaya. Orang banyak masuk lewat Melabun, tetapi wilayah administrasi mereka menambang lebih dekat ke Sarang Mandi," katanya.

Luas dari lahan perkebunan kelapa sawit milik PT Mas Sari Jaya itu sendiri memang sangat lapang hingga mencakup wilayah tiga desa di sekitarnya.

“Kalo untuk di desa Melabun sendiri kurang lebih sekitar 400 hektar untuk wilayah desa kami sisanya desa Sarang Mandi, Keretak dengan total kalo gak salah 600 hektar,” katanya.

Menurut penuturan Yusup, lokasi penambangan emas itu berada di dalam kawasan perkebunan sawit perusahaan yang hanya dapat diakses melalui jalanan tanah merah.

"Jalannya cukup jauh masuk ke dalam. Kurang lebih lima kilometer dari jalan utama dan berada di sekitar kawasan kebun sawit perusahaan," ujarnya.

Baca juga: 0,1 Gram Emas per Kilogram Timah, Penambang Bangka Tengah Temukan Kandungan Emas

Yusup menerangkan bahwa aktivitas pencarian emas pada awalnya sama sekali tidak dilakukan secara sengaja atau dikhususkan.

Para pekerja tambang pada mulanya hanya mencari komoditas timah seperti yang selama ini biasa dilakukan oleh mayoritas masyarakat di Bangka Belitung.

"Awalnya berbarengan dengan timah. Mereka menambang timah seperti biasa," katanya.

Namun, seiring dengan semakin menurunnya hasil perolehan timah, para penambang mulai melirik potensi kandungan mineral lain yang tidak sengaja ditemukan di lokasi tersebut.

"Kalau hanya mengandalkan timah sekarang agak sulit untuk menutup biaya operasional. Karena itu ketika ditemukan kandungan lain, mereka mencoba memanfaatkannya juga," ujarnya.

Yusup juga memaparkan bahwa kandungan emas yang diperoleh tidak serta-merta langsung terlihat jelas saat proses penggalian tambang berlangsung.

Seluruh material tanah dan batuan hasil tambang harus melewati beberapa tahapan pengolahan khusus terlebih dahulu sebelum akhirnya kadar emasnya dapat terlihat.

"Kalau dilihat sekilas memang seperti batu biasa. Setelah diproses dan dipanaskan baru kelihatan. Ada yang berbentuk lempengan kecil-kecil, ada juga yang seperti butiran," katanya.

Ia melanjutkan bahwa material yang diduga kuat mengandung emas tersebut kemudian langsung dijual kepada pihak pembeli yang sengaja datang ke lokasi penambangan.

"Memang ada pembelinya. Kalau menurut pembeli itu emas. Tidak mungkin juga dibeli kalau bukan emas," ujarnya.

Ada yang Dapat Hingga 4 Gram

Meski sempat memicu euforia yang besar di kalangan warga, Yusup menyebutkan bahwa hasil yang didapatkan oleh para penambang tidak selalu berlimpah dan cenderung berubah-ubah.

"Berdasarkan informasi yang saya terima, ada yang dapat sekitar satu gram dalam sehari," katanya.

Baben, menurut penuturan Yusup, sempat beredar kabar mengenai adanya oknum penambang yang berhasil memperoleh hasil jauh lebih besar.

"Ada juga kabarnya sampai empat gram. Tetapi itu tidak setiap hari dan tidak semua orang mendapatkannya," ujarnya.

Pada saat aktivitas berburu logam mulia tersebut sedang ramai-ramainya, harga jual emas yang diperoleh para penambang berada di kisaran angka Rp1,8 juta per gram.

"Waktu itu informasinya dijual sekitar Rp1,8 juta per gram. Harga itu ikut perkembangan harga emas juga," ujarnya.

Empat Kelompok Penambang

Yusup menjelaskan bahwa jumlah penambang yang beroperasi di dalam area perkebunan PT Mas Sari Jaya sebenarnya tidak terlalu banyak.

Ia memperkirakan hanya ada sekitar empat kelompok atau peron saja yang terpantau aktif melakukan aktivitas pekerjaan di sana.

"Kalau kelompoknya sekitar empat peron saja, memang lokasi yang mereka tambang di perkebunan kelapa sawit PT Mas Sari Jaya jadi mereka melakukan kegiatan ilegal dan sudah ditertibkan oleh pihak yang berwenang,” katanya.

Meskipun jumlah kelompoknya terbatas, satu peron atau kelompok kerja ternyata bisa menampung jumlah pekerja yang cukup banyak.

"Dalam satu peron bisa ada sembilan orang, sepuluh orang, bahkan sampai lima belas orang. Makanya terlihat ramai," ujarnya.

Para penambang tersebut bekerja dengan menggunakan mesin sederhana serta menerapkan sistem penyemprotan material tanah dengan bantuan karpet penampung.

"Mereka memakai sistem karpet. Material yang disemprot akan tertahan di karpet, kemudian dipisahkan lagi untuk mencari kandungan yang bernilai," katanya.

Yusup menambahkan bahwa kedalaman lubang galian yang dibuat oleh para penambang emas ini juga tergolong tidak terlalu dalam.

"Paling sekitar satu sampai dua meter saja. Kalau dibandingkan tambang timah, ini jauh lebih dangkal. Tambang timah kadang bisa sampai tujuh meter ke bawah," katanya.

Walau demikian, aktivitas penggalian tersebut dipastikan tetap membawa dampak buruk terhadap kondisi fisik lahan perkebunan kelapa sawit.

"Kalau dibilang tidak ada dampak tentu ada. Karena ini berada di kawasan kebun sawit perusahaan, pasti ada tanaman yang terganggu," ujarnya.

Yusup menguraikan bahwa jalannya aktivitas penambangan emas ini sangat bergantung pada ketersediaan pasokan air di lokasi.

Oleh karena keterbatasan air tersebut, para penambang tidak dapat melakukan pekerjaan mereka sepanjang hari penuh.

"Kalau yang saya dengar mereka bekerja sekitar enam sampai tujuh jam sehari," katanya.

Faktor ketersediaan air memegang peranan paling utama dalam mendukung kelancaran proses penyemprotan material tanah hasil tambang.

"Mereka menunggu air cukup dulu untuk menyemprot. Jadi tidak bisa kerja terus dari pagi sampai malam," ujarnya.

Mengingat lokasi penambangan berada di dalam kawasan milik korporasi, aktivitas tersebut juga seringkali dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh warga.

"Ya mereka bekerja sambil melihat situasi juga. Karena lokasi itu berada di kawasan perusahaan," katanya.

Seiring dengan semakin ramainya eskalasi aktivitas di lokasi, pihak manajemen perusahaan akhirnya mengambil tindakan penertiban bersama aparat keamanan.

"Karena berada di lahan perusahaan, akhirnya dilakukan penertiban bersama aparat," ujar Yusup.

Ia mengungkapkan bahwa terdapat beberapa orang penambang yang sempat diamankan oleh petugas saat proses penertiban tersebut berlangsung.

"Setahu saya ada yang diamankan. Tetapi kebanyakan masyarakat biasa yang mencoba mencari tambahan penghasilan," katanya.

Menurut keterangan Yusup, para penambang yang mendatangi lokasi tersebut sesungguhnya tidak hanya berasal dari warga Desa Melabun saja.

"Penambangnya campur. Ada dari Melabun, Sarang Mandi, Sungai Selan sampai Keretak," ujarnya.

Meskipun sempat viral dan menyedot perhatian besar dari masyarakat, Yusup menegaskan bahwa fenomena tambang emas ini sama sekali tidak mengubah mata pencaharian utama warga Desa Melabun.

"Mayoritas masyarakat tetap hidup dari kebun sawit," katanya.

Yusup menjabarkan bahwa sekitar 90 persen warga desa sampai saat ini masih menggantungkan roda ekonomi keluarga mereka pada sektor perkebunan.

"Kalau dihitung, sekitar 90 persen masyarakat bekerja di sektor kebun sawit. Boleh dikatakan sekitar 70 persen warga memiliki kebun sendiri. Ada juga yang bekerja sebagai buruh harian di kebun," katanya.

Oleh sebab itu, Yusup menilai fenomena berburu emas ini lebih tepat dipandang sebagai bentuk upaya spontan sebagian masyarakat untuk memperoleh penghasilan tambahan di tengah merosotnya hasil timah.

"Saya melihat ini lebih kepada masyarakat yang mencari tambahan penghasilan. Ketika timah tidak lagi seperti dulu dan ada informasi soal emas, tentu banyak yang tertarik mencoba," ujarnya.

Meski demikian, ia kembali menegaskan bahwa sendi kehidupan ekonomi masyarakat Melabun hingga detik ini masih bertumpu kuat pada sektor perkebunan kelapa sawit.

"Sampai sekarang yang menjadi andalan masyarakat tetap kebun sawit. Tambang emas ini hanya fenomena yang sempat ramai beberapa waktu terakhir," tutup Yusup. (bangkapos.com/ Erlangga)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.