Asal Usul Julukan Pasar Maling Semarang, Benarkah Barang yang Dijual Hasil Curian
khoirul muzaki June 29, 2026 10:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Deretan pakaian, sepatu, tas, hingga barang-barang antik memenuhi lapak-lapak di New PM, kawasan Pasar Johar, Kota Semarang.


Nama "Pasar Maling" yang melekat sejak puluhan tahun lalu mungkin terdengar nyeleneh bagi orang yang baru pertama kali mendengarnya.

Namun di balik nama itu, tersimpan sejarah panjang tentang perdagangan barang murah dan budaya unik yang masih bertahan hingga kini.


"Awal mulanya pasar maling di sini sejak tahun 1959," tutur Tokoh Pasar Maling (PM) Johar, Yuli Eko (59) ditemui Tribun Jateng di New PM yang berada di lantai 3 Johar Selatan, Pasar Johar, Semarang Tengah, Semarang, Jumat (26/6/2026).


Menurutnya, sebutan Pasar Maling bukan karena para pedagang menjual barang hasil kejahatan. Julukan itu muncul lantaran sejak akhir 1950-an, di mana banyak pedagang menjual barang-barang dengan harga jauh lebih murah dibanding toko-toko pada masa itu.


Saat itu, kata dia, banyak barang berasal dari pelabuhan, seperti produk impor yang masuk melalui Singapura. Para pedagang mengambil keuntungan tipis sehingga harga jual menjadi lebih rendah.


"Waktu itu kita memang enggak matok harga mahal. Harganya yang murah-murah," katanya.


Eko menceritakan, dirinya saat itu mengikuti jejak ayahnya yang sudah berdagang tahun 1959.


Ia menyebutkan, di masa-masa itu aktivitas berdagang juga berlangsung hingga malam hari di kawasan depan kawasan Kanjengan.


Dengan penerangan lampu petromak, pakaian digantung berjejer sehingga suasananya tampak remang-remang.


"Lah di situ kadang-kadang, maaf, jualnya kan murah, peteng-peteng 'gelap-gelap' kok kayak barang malingan," ujarnya menggambarkan suasana saat itu.


Dari situlah, menurut Eko, masyarakat kemudian menyebut kawasan tersebut sebagai Pasar Maling.


"Padahal enggak, barangnya juga enggak murah-murah amat. Cuma kita memang jualnya enggak ngambil untung banyak," katanya.


Di masa itu belum banyak pusat perbelanjaan modern.

Toko-toko yang ada dikenal menjual barang dengan harga relatif tinggi, sehingga Pasar Maling menjadi alternatif masyarakat untuk mencari produk bermerek dengan harga lebih terjangkau.


Selain menawarkan harga murah, para pedagang juga memiliki cara tersendiri memperoleh barang dagangan.

Baca juga: Banjarnegara Geger, Oknum Pengasuh Ponpes Cabuli Empat Santriwati


Sebagian merupakan stok toko yang tidak habis terjual, barang dengan ukuran tertentu, hingga produk yang memiliki cacat ringan.


Barang-barang tersebut kemudian diperbaiki sebelum dijual kembali.


"Kalau misalnya resletingnya rusak ya kita dandake 'perbaiki' lagi. Kalau misalnya kancingnya potel 'lepas' ya kita ganti lagi. Kalau kerahnya kotor, kita cuci. Lah itu (yang membuat) harganya murah," kata Eko.


*Bahasa rahasia antar pedagang*


Tak hanya penamaan pasar yang terkesan unik. Para pedagang juga menggunakan bahasa slang dengan sesama pedagang.


Bahasa kode tersebut dipakai antarpedagang untuk menyebut angka sehingga pembeli tidak mengetahui harga modal maupun keuntungan yang diambil pedagang.


"Dan kita memang kadang-kadang tuh kreatif, ada bahasa sendiri kita tuh," ujar Eko.


Dalam bahasa tersebut, kata Eko, satu disebut rojo, dua kirik, tiga gajah, empat gendero, lima jaran, enam kantong, tujuh pacul, delapan kocomoto, sembilan kantong walik, sedangkan sepuluh kembali menggunakan rojo.


Kata-kata itu kemudian dirangkai menjadi nominal tertentu. Misalnya, kirik jaran berarti angka dua dan lima atau Rp25.000. Sementara gendero jaran berarti empat dan lima yang bisa dimaknai Rp4.500 atau Rp45.000, tergantung konteks transaksi.


"Misalkan celana jenengan harga berapa itu kan 45. Piro regane niki? Gendero jaran. Gendero jaran cilik apa gede? Kalau yang kecil itu R4.500, kalau besar itu Rp45.000," ujar Eko.


Bahasa tersebut lazim terdengar ketika pedagang saling bertanya mengenai harga kulakan atau modal barang.


"Misalkan jenengan tanya, 'Iki kulakane piro?' Lah saya bilang, 'kirik jaran'. Berarti Rp25.000. Dolen 'jual saja' gajah. Aku untung jaran," katanya.


Dalam percakapan itu, gajah berarti tiga atau Rp30.000, sedangkan jaran menunjukkan keuntungan Rp5.000. Pembeli yang tidak memahami kode tersebut hanya mendengar percakapan biasa, sementara sesama pedagang langsung mengetahui harga modal dan margin yang diambil.


"Nah, pembeli ini enggak tahu itu bahasa apa. Kalau pembeli ini tahu pasti kan, 'Mas tak bayar sakmene ah, bathi 2.500'," ujarnya sambil tertawa.


Menurut Eko, penggunaan bahasa sandi itu bukan untuk menipu pembeli, melainkan menjaga informasi harga pokok antarpedagang. Dengan begitu, pembeli tidak langsung mengetahui berapa keuntungan yang diperoleh penjual.


"Itu bahasa kita untuk yang tahu cuma kita. Untuk melindungi, ya kita bahasa kita kan harus pakai sesuatu yang kodefikasi," katanya.


Bahasa tersebut, lanjut Eko, perlahan juga dipelajari pedagang dari pasar lain. Ia mengaku pernah mendengar kode yang sama digunakan hingga luar Kota Semarang.


"Aku kemarin ke Bandung waktu pulang aku ketawa sendiri. Sing nyiptake kita kok, kita dengar 'Pira iki regane? Ning Bandung regane rojo jaran," ujarnya.


Tak hanya kode angka, beberapa jenis barang juga memiliki istilah tersendiri. Menurut Eko, pedagang memiliki sebutan khusus untuk pakaian, kacamata, hingga jenis barang tertentu yang dipahami oleh komunitas mereka.


"Jadi bahasa-bahasa aneh itu kadang-kadang dipelajari orang. Langsung dia, 'oh bahasa Pasar Maling'," katanya.


*Bertahan setelah kebakaran*


Perjalanan Pasar Maling tidak selalu mulus. Eko mengatakan, kebakaran Pasar Johar pada 2015 menjadi pukulan berat bagi para pedagang.


"Hancur. Barang kita habis semuanya," kenangnya.


Menurutnya, banyak pedagang kehilangan modal usaha, bahkan menjual rumah untuk kembali memulai usaha.


Meski demikian, Eko mengatakan para pedagang perlahan bangkit dan kembali berdagang. Menurutnya, berbagai upaya pengelolaan pasar juga dilakukan, mulai dari kebersihan, penataan lapak, hingga peningkatan kenyamanan pengunjung.


Selain itu, juga upaya menghidupkan pasar dilakukan seperti bazar, program promosi, dan kegiatan komunitas pedagang yang sesekali digelar untuk menarik pengunjung.


"Kalau ada event gitu kan pasar jadi rame lagi, pembeli datang, kita juga semangat dagang," ujar Eko.


Namun demikian, para pedagang berharap Pasar Maling Johar tidak hanya bergantung pada kegiatan-kegiatan tertentu, tetapi juga memiliki daya hidup yang stabil dari aktivitas sehari-hari. Eko menilai keberlangsungan pasar ditentukan oleh banyak faktor, tidak hanya keramaian sesaat.


"Harapannya ya pasar ini tetap hidup, pembeli ramai, dan kita bisa terus dagang dengan tenang. Kalau bisa ada event-event terus, biar orang datang, pasar ini nggak sepi," tambahnya.


Sementara itu, di tengah perubahan pola perdagangan, para pedagang berharap Pasar Maling Johar tetap berfungsi sebagai tempat transaksi yang berjalan baik.


Ia juga menilai pentingnya dukungan terhadap fasilitas pasar seperti kebersihan, kenyamanan, penataan ruang, serta adaptasi terhadap perkembangan sistem perdagangan agar aktivitas jual beli tetap berlangsung secara berkelanjutan.


"Harapannya ya pasar ini tetap hidup, pembeli ramai, dan kita bisa terus dagang dengan tenang. Yang penting rezeki lancar, pasar juga makin tertata," imbuhnya.


Asal-usul Julukan Pasar Maling


Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Semarang menyebut kawasan Pasar Maling di Kompleks Pasar Johar telah lama dikenal masyarakat sebagai pusat penjualan barang-barang dengan harga relatif terjangkau, mulai dari pakaian, sepatu, tas, hingga produk bermerek bekas.


Kepala Bidang Penataan dan Penetapan Dinas Perdagangan Kota Semarang, Bagas Yuwono Ario Negoro mengatakan, sebelum revitalisasi Pasar Johar, kawasan tersebut memang dikenal luas sebagai Pasar Maling.


"Zaman dulu itu sebelum Johar itu direvitalisasi memang dari Pasar Johar itu ada namanya Pasar Yaik dan Pasar Maling," katanya.


Menurut Bagas, pada masanya kawasan tersebut menjadi tujuan masyarakat yang mencari barang bermerek dengan harga lebih murah dibanding toko pada umumnya.


"Pasar Maling itu kan dulu terkenal sekali dengan adanya barang-barang branded atau barang-barang yang ada di mungkin barang-barang second, kados kalau zaman sekarang namanya thrifting dan lain-lain. Kalau yang sepatu-sepatu itu ada yang sepatu yang nuwun sewu ada yang KW 1, KW 2, itu ada semua komplit di situ. Dan itu lebih murah. Itu (dijuluki)nya Pasar Maling," ujarnya.


Terkait asal-usul penamaan Pasar Maling, Bagas mengatakan terdapat berbagai cerita yang berkembang di masyarakat. Di antaranya berkaitan dengan lokasi pasar yang berada di sekitar Masjid Kauman.


"Tapi ada yang omongan karena dekat masjid, sendalnya itu hilang biasanya dijual di Pasar Maling. Jadinya akhirnya jadinya Pasar Maling. Itu perumpamaannya, karena mungkin enggak tahu ya ini dari sejarahnya dulu seperti itu. Terus akhirnya kebawa sampai sekarang," katanya.


Meski demikian, ia menyebut cerita tersebut merupakan salah satu versi yang berkembang di masyarakat dan bukan penjelasan resmi mengenai asal-usul nama Pasar Maling.


Seiring penataan kembali kawasan Pasar Johar, Pemerintah Kota Semarang memilih menggunakan nama New PM sebagai identitas baru kawasan perdagangan tersebut.


"Dan kami dari Disdag itu akhirnya menjadikan namanya itu menjadi brand tapi bukan namanya Pasar Maling tapi New PM. New PM itu kan ada beberapa nama bisa jadi Pasar Murah, Pasar Meriah kan gitu. Jadi kita enggak harus ngasih nama Pasar Maling nggih, karena kan identik dengan keburukan nama Pasar Maling itu zaman sekarang nggih. Jadinya mungkin kita pakainya New PM aja," ujarnya.


Bagas menjelaskan, keberadaan Pasar Maling di kawasan Johar pada awalnya terbentuk secara alami mengikuti perkembangan aktivitas perdagangan. Saat itu belum ada sistem zonasi komoditas seperti yang diterapkan saat ini.


"Kalau masuk Pasar Maling itu karena mungkin langsung dari ekosistem dari masyarakat, karena memang itu belum ada zonasi, belum ada mana zonasi sepatu atau buah dan lain, tapi itu langsung mekanismenya ekosistem secara alami dari pedagang sendiri," katanya.


Ia juga mengingat, sebelum kebakaran Pasar Johar pada 2015, para pedagang Pasar Maling menempati lantai dua dan tiga kompleks pasar.


"Pasar Maling sendiri dulunya di Pasar Johar itu ada di lantai 2 dan 3. Waktu zaman saya kecil itu saya belinya di situ, di lantai 2 dan 3 itu," ujarnya.


Pasca penataan kawasan, kata dia, Disdag Kota Semarang menyatakan melakukan berbagai upaya untuk memperkenalkan New PM kepada masyarakat.


Menurut Bagas, pembukaan kawasan tersebut dilakukan secara bertahap melalui konsep soft opening yang disertai sejumlah kegiatan.


Ia mengatakan, sejumlah kegiatan telah digelar untuk menarik kunjungan masyarakat, mulai dari pelayanan kesehatan gratis hingga kegiatan komunitas kreatif.


"Kita sudah melaksanakan kegiatan. Yang pertama kemarin Bu Wali sudah hadir pengobatan gratis. Yang kedua ada Bu Wali datang itu pengobatan gratis lagi. Terus yang ketiga kita ada namanya Kresemas, Kreator Semarang kemarin mengadakan kegiatan di Johar Selatan. Ada penari tradisional dan lain-lain. Kita sudah melakukan promosi-promosi lah seperti itu," ujarnya.


Sementara itu, Bagas mengakui upaya menghidupkan kembali kawasan perdagangan juga menghadapi berbagai tantangan. Di antaranya terkait penyesuaian anggaran pemerintah.


"Karena ada beberapa hal yang mungkin diefisiensi dan lainnya kan berdampak sekali ya," imbuhnya. (idy)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.